Sudah ribuan tahun aku berdiri di puncak gunung ini. Hari-hariku selalu kunikmati dengan memandang hamparan Laut Asin di hadapanku dan menatap lembah gersang yang membatasinya, di mana dahulu berdiri sebuah kota yang indah dengan rumah-rumah penduduknya tersebar di antara padang rumput dan pepohonan hijau. Aku masih ingat, sebuah pulau dahulu pernah mengapung di Laut ini, tempat di mana aku, suami dan kedua anak perempuanku tinggal beberapa tahun lamanya di sebuah rumah kecil, sebelum semuanya lenyap dalam sekejap mata.
Kini aku seorang diri. Bahkan tiada makhluk yang menemaniku di puncak gunung ini. Suami dan kedua anak perempuanku sudah lama meninggalkanku di tempat ini. Tiada lagi kabar dari mereka sejak peristiwa itu. Dalam kesepian aku menyesali perbuatanku. Jika saja aku tidak mengabaikan perintah kedua orang pria itu, aku tidak akan mengalami nasib seperti ini. Dan pasti aku tidak akan kehilangan suami dan anak-anak perempuanku untuk selama-lamanya.
Masih terpatri di ingatanku bagaimana wajah pria-pria itu yang tiba-tiba saja datang sebagai orang asing di rumah kecil kami. Entah mengapa suamiku menerima kedatangan mereka dengan senang hati, menjamu mereka berdua dengan makanan dan minuman bahkan melindungi mereka ketika beberapa orang kota datang ke rumah kami dengan maksud jahat memaksa kami supaya menyerahkan mereka. Ya. Wajah mereka bersih dan tampan, sampai-sampai kukira mereka datang hendak melamar anak-anak perempuanku yang masih gadis.
Kedua orang pria itu berbicara dengan suara menggelegar, membuat diriku, suamiku dan anak-anakku takut pada setiap ucapan mereka. Apalagi ketika mereka mendesak kami untuk segera pergi keluar dan menjauh dari kota kami yang jahat itu, kami seperti tidak ada pilihan lagi. Sebab kata mereka, mereka akan memusnahkan kota itu sebelum matahari terbit. Maka mereka menyuruh kami lari ke sebuah kota di balik pegunungan ini, berlindung di sana dan melarang kami menoleh ke belakang selama perjalanan.
Hari masih gelap dan matahari waktu itu belumlah menampakkan diri. Tetapi hawa panas mulai terasa ketika aku, suami dan anak-anak perempuanku mendaki pegunungan terjal ini, seolah-olah mendorong kami melupakan lelah dan pegal kaki-kaki ini untuk melangkah setapak demi setapak. Deru suara dentuman terdengar bergemuruh di belakang kami. Kilatan-kilatan cahaya silih berganti menyilaukan pandangan di sekitar kami, membuatku memperlambat langkahku ketika mencapai puncak. “Apapun yang terjadi, jangan menoleh ke belakang!” ucap suamiku menirukan kata-kata kedua orang pria tadi, dan itu adalah kata-kata terakhir yang kudengar daripadanya.
Kuhentikan langkahku. Dengan penasaran kucoba palingkan wajahku. Terhenyak aku melihat pemandangan mengerikan di bawah sana. Api-api turun dari langit membumihanguskan seluruh rumah dan pepohonan. Kota itu telah menjadi lautan api. Jeritan-jeritan kesedihan yang memilukan kudengar sayup-sayup terbawa angin dari orang-orang yang bernasib malang di kota itu. Beruntunglah keluargaku tidak mengalami kemalangan seperti orang-orang jahat itu, batinku.
Ketika kepulan asap dan bau belerang yang menyengat mulai mengganggu pandangan dan pernafasanku, tiba-tiba saja sebuah angin panas menjangkau tubuhku, dan entah mengapa setelah itu kaki, tangan dan kepalaku tidak bisa digerakkan sama sekali. Aku ingin teriak memanggil-manggil nama suamiku agar dia kembali menjemputku dan menolongku di tempat ini, tetapi mulutku pun tidak bisa kugerakkan. Aku membatu di sini, sendiri di puncak gunung ini.
Sudah habis air mataku meratapi nasibku ini. Aku menyesal. Aku sangat menyesal. Aku rindu suami dan anak-anakku. Seandainya aku tidak menoleh ke belakang....
_________________________________________________________
Cerpen ini diikutkan dalam Lomba Cerita Bulanan Kastil Fantasi (April ’12)
(http://www.goodreads.com/topic/show/869236-lomba-cerbul-kasfan-april-12?type=topic#comment_50157414)
SEANDAINYA AKU TIDAK MENOLEH KE BELAKANG....
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment