TENTANG KEBIJAKSANAAN
Aku telah mengabdi kepada sang Terang
sepanjang masa mudaku
Aku telah memberikan jiwaku kepada Bumi
sepanjang hidupku
Siapakah aku sehingga Langit telah memayungiku?
Siapakah aku sehingga Kegelapan enggan meliputiku?
Tetapi inilah aku, seorang yang bijak
Yang kebijaksanaannya dianugerahkan oleh para dewa,
sehingga bolehlah manusia belajar kepadaku
supaya adalah guna anugerah itu
Sebab dari langit yang hampa turun hujan,
dari manakah asalnya?
Seperti itulah kebijaksanaan
Tiada yang tahu dari mana asalnya.
Tetapi Langit memberikannya untuk Bumi
supaya Bumi menumbuhkan buah-buahan,
yang mengenyangkan perut setiap makhluk
Seperti air, itulah kebijaksanaan,
yang memuaskan yang haus dahaga
Seperti cahaya, itulah kebijaksanaan,
yang bersinar menerangi Dunia
Mengusir Kegelapan yang membutakan mata
dan bayang hitam yang menyelimuti malam
Yang menyingkapkan segala rahasi kehidupan
di atas Bumi dan di bawah Langit
Yang mengisi Dunia dengan keajaiban
di sepanjang perjalanan Sang Waktu.
Read more...
SALAM BAGI MANUSIA
Wahai, para pengembara!
Apa kabarmu dalam perjalananmu
pada setiap tapak jalan yang kau lalui
untuk mencari ke manakah angin bertiup?
Wahai, para kekasih!
Masihkah cinta berbisik di telingamu,
dan apinya membakar gairahmu
supaya hatimu menyatu untuk selamanya?
Wahai, para ksatria!
semoga kemenangan selalu ada di tanganmu,
dan kebenaran menjadi kasutmu selalu,
dan berjuanglah demi Sang Terang!
Read more...
PERJALANAN SANG WAKTU
Bab I : Penciptaan Langit dan Bumi
Adalah dua Kekuatan besar yang muncul dari dalam Ketiadaan. Terang dan Gelap bersatu tanpa bercampur menciptakan Langit yang hampa dan Bumi yang padat. Bersama-sama mereka memulai Waktu yang menguasai segala sesuatu yang berada di bawah Langit dan di atas Bumi. Maka berkatalah Terang kepada Gelap, “Marilah kita bersatu, untuk menciptakan sesuatu yang mengisi Ketiadaan ini. Dan biarlah kita berkuasa atas ciptaan kita itu supaya tidak ada lagi Ketiadaan di dalamnya.”
Dan jawab Gelap kepada Terang, “Baiklah kita bersatu, tetapi janganlah kita saling bercampur supaya ciptaan kita itu dapat mengenali siapa yang menciptakannya, dan siapa yang menguasainya.”
Kemudian berkatalah mereka, “Jadilah dalam Ketiadaan suatu kehampaan dan kepadatan, yang dipisahkan oleh sebuah ruang. Sebuah ruang di mana kita dapat memulai kekuasaan, dan besama-sama memberinya kehidupan.” Maka terciptalah Langit yang hampa dan Bumi yang padat dan Dunia yang berada di tengah-tengahnya.
Bersama-sama Terang dan Gelap memulai Waktu, yang berkuasa atas Dunia, yang berada di bawah Langit dan di atas Bumi. Kemudian berkatalah Waktu, “Aku akan mengisi Dunia yang diciptakan ini, dengan Masa-masa dan Musim-musim yang saling berganti. Supaya aku selalu dapat mengetahui seberapa jauh perjalananku yang akan aku mulai ini. Biarlah Pagi memulai Masa, dan Musim Semi memulai Musim dengan kehangatan! Dan biarlah Siang akan mengikuti Pagi, dan Musim Panas akan menggantikan Musim Semi dengan panasnya! Biarlah kehangatan kembali mengisi Dunia, dengan datangnya Senja dan Musim Gugur! Sebab Masa dan Musim akan aku tutup dengan dinginnya Malam dan Musim Dingin dan kemudian akan aku buka kembali dengan Masa dan Musim yang baru!”
Kepada Langit dan Bumi, Terang dan Gelap memberikan Kehidupan. Dan datanglah Cinta kepada mereka sehingga semakin lama bertambah besarlah cinta Langit kepada Bumi. Dan karena begitu besar cintanya kepada Bumi, Langit menurunkan hujan benih dan hujan air sepanjang Masa dan Musim. Bumi mengeluarkan tetumbuhan dan limpahan air merendam Bumi sebagai Laut.
Berkatalah Langit kepada Bumi, “Setiap Masa aku lalui dengan memandang engkau, setiap Musim aku nikmati keindahan wajahmu. Sesungguhnya aku bahagia tercipta untuk mencintai engkau, meskipun tidak bisa sekalipun aku menyentuh tubuhmu. Biarlah aku memohon kepada Sang Waktu, yang sedang berjalan di dalam ruang yang memisahkan kita, supaya aku dapat menebarkan benih-benihku kepada engkau sebagai tanda ketulusan cintaku kepadamu.”
Kemudian Bumi menjawab. Katanya, “Sesungguhnya aku juga berbahagia, tercipta dan melewati Masa-masa bersama engkau. Wajahmu yang biru itu telah mempesonakan mataku, dan aku selalu menikmati senyuman manismu. Maka akan aku terima setiap benih yang engkau jatuhkan itu, dan aku akan memelihara dia di dalam perutku. Dan jika Sang Waktu berkenan mengabulkan permohonanku, akan aku lahirkan Putra-putramu sebagai makhluk yang hidup.”
Kemudian bersemilah benih-benih Langit menjadi pohon-pohon berdaun hijau dan semak-semak rumput yang menghiasi permukaan Bumi sehingga Bumi terlihat lebih cantik dan sejuk di mata Langit dan semakin besarlah cintanya kepada Bumi. Maka pada suatu Masa, Langit menurunkan hujan benih terbaiknya dan lahirlah Yeru, Sang Dewa Tertinggi, Bapa para Dewa, keluar dari perut Bumi. Ialah yang ditakdirkan oleh Sang Waktu untuk memiliki dan menguasai Bumi. Yang oleh tangannya, dibendungnya Laut dengan dinding batu yang tinggi supaya air hujan yang turun dari Langit tidak terbuang sia-sia ke dalam Ketiadaan.
Bernyanyilah Yeru dengan suara merdu,
“ Karena Langit adalah ayahku
dan Bumi adalah ibuku.
Benih terbaik telah dijatuhkan Langit
demi cintanya kepada Bumi.
Di dalam perut ibuku aku dierami
di dalam Ketiadaan aku dipelihara.
Hingga pada Masanya aku dikeluarkan,
dilahirkan oleh Bumi untuk Langit.”
Maka cemburulah Langit dan hampir runtuh menimpa Bumi untuk menelan putranya ke dalam Ketiadaan. Tetapi Bumi sangat mengasihi Sang Dewa, melindungi dia dan menyangga Langit dengan keempat gunungnya. Dan marahlah Bumi atas kecemburuan Langit sehingga diguncangkannya tubuhnya dan dilemparkannya batu-batu api ke Langit sehingga menyesallah Langit. Dan Sebagai tanda penyesalannya, Langit menurunkan kabut dan angin sejuk ke atas Bumi setiap Malam dan menjelang Pagi.
Berkatalah Bumi, “Haruskah kau marah, wahai Kekasihku? Haruskah engkau datang untuk menelan Putramu? Yang lahir dari Benih Terbaik yang engkau berikan kepadaku, dan yang aku terima sebagai bukti cintaku kepada engkau. Ia telah ditakdirkan untuk mewarisi tubuhku, dan kepadanya telah ditetapkan untuk menguasai aku. Maka marahlah kepada Sang Waktu, jika engkau berani, bukan kepadaku dan bukan kepada Putramu.”
Bab II : Dewa-dewa Perkasa
Bab III : Penciptaan Manusia
Bab IV : Matahari dan Manusia-manusia Pertama
Bab V : Putra Matahari
Bab VI : Putra-putra Niz
Bab VII : Menzeg
Bab VIII : Pengutusan Neyel Pe
Bab IX : Perang Besar
BAB X : Putra-putra Neyel Pe
BAB XI : Perjuangan Terakhir
BAB XII : Kemenangan Besar
Read more...
FESTIVAL SENANDUNG ALAM
Mata Air Para Peri terlihat ramai menjelang berlangsungnya Festival Senandung Alam. Banyak peri datang berduyun-duyun dari barat dan selatan demi menyaksikan dan menikmati festival itu. Festival Senandung Alam adalah sebuah lomba menyanyi antar singgasana peri yang dilaksanakan setahun sekali di Mata Air, yang mana tahun lalu dimenangkan oleh Singgasana Air.
Bangsa peri memang gemar menyanyi dan suara mereka sangat merdu sehingga bangsa manusia sering menyangka bahwa hutan-hutan tempat tinggal bangsa peri benar-benar hidup dan pepohonannya bernyanyi. Bangsa peri hidup berkelompok sesuai singgasananya secara terpisah-pisah. Para peri api misalnya tinggal di Rawa Seribu di sebelah selatan. Para peri air, peri tanah dan peri tanaman berbagi tempat di belantara Cimea. Sedangkan para peri udara dan peri cahaya masing-masing mendiami Hutan Grim dan Mata Air Para Peri di hutan Eros. Oleh karena itulah Ratu Aurora Lucis memandang perlu dilaksanakan sebuah lomba menyanyi demi menjalin persatuan dan kesatuan bangsa peri.
Beberapa kontestan festival sudah tampak hadir di Mata Air. Ada Hydro Aqua, juara tahun lalu yang mendapatkan kesempatan tampil kembali tahun ini mempertahankan gelar juaranya yang mungkin akan bersaing ketat dengan Singgasana Udara yang juga akan menampilkan penyanyi solo. Mewakili Singgasana Api adalah penampilan kelompok duet “Volcano”. Sementara itu sebagai tuan rumah, Singgasana Cahaya akan menampilkan paduan suara “Pelangi Indah”dengan Radius Lucis, kontestan tahun lalu, sebagai dirigennya. Tidak seperti tahun lalu, tahun ini masing-masing singgasana boleh menampilkan solo, duet, trio, kelompok vokal atau paduan suara.
***
Malam itu, dari atas sebuah gundukan tanah di tepi Mata Air itu, yang sedianya besok dipakai sebagai pentas lomba, terdengar suara indah dari beberapa sosok kecil yang bercahaya kemilau warna-warni, menyanyikan lagu Senandung Alam.
... bagai embun menyejukkan pagi,
Kebahagiaan yang tak terbagi...
“Uhuk uhuk uhuk..”
“Stop! Stop! Stop!” bentak sesosok peri yang berdiri di depan sebuah kelompok paduan suara. “Lumina Lucis! Sejak dulu kau hanya membuat kekacauan saja!”
“Maafkan aku, aku tidak kuat mengambil nadanya. Terlalu tinggi bagiku,”jawab sesosok kecil yang berdiri di antara barisan terdepan kelompok paduan suara itu menahan batuknya
“Tidak ada alasan lagi, Lumina Lucis. Sudah tidak mungkin lagi diturunkan nadanya. Mungkin sebaiknya kau keluar saja dari kelompok ini.”
“Tolong, berikan aku kesempatan sekali lagi. Aku akan berusaha lebih baik lagi. Aku tidak akan mengecewakanmu!”kata Lumina memohon.
“Sudah berkali-kali latihan, kau selalu saja berbuat salah dan memohon hal yang sama. Ini adalah latihan terakhir kita karena besok kita siap tidak siap harus berkompetisi di festival. Jika sampai hari ini kita tidak bisa kompak, kita pasti akan kalah. Mengerti?”
“Tapi..,” Kata-kata peri itu telah menyakiti hati Lumina dan membuatnya menangis.
“Paduan suara pada dasarnya mengutamakan kekompakan. Jika kau tidak bisa kompak dengan kawan-kawanmu, lebih baik kau keluar saja daripada kau merusak kelompok ini.”
Tiba-tiba saja seorang peri cahaya lain datang mendekat. “Kau terlalu keras pada mereka, Radius. Itu tidak baik.”
“Luxia! Lihat anak ini, sudah berulang kali ia melakukan kesalahan yang sama. Terbatuk-batuk saat latihan dengan alasan nadanya ketinggian...”
“Kalau begitu turunkan saja nadanya”
“Tidak bisa, Luxia. Itu sudah terlalu rendah bagi yang lain. Memang kusadari warna suara anak ini berbeda sendiri, tetapi ia memaksakan diri untuk menyanyi di nada tinggi.”
“Baiklah. Kata Luxia. Aku hanya ingin kelompok paduan suara ini memberikan yang terbaik untuk Singgasana Cahaya. Dan maafkan aku, anak manis,”Luxia menggelengkan kepalanya. “Tahun depan aku pasti akan mengikutsertakanmu, tetapi tahun ini...”
“Aku tahu,” Lumina menganggukkan kepala. Ia sangat kecewa, tetapi ia mengerti bahwa warna suaranya menjadi penghalang dalam penampilan kelompoknya. “Maafkan aku juga, Radius, aku telah membuatmu marah karena kesalahan-kesalahan yang aku perbuat selama latihan. Dan kepada kawan-kawan semua, aku pasti mendukung kalian, jadi tampilkanlah yang terbaik untuk singgasana kita.”
***
Keesokan harinya, suasana Mata Air Para Peri bertambah ramai. Gundukan tanah yang akan digunakan sebagai tempat pentas itu pun sudah dihiasi bunga berwarna-warni yang berpadu dengan cahaya yang dipendarkan dari tubuh-tubuh mungil para peri yang terbang melayang-layang di tempat itu.
Rupanya ada beberapa kontestan yang baru saja hadir dan mendaftarkan diri kepada panitia. Singgasana Tanaman datang dengan kelompok band “Bunga Bersemi”-nya di mana sang pimpinan singgasana menjadi penyanyi utamanya. Dan yang menghebohkan adalah Singgasana Bumi diwakili oleh Trio Cimea, yang personelnya berasal dari tiga singgasana yang berbeda.
“Sudah kudaftarkan kalian, dan diperbolehkan oleh pihak panitia,”kata sesosok peri berjubah cokelat kepada tiga peri di depannya.
“Syukurlah kalau begitu. Terima kasih, Terranum,” kata salah satu lawan bicaranya yang berpakaian hijau dan berhiaskan bunga-bunga kecil bermekaran pada pakaiannya.
“Jangan berterima kasih kepadaku. Tetapi berterima kasihlah kepada panitia,”jawab Terranum tanpa ekspresi.
“Masih ada beberapa jam untuk kita latihan sekali lagi sebelum festival dimulai,”sahut sosok peri lain yang bernuansa biru transparan. “Tapi sebaiknya kita istirahat sejenak dulu, karena kita pasti lelah habis perjalanan jauh. Atau kita latihan dulu baru istirahat sebelum pentas?”
“Kau membuatku bingung, Voda,” ujar peri hijau tadi. “Pasti Geo dan Terranum juga bingung dengan ucapanmu tadi. Aku pikir sebaiknya kita istirahat saja. Bagaimana Geo? Terranum?” Terranum mengangguk tetapi Geo diam saja.
“Geo! Kau kenapa? Sejak kita berangkat tadi kau tampak tak bersemangat?” Tanya Terranum memperhatikan saudaranya yang tampak termenung.
“Kau masih grogi?” Voda mendekatkan dirinya kepada Geo. “Bersemangatlah, Geo! Aku dan Flora akan mendampingimu di pentas nanti.”
“Ya, Geo. Jangan kuatir, kami tak akan meninggalkanmu. Kita akan bernyanyi bersama.” ujar Flora menanggapi tetapi Geo masih saja murung dan tidak membuka mulutnya.
“Benar, Geo,” tegas Voda. “Kita adalah satu tim. Kau harus kuat supaya penampilan kita tidak mengecewakan nanti.”
Aku hanya berpesan: jangan merasa kalah sebelum berlomba,”sahut Terranum. Tampilkanlah yang terbaik untuk singgasana kita, untuk bangsa peri di hutan Cimea.”
***
Sementara itu di sebuah tempat di dekat mata air itu, terjadi sebuah kegaduhan. Nyala-nyala api kecil membakar semak-semak di sekitarnya hingga menarik perhatian para peri untuk melihat apa yang sedang terjadi. Dua sosok peri merah berapi tampak saling bertengkar.
“Kau telah mengkhianatiku, Eldur!”kata salah satunya yang berukuran lebih kecil. “Untuk apa kita latihan bersama setiap hari kalau ternyata pada akhirnya kau akan tampil solo.”
“Sekali lagi aku tidak tahu, Pyro. Atar baru saja memberitahuku beberapa saat yang lalu. Katanya kau hanya menjadi cadangan saja.”
“Di mana dia sekarang? Aku akan mencarinya dan menuntut pertanggungjawabannya.”
“Dia bersama Ignis sedang mendaftarkan diriku ke pihak panitia. Kuharap kau tetap bisa menahan emosimu di tempat ini, Pyro,” bisiknya sambil melirik ke arah kerumunan peri cahaya yang sejak tadi menonton pertengkaran mereka.
“Aku tahu. Tapi aku merasa waktuku terbuang sia-sia untuk latihan. Dan Atar harus membayarnya. Selamat tinggal.” Kemudian Pyro segera melesat meninggalkan Eldur di tempat itu menerjang para peri yang menonton pertengkaran mereka.
“Apa yang kalian lihat?”Roman muka Eldur berubah menjadi mengerikan di depan para peri cahaya yang mengerumuninya. “Pergi semua dari sini!” katanya membuat mereka kocar-kacir dengan hempasan percikan lidah-lidah api kecil sebagai tanda kekesalannya.
***
“Kau tidak apa-apa, kan Lumina?”
“Ya, Niteo. Kuharap kalian bisa ampil baik tanpaku,”jawab Lumina menahan tangis di matanya.
“Aku tahu kau kecewa. Tetapi aku yakin penampilan kami nanti akan menjadi obat kekecewaanmu.”
“Kuharap begitu. Berjuanglah kawan-kawan. Aku akan mendukung kalian dari sini.”
Riuh suara tepuk tangan para penonton festival yang didominasi oleh peri-peri cahaya menghiasi Mata Air saat kontestan tuan rumah maju sebagai peserta pertama, mengiring Paduan Suara “Pelangi Indah”menempatkan diri di atas pentas. Dan mereka pun mulai menyanyikan lagu “Senandung Alam”dengan megahnya disertai dengan pertunjukan cahaya warna-warni pelangi yang dipendarkan dan dibiaskan oleh tubuh mereka.
“Mari kita bernyanyi bersama
Senandung alam penuh irama
Muka berseri dan bersahaja
Antar mentari menuju senja...”
“Wow, penampilan mereka keren sekali!” gumam Voda yang menonton festival itu di sisi Mata Air bersama kedua kawannya. “Aku jadi kuatir apakah penampilan kita nanti bisa mengungguli penampilan mereka.”
“Voda, kau jangan bicara begitu. Kau jangan mengecilkan hati Geo!”sahut Flora.
“Oh, maafkan aku. Tetapi aku tidak yakin kita penampilan bisa lebih bagus daripada mereka. Atau ada yang lebih bagus lagi daripada mereka? Tidaaaak!”
“Sebaiknya kau tidak perlu mendengarkan kata-katanya, Geo,”ujar Flora kepada Geo yang berdiri tanpa komentar di sebelahnya. “Selalu saja membingungkan....”
“Lihat. Mereka sudah selesai bernyanyi!”seru Voda sembari ikut serta menyumbangkan tepukan tangan untuk kelompok paduan suara itu. Semua penonton, terutama para peri cahaya sepertinya sangat puas melihat penampilan wakil dari Singgasana Cahaya itu.
***
“Sebelum kita panggil kontestan nomor urut dua, kita perkenalkan dulu dewan juri kita hari ini,”seru sesosok peri cahaya yang menjadi pembawa acaranya. “Lima pimpinan singgasana peri sudah hadir di sini. Beri tepuk tangan yang meriah untuk Terranum Humus, Ignis Flamma, Unda Aqua, Ventusia Flamman dan... Luxia Lucis.” Sekali lagi suara riuh tepuk tangan kembali terdengar menyambut kelima pimpinan singgasasana peri itu berdiri di tempatnya. “Oleh karena pimpinan Singgasana Tanaman, Sero Plantoria menjadi kontestan festival ini, maka posisinya di dewan juri digantikan oleh Ratu Peri.. Aurora Lucis... Beri tepuk tangan untuk ratu kita yang tercinta ini...”
“Wow, cantik sekali ratu peri kita, Flora! Baru kali ini aku melihatnya,” gumam Voda sambil ia bertepuk tangan. “Kabarnya, selain cahaya, beliau juga menguasai unsur-unsur yang lain, ya?”
“Kita seharusnya bersyukur, Geo, kita adalah kontestan terakhir. Karena kita bisa melihat dan menilai penampilan kontestan lain sebelumnya, sehingga kita bisa memotivasi diri kita supaya lebih baik daripada mereka,” kata Flora menasihati Gero yang sejak tadi murung terus tanpa memperhatikan kata-kata Voda.
“Lihat, Flora! Sekarang gilirannya Sero!” seru Voda setengah melonjak.
“Eh? Mana? Mana?” Akhirnya Flora terpengaruh dengan kata-kata Voda dan ia pun dengan segera memalingkan pandangannya ke arah pentas.
Sero Plantoria tampil bersama kelompok band-nya, membawakan lagu “Senandung Alam”secara akustik dengan iringan tiga alat musik perkusi dari bilah-bilah bambu dan kayu yang disusun berjejer dalam sebuah kolom, menghasilkan musik yang merdu ketika dipukul. Dengan nuansa rancak, wakil Singgasana Tanaman itu berhasil membuat penonton riang bertepuk tangan sepanjang lagu dinyanyikan.
“Mari kita bernyanyi bersama
Senandung alam penuh irama...”
***
Pyro melihat festival itu dari tempat yang lebih jauh dengan sembunyi-sembunyi. Ia sangat kesal karena tidak jadi berduet dengan kawannya, Eldur. Dan beberapa saat sebelum festival dimulai, ia sempat beradu pendapat dengan Atar, pelatihnya, sampai-sampai ia diusir oleh pihak panitia.
“Aku mau lihat apakah Eldur bisa menyanyi tanpa aku atau tidak.” gumamnya di antara semak-semak..
“Tidaaaak.. ku yakin tidaak,”sahut sesosok peri berwarna putih dari belakangnya, membuat Pyro terkejut.
“Siapa kau? Aku tidak kenal kau.”
“Kau tidak kenal aku? Seharusnya aku yang tidak kenal kau.” Pyro berusaha mengendalikan emosinya dan tidak mengacuhkan peri asing tersebut. Tetapi peri udara itu berkata, “Tahun lalu aku mewakili singgasanaku di festival itu.”
“Tapi kalah, kan? Jadi kau tidak terkenal seperti Hydro Aqua.”
“Oh, aku dulu rencana akan.. duet dengan Aria, yang sebentar lagi ... tampil. Tetapi karena sesuatu, Aria tiba-tiba.. tidak bisa tampil. Akhirnya aku tampil solo. Rasanya berbeda dengan... saat latihan. Aku tidak bisa meenyanyi dengan baik karena ada sesuatu yang hilang... Hasilnya aku... tidak menang..”
“Kau menyinggung aku, ya?”
“Hah? Buat apa menyinggungmu? Nasibmu sama dengankuuu? ” Pyro tidak menjawab. Ia tampak berang mendengar cerita peri asing itu. “Aha!!! Itu Aria!!” Tiba-tiba peri udara itu bersorak. “Ia kuberi kesempatan tampil solo tahun ini. Rencana kami akan bergantian tampil solo setiap tahunnya,” katanya melanjutkan ceritanya lalu terbang melesat mendekati pentas meninggalkan Pyro di semak itu.
***
Aria Flamman tampil menyanyikan lagu “Senandung Alam” dengan sangat baik dan tidak mengecewakan sehingga setelah mendapat tepuk tangan meriah dari penonton setelah ia mengakhiri lagunya dengan hembusan angin segar ke arah mereka.
“Wah, bagus juga penampilan Aria! Sangat anggun, dengan tarian pusaran anginnya.”
“Bagaimana jika dibandingkan paduan suara kita tadi, Lumina?” tanya Niteo di sebelahnya.
“Sangat bagus. Kau dan kawan-kawan sudah menjadi obat kekecewaanku,” jawab Lumina melemparkan senyuman.
“Tapi aku lihat, kau masih memendam kegelisahan. Ada apa, Lumina?”
“Sebenarnya aku hanya ingin menyanyi, Niteo. Seandainya mereka memberiku kesempatan menyanyi, meski tidak dilombakan, aku akan melakukannya...” Lumina memandang jauh ke langit, berharap kesempatan itu datang kepadanya.
“Sudahlah, jangan dipikirkan Lumina! Lihat, berikutnya yang akan tampil adalah juara tahun lalu, Hydro Aqua.”
Gemuruh tepuk tangan kembali memenuhi tempat itu menyambut sang juara tahun lalu menyanyikan lagu “Senandung Alam”. Tetapi entah mengapa tiba-tiba saja Hydro Aqua tampil tidak maksimal. Ia lebih sering lupa lirik lagu dan salah mengambil nada dasar, sehingga setelah menyanyi di atas pentas, Hydro berkata, “Maafkan aku. Kurasa tahun ini bukan tahunku lagi.” Hal itu sangat mengecewakan semua peri yang menonton festival itu, terutama Singgasana Air.
***
“Yah, kok begitu sih, penampilannya?” gerutu Voda ikut kecewa setelah melihat penampilan wakil singgasananya. “Apa mungkin dia sedang ada masalah?”
“Mungkin juga, Voda. Tapi setidaknya penampilan kita nanti bisa lebih baik daripada penampilannya meskipun kita tidak tampil mewakili singgasana kita masing-masing.” Flora tersenyum melihat Geo yang mulai melemparkan senyumannya kepada mereka berdua. Geo terlihat lebih sumringah sekarang, seolah-olah menemukan kepercayaan dirinya kembali.
“Kita mungkin bisa mengalahkan Hydro, Tetapi mustahil kita bisa mengalahkan Aria atau paduan suara Singgasana Cahaya tadi yang tampil sangat bagus. Aku jadi pesimis.”
“Jangan begitu, Voda. Ayo kita bangkit!” Kata-kata itu terlontar dari mulut Geo. Peri tanah itu membuat kedua kawannya terkejut dan bingung.
“Geo?” Kemudian terdengarlah sorak-sorai dari ketiga sahabat itu. Mereka melonjak-lonjak kegirangan seolah-olah menemukan kembali sesuatu yang telah lama hilang.
“Sudah! Tenang! Aku punya ide,” cetus Geo.
***
Selanjutnya yang tampil adalah kontestan perwakilan Singgasana Api. Eldur ternyata berduet dengan pelatihnya, Atar Flamma. Dan hal ini membuat Pyro semakin emosi.
“Sialan, si Atar! Rupanya dia hanya ingin mendepakku saja dan dan menggantikan posisiku. Semoga penampilan mereka buruk. Lebih buruk daripada Hydro.”
Dan benar. Meskipun penampilan mereka sangat meraiah dengan pertunjukan kembang api, penampilan kedua wakil Singgasana Api itu tidak memuaskan. Atar dan Eldur benar-benar tidak bisa menyatu. Ketika seharusnya menyanyi bersahut-sahutan, Atar lebih sering berimprovisasi dan Eldur tidak bisa menyesuaikan diri. Tarian mereka pun sering tidak kompak. Dan Atar tampak sangat mendominasi penampilan itu.
Setelah selesai tampil, berkatalah Eldur di atas pentas itu. “Aku minta maaf kepada kalian semua karena penampilanku tidak maksimal hari ini. Sebenarnya Atar bukan pasangan duetku, melainkan Pyro Flamma. Kuharap aku diberi kesempatan kedua untuk tampil bersama Pyro. Tidak dinilai pun tidak mengapa.”
Kata-kata Eldur memancing emosi Atar. Tetapi Atar menahan emosinya dan lebih memilih untuk segera berlalu meninggalkan tempat itu dengan kekecewaan yang mendalam atas penampilan kelompok duetnya tadi. Penonton pun ikut kecewa atas penampilan itu.
***
“Baiklah. Sambil menunggu keputusan dewan juri mengenai permintaan Eldur, kita sembut penampilan selanjutnya..,” seru sang pembawa acara dengan menari-nari memendarkan cahaya warna-warni di atas pentas. “Keikutsertaan pertama dari Singgasana Bumi, sebuah trio yang merupakan kolaborasi apik dari tiga singgasana berbeda : Trio Cimea!”
Meskipun sambutan penonton tidak seriuh penampilan sebelumnya, Sang Ratu tampak berdiri memberikan tepuk tangannya kepada trio tersebut. Beriringan, Flora Plantoria, Geo Humus dan Voda Aqua memasuki pentas. Terranum juga ikut berdiri bertepuk tangan menyambut mereka, dan membuat Geo semakin percaya diri.
“Sebenarnya wakil dari Singgasana Bumi adalah kawan kami, Geo Humus yang sangat pemalu ini, tetapi kami ingin menemaninya tampil di sini untuk menyanyi... Oh tidak, kami memang membentuk trio sebelumnya karena kami bersahabat..,” ujar Voda di atas pentas.
“Kami mengundang beberapa dari kalian yang ingin bernyanyi bersama kami di atas pentas ini. Masing-masing satu dari Singgasana Cahaya, Singgasana Api dan Singgasana Udara. Silakan kemari, supaya kepercayaan diri saudara Geo bertambah,” potong Flora. “Dari Singgasana Cahaya?”
“Ada!” jawab sesosok peri cahaya di ujung sana. “Ayo, Lumina! Bergabunglah bersama mereka! Ini kesempatanmu!”
“Tapi Niteo..” Niteo mendorong Lumina hingga tampil ke atas pentas membuat Radius dan Luxia heran. “Maaf, semuanya. Aku, Lumina Lucis, sebenarnya adalah anggota Paduan Suara Pelangi Indah, tetapi karena sesuatu hal aku tidak bisa tampil bersama kelompokku. Jadi berikan aku kesempatan untuk menyanyi bersama mereka.”
“Selamat datang di atas pentas, peri cantik,” sambut Flora. “Dari Singgasana Api?”
Tiba-tiba melesat sosok merah berapi mendarat di atas pentas. “Aku. Pyro Flamma. Aku ingin menyanyi bersama...,” katanya sambil matanya sibuk mencari-cari Eldur di kerumunan penonton. “...kelompok baruku.” Kata-kata Pyro membakar semangat para penonton yang membalasnya dengan gemuruh tepuk tangan.
“Selamat datang, Pyro, sambut Flora lagi. “Dari Singgasana Udara?”
“Aku dataaang!” sesosok peri berwarna putih tampil ke atas pentas. “Anemos Flamman, sudah mengecewakan semua tahun lalu. Akan tampil lebih baik bersama kelompok ini meskipun bukan singgasanakuuuu.” Gemuruh tepuk tangan pun kembali terdengar sampai-sampai menelan suara Anemos yang melengking itu.
Kemudian Flora meminta waktu sebentar untuk berdiskusi dengan kelompok barunya. “Lumina, warna suaramu hampir sama dengan warna suaraku, kita ambil nada segini...” Lumina menganggukkan kepala sambil tersenyum. “Pyro, warna suaramu hampir sama dengan Voda, ambil nada segini...”
“Baik,” jawab Pyro.
“Geo, kau tetap di suara rendah sesuai dengan waktu kita latihan dulu, dan kau Anemos, lebih baik kau memperkuat bagian reff dan kanon bersahut-sahutan. Aku harap kau lebih berpengalaman dan bisa berimprovisasi lebih baik.”
Semua setuju dan mereka pun bernyanyi bersama. Menghadirkan aura kegembiraan, kebersamaan dan kekeluargaan di Mata Air itu.
Mari kita menyanyi bersama...
Senandung alam penuh irama...
Muka berseri dan bersahaja
Antar mentari menuju senja..
Bagaikan embun menyejukkan pagi
Kebahagiaan yang tak terbagi
Ceriakan dunia dengan nyanyian,
Senandung alam serta senyuman...
Meskipun tidak sebagua penampilan Paduan Suara Pelangi Indah, kelompok vokal itu berhasil meraih hati masyarakat peri yang menonton. Mereka bersorak gembira setelah Geo dan kawan-kawannya selesai menyanyikan lagu. Sang Ratu, berdiri sepanjang penampilan mereka, menikmati penampilan mereka dengan sangat haru.
Pada akhirnya, Sang ratu mengumumkan bahwa pemenang festival itu adalah Paduan Suara Pelangi Indah pimpinan Radius Lucis. Tetapi sang ratu berkata, “Pada kesempatan ini, aku akan memberikan penghargaan khusus kepada kelompok vokal terakhir tadi sebagai para pahlawan persatuan. Mereka telah menyingkirkan ego singgasana masing-masing dan bersatu memperkuat singgasana lain. Itu adalah hal yang sangat baik dan patut diteladani.”
***
Itulah sekelumit dari kisah “Enam Sekawan” yang sangat terkenal dan sering diceritakan oleh bangsa peri. Keberadaan dan pertemuan mereka di festival itu menjadi awal penyatuan singgasana peri karena setelah itu, Aurora Lucis memberi mandat kepada seluruh bangsa peri untuk bermigrasi ke Mata Air Para Peri dan menetap di sekitar hutan Eros.
Enam Sekawan itu sekarang telah tiada. Setelah kejatuhan Aurora Lucis, mereka berenam terbunuh dalam pertempuran melawan kekuasaan kegelapan. Tetapi nama mereka masih terekam di memori para peri sebagai pahlawan persatuan.
____________________________________________________________
cerpen ini diikutkan dalam Lomba Tulis Cerpen - Peri-peri Xar & Vichattan (https://www.facebook.com/note.php?note_id=10150595145540017), dan menjadi JUARA 1 :D
Read more...
Bangsa peri memang gemar menyanyi dan suara mereka sangat merdu sehingga bangsa manusia sering menyangka bahwa hutan-hutan tempat tinggal bangsa peri benar-benar hidup dan pepohonannya bernyanyi. Bangsa peri hidup berkelompok sesuai singgasananya secara terpisah-pisah. Para peri api misalnya tinggal di Rawa Seribu di sebelah selatan. Para peri air, peri tanah dan peri tanaman berbagi tempat di belantara Cimea. Sedangkan para peri udara dan peri cahaya masing-masing mendiami Hutan Grim dan Mata Air Para Peri di hutan Eros. Oleh karena itulah Ratu Aurora Lucis memandang perlu dilaksanakan sebuah lomba menyanyi demi menjalin persatuan dan kesatuan bangsa peri.
Beberapa kontestan festival sudah tampak hadir di Mata Air. Ada Hydro Aqua, juara tahun lalu yang mendapatkan kesempatan tampil kembali tahun ini mempertahankan gelar juaranya yang mungkin akan bersaing ketat dengan Singgasana Udara yang juga akan menampilkan penyanyi solo. Mewakili Singgasana Api adalah penampilan kelompok duet “Volcano”. Sementara itu sebagai tuan rumah, Singgasana Cahaya akan menampilkan paduan suara “Pelangi Indah”dengan Radius Lucis, kontestan tahun lalu, sebagai dirigennya. Tidak seperti tahun lalu, tahun ini masing-masing singgasana boleh menampilkan solo, duet, trio, kelompok vokal atau paduan suara.
***
Malam itu, dari atas sebuah gundukan tanah di tepi Mata Air itu, yang sedianya besok dipakai sebagai pentas lomba, terdengar suara indah dari beberapa sosok kecil yang bercahaya kemilau warna-warni, menyanyikan lagu Senandung Alam.
... bagai embun menyejukkan pagi,
Kebahagiaan yang tak terbagi...
“Uhuk uhuk uhuk..”
“Stop! Stop! Stop!” bentak sesosok peri yang berdiri di depan sebuah kelompok paduan suara. “Lumina Lucis! Sejak dulu kau hanya membuat kekacauan saja!”
“Maafkan aku, aku tidak kuat mengambil nadanya. Terlalu tinggi bagiku,”jawab sesosok kecil yang berdiri di antara barisan terdepan kelompok paduan suara itu menahan batuknya
“Tidak ada alasan lagi, Lumina Lucis. Sudah tidak mungkin lagi diturunkan nadanya. Mungkin sebaiknya kau keluar saja dari kelompok ini.”
“Tolong, berikan aku kesempatan sekali lagi. Aku akan berusaha lebih baik lagi. Aku tidak akan mengecewakanmu!”kata Lumina memohon.
“Sudah berkali-kali latihan, kau selalu saja berbuat salah dan memohon hal yang sama. Ini adalah latihan terakhir kita karena besok kita siap tidak siap harus berkompetisi di festival. Jika sampai hari ini kita tidak bisa kompak, kita pasti akan kalah. Mengerti?”
“Tapi..,” Kata-kata peri itu telah menyakiti hati Lumina dan membuatnya menangis.
“Paduan suara pada dasarnya mengutamakan kekompakan. Jika kau tidak bisa kompak dengan kawan-kawanmu, lebih baik kau keluar saja daripada kau merusak kelompok ini.”
Tiba-tiba saja seorang peri cahaya lain datang mendekat. “Kau terlalu keras pada mereka, Radius. Itu tidak baik.”
“Luxia! Lihat anak ini, sudah berulang kali ia melakukan kesalahan yang sama. Terbatuk-batuk saat latihan dengan alasan nadanya ketinggian...”
“Kalau begitu turunkan saja nadanya”
“Tidak bisa, Luxia. Itu sudah terlalu rendah bagi yang lain. Memang kusadari warna suara anak ini berbeda sendiri, tetapi ia memaksakan diri untuk menyanyi di nada tinggi.”
“Baiklah. Kata Luxia. Aku hanya ingin kelompok paduan suara ini memberikan yang terbaik untuk Singgasana Cahaya. Dan maafkan aku, anak manis,”Luxia menggelengkan kepalanya. “Tahun depan aku pasti akan mengikutsertakanmu, tetapi tahun ini...”
“Aku tahu,” Lumina menganggukkan kepala. Ia sangat kecewa, tetapi ia mengerti bahwa warna suaranya menjadi penghalang dalam penampilan kelompoknya. “Maafkan aku juga, Radius, aku telah membuatmu marah karena kesalahan-kesalahan yang aku perbuat selama latihan. Dan kepada kawan-kawan semua, aku pasti mendukung kalian, jadi tampilkanlah yang terbaik untuk singgasana kita.”
***
Keesokan harinya, suasana Mata Air Para Peri bertambah ramai. Gundukan tanah yang akan digunakan sebagai tempat pentas itu pun sudah dihiasi bunga berwarna-warni yang berpadu dengan cahaya yang dipendarkan dari tubuh-tubuh mungil para peri yang terbang melayang-layang di tempat itu.
Rupanya ada beberapa kontestan yang baru saja hadir dan mendaftarkan diri kepada panitia. Singgasana Tanaman datang dengan kelompok band “Bunga Bersemi”-nya di mana sang pimpinan singgasana menjadi penyanyi utamanya. Dan yang menghebohkan adalah Singgasana Bumi diwakili oleh Trio Cimea, yang personelnya berasal dari tiga singgasana yang berbeda.
“Sudah kudaftarkan kalian, dan diperbolehkan oleh pihak panitia,”kata sesosok peri berjubah cokelat kepada tiga peri di depannya.
“Syukurlah kalau begitu. Terima kasih, Terranum,” kata salah satu lawan bicaranya yang berpakaian hijau dan berhiaskan bunga-bunga kecil bermekaran pada pakaiannya.
“Jangan berterima kasih kepadaku. Tetapi berterima kasihlah kepada panitia,”jawab Terranum tanpa ekspresi.
“Masih ada beberapa jam untuk kita latihan sekali lagi sebelum festival dimulai,”sahut sosok peri lain yang bernuansa biru transparan. “Tapi sebaiknya kita istirahat sejenak dulu, karena kita pasti lelah habis perjalanan jauh. Atau kita latihan dulu baru istirahat sebelum pentas?”
“Kau membuatku bingung, Voda,” ujar peri hijau tadi. “Pasti Geo dan Terranum juga bingung dengan ucapanmu tadi. Aku pikir sebaiknya kita istirahat saja. Bagaimana Geo? Terranum?” Terranum mengangguk tetapi Geo diam saja.
“Geo! Kau kenapa? Sejak kita berangkat tadi kau tampak tak bersemangat?” Tanya Terranum memperhatikan saudaranya yang tampak termenung.
“Kau masih grogi?” Voda mendekatkan dirinya kepada Geo. “Bersemangatlah, Geo! Aku dan Flora akan mendampingimu di pentas nanti.”
“Ya, Geo. Jangan kuatir, kami tak akan meninggalkanmu. Kita akan bernyanyi bersama.” ujar Flora menanggapi tetapi Geo masih saja murung dan tidak membuka mulutnya.
“Benar, Geo,” tegas Voda. “Kita adalah satu tim. Kau harus kuat supaya penampilan kita tidak mengecewakan nanti.”
Aku hanya berpesan: jangan merasa kalah sebelum berlomba,”sahut Terranum. Tampilkanlah yang terbaik untuk singgasana kita, untuk bangsa peri di hutan Cimea.”
***
Sementara itu di sebuah tempat di dekat mata air itu, terjadi sebuah kegaduhan. Nyala-nyala api kecil membakar semak-semak di sekitarnya hingga menarik perhatian para peri untuk melihat apa yang sedang terjadi. Dua sosok peri merah berapi tampak saling bertengkar.
“Kau telah mengkhianatiku, Eldur!”kata salah satunya yang berukuran lebih kecil. “Untuk apa kita latihan bersama setiap hari kalau ternyata pada akhirnya kau akan tampil solo.”
“Sekali lagi aku tidak tahu, Pyro. Atar baru saja memberitahuku beberapa saat yang lalu. Katanya kau hanya menjadi cadangan saja.”
“Di mana dia sekarang? Aku akan mencarinya dan menuntut pertanggungjawabannya.”
“Dia bersama Ignis sedang mendaftarkan diriku ke pihak panitia. Kuharap kau tetap bisa menahan emosimu di tempat ini, Pyro,” bisiknya sambil melirik ke arah kerumunan peri cahaya yang sejak tadi menonton pertengkaran mereka.
“Aku tahu. Tapi aku merasa waktuku terbuang sia-sia untuk latihan. Dan Atar harus membayarnya. Selamat tinggal.” Kemudian Pyro segera melesat meninggalkan Eldur di tempat itu menerjang para peri yang menonton pertengkaran mereka.
“Apa yang kalian lihat?”Roman muka Eldur berubah menjadi mengerikan di depan para peri cahaya yang mengerumuninya. “Pergi semua dari sini!” katanya membuat mereka kocar-kacir dengan hempasan percikan lidah-lidah api kecil sebagai tanda kekesalannya.
***
“Kau tidak apa-apa, kan Lumina?”
“Ya, Niteo. Kuharap kalian bisa ampil baik tanpaku,”jawab Lumina menahan tangis di matanya.
“Aku tahu kau kecewa. Tetapi aku yakin penampilan kami nanti akan menjadi obat kekecewaanmu.”
“Kuharap begitu. Berjuanglah kawan-kawan. Aku akan mendukung kalian dari sini.”
Riuh suara tepuk tangan para penonton festival yang didominasi oleh peri-peri cahaya menghiasi Mata Air saat kontestan tuan rumah maju sebagai peserta pertama, mengiring Paduan Suara “Pelangi Indah”menempatkan diri di atas pentas. Dan mereka pun mulai menyanyikan lagu “Senandung Alam”dengan megahnya disertai dengan pertunjukan cahaya warna-warni pelangi yang dipendarkan dan dibiaskan oleh tubuh mereka.
“Mari kita bernyanyi bersama
Senandung alam penuh irama
Muka berseri dan bersahaja
Antar mentari menuju senja...”
“Wow, penampilan mereka keren sekali!” gumam Voda yang menonton festival itu di sisi Mata Air bersama kedua kawannya. “Aku jadi kuatir apakah penampilan kita nanti bisa mengungguli penampilan mereka.”
“Voda, kau jangan bicara begitu. Kau jangan mengecilkan hati Geo!”sahut Flora.
“Oh, maafkan aku. Tetapi aku tidak yakin kita penampilan bisa lebih bagus daripada mereka. Atau ada yang lebih bagus lagi daripada mereka? Tidaaaak!”
“Sebaiknya kau tidak perlu mendengarkan kata-katanya, Geo,”ujar Flora kepada Geo yang berdiri tanpa komentar di sebelahnya. “Selalu saja membingungkan....”
“Lihat. Mereka sudah selesai bernyanyi!”seru Voda sembari ikut serta menyumbangkan tepukan tangan untuk kelompok paduan suara itu. Semua penonton, terutama para peri cahaya sepertinya sangat puas melihat penampilan wakil dari Singgasana Cahaya itu.
***
“Sebelum kita panggil kontestan nomor urut dua, kita perkenalkan dulu dewan juri kita hari ini,”seru sesosok peri cahaya yang menjadi pembawa acaranya. “Lima pimpinan singgasana peri sudah hadir di sini. Beri tepuk tangan yang meriah untuk Terranum Humus, Ignis Flamma, Unda Aqua, Ventusia Flamman dan... Luxia Lucis.” Sekali lagi suara riuh tepuk tangan kembali terdengar menyambut kelima pimpinan singgasasana peri itu berdiri di tempatnya. “Oleh karena pimpinan Singgasana Tanaman, Sero Plantoria menjadi kontestan festival ini, maka posisinya di dewan juri digantikan oleh Ratu Peri.. Aurora Lucis... Beri tepuk tangan untuk ratu kita yang tercinta ini...”
“Wow, cantik sekali ratu peri kita, Flora! Baru kali ini aku melihatnya,” gumam Voda sambil ia bertepuk tangan. “Kabarnya, selain cahaya, beliau juga menguasai unsur-unsur yang lain, ya?”
“Kita seharusnya bersyukur, Geo, kita adalah kontestan terakhir. Karena kita bisa melihat dan menilai penampilan kontestan lain sebelumnya, sehingga kita bisa memotivasi diri kita supaya lebih baik daripada mereka,” kata Flora menasihati Gero yang sejak tadi murung terus tanpa memperhatikan kata-kata Voda.
“Lihat, Flora! Sekarang gilirannya Sero!” seru Voda setengah melonjak.
“Eh? Mana? Mana?” Akhirnya Flora terpengaruh dengan kata-kata Voda dan ia pun dengan segera memalingkan pandangannya ke arah pentas.
Sero Plantoria tampil bersama kelompok band-nya, membawakan lagu “Senandung Alam”secara akustik dengan iringan tiga alat musik perkusi dari bilah-bilah bambu dan kayu yang disusun berjejer dalam sebuah kolom, menghasilkan musik yang merdu ketika dipukul. Dengan nuansa rancak, wakil Singgasana Tanaman itu berhasil membuat penonton riang bertepuk tangan sepanjang lagu dinyanyikan.
“Mari kita bernyanyi bersama
Senandung alam penuh irama...”
***
Pyro melihat festival itu dari tempat yang lebih jauh dengan sembunyi-sembunyi. Ia sangat kesal karena tidak jadi berduet dengan kawannya, Eldur. Dan beberapa saat sebelum festival dimulai, ia sempat beradu pendapat dengan Atar, pelatihnya, sampai-sampai ia diusir oleh pihak panitia.
“Aku mau lihat apakah Eldur bisa menyanyi tanpa aku atau tidak.” gumamnya di antara semak-semak..
“Tidaaaak.. ku yakin tidaak,”sahut sesosok peri berwarna putih dari belakangnya, membuat Pyro terkejut.
“Siapa kau? Aku tidak kenal kau.”
“Kau tidak kenal aku? Seharusnya aku yang tidak kenal kau.” Pyro berusaha mengendalikan emosinya dan tidak mengacuhkan peri asing tersebut. Tetapi peri udara itu berkata, “Tahun lalu aku mewakili singgasanaku di festival itu.”
“Tapi kalah, kan? Jadi kau tidak terkenal seperti Hydro Aqua.”
“Oh, aku dulu rencana akan.. duet dengan Aria, yang sebentar lagi ... tampil. Tetapi karena sesuatu, Aria tiba-tiba.. tidak bisa tampil. Akhirnya aku tampil solo. Rasanya berbeda dengan... saat latihan. Aku tidak bisa meenyanyi dengan baik karena ada sesuatu yang hilang... Hasilnya aku... tidak menang..”
“Kau menyinggung aku, ya?”
“Hah? Buat apa menyinggungmu? Nasibmu sama dengankuuu? ” Pyro tidak menjawab. Ia tampak berang mendengar cerita peri asing itu. “Aha!!! Itu Aria!!” Tiba-tiba peri udara itu bersorak. “Ia kuberi kesempatan tampil solo tahun ini. Rencana kami akan bergantian tampil solo setiap tahunnya,” katanya melanjutkan ceritanya lalu terbang melesat mendekati pentas meninggalkan Pyro di semak itu.
***
Aria Flamman tampil menyanyikan lagu “Senandung Alam” dengan sangat baik dan tidak mengecewakan sehingga setelah mendapat tepuk tangan meriah dari penonton setelah ia mengakhiri lagunya dengan hembusan angin segar ke arah mereka.
“Wah, bagus juga penampilan Aria! Sangat anggun, dengan tarian pusaran anginnya.”
“Bagaimana jika dibandingkan paduan suara kita tadi, Lumina?” tanya Niteo di sebelahnya.
“Sangat bagus. Kau dan kawan-kawan sudah menjadi obat kekecewaanku,” jawab Lumina melemparkan senyuman.
“Tapi aku lihat, kau masih memendam kegelisahan. Ada apa, Lumina?”
“Sebenarnya aku hanya ingin menyanyi, Niteo. Seandainya mereka memberiku kesempatan menyanyi, meski tidak dilombakan, aku akan melakukannya...” Lumina memandang jauh ke langit, berharap kesempatan itu datang kepadanya.
“Sudahlah, jangan dipikirkan Lumina! Lihat, berikutnya yang akan tampil adalah juara tahun lalu, Hydro Aqua.”
Gemuruh tepuk tangan kembali memenuhi tempat itu menyambut sang juara tahun lalu menyanyikan lagu “Senandung Alam”. Tetapi entah mengapa tiba-tiba saja Hydro Aqua tampil tidak maksimal. Ia lebih sering lupa lirik lagu dan salah mengambil nada dasar, sehingga setelah menyanyi di atas pentas, Hydro berkata, “Maafkan aku. Kurasa tahun ini bukan tahunku lagi.” Hal itu sangat mengecewakan semua peri yang menonton festival itu, terutama Singgasana Air.
***
“Yah, kok begitu sih, penampilannya?” gerutu Voda ikut kecewa setelah melihat penampilan wakil singgasananya. “Apa mungkin dia sedang ada masalah?”
“Mungkin juga, Voda. Tapi setidaknya penampilan kita nanti bisa lebih baik daripada penampilannya meskipun kita tidak tampil mewakili singgasana kita masing-masing.” Flora tersenyum melihat Geo yang mulai melemparkan senyumannya kepada mereka berdua. Geo terlihat lebih sumringah sekarang, seolah-olah menemukan kepercayaan dirinya kembali.
“Kita mungkin bisa mengalahkan Hydro, Tetapi mustahil kita bisa mengalahkan Aria atau paduan suara Singgasana Cahaya tadi yang tampil sangat bagus. Aku jadi pesimis.”
“Jangan begitu, Voda. Ayo kita bangkit!” Kata-kata itu terlontar dari mulut Geo. Peri tanah itu membuat kedua kawannya terkejut dan bingung.
“Geo?” Kemudian terdengarlah sorak-sorai dari ketiga sahabat itu. Mereka melonjak-lonjak kegirangan seolah-olah menemukan kembali sesuatu yang telah lama hilang.
“Sudah! Tenang! Aku punya ide,” cetus Geo.
***
Selanjutnya yang tampil adalah kontestan perwakilan Singgasana Api. Eldur ternyata berduet dengan pelatihnya, Atar Flamma. Dan hal ini membuat Pyro semakin emosi.
“Sialan, si Atar! Rupanya dia hanya ingin mendepakku saja dan dan menggantikan posisiku. Semoga penampilan mereka buruk. Lebih buruk daripada Hydro.”
Dan benar. Meskipun penampilan mereka sangat meraiah dengan pertunjukan kembang api, penampilan kedua wakil Singgasana Api itu tidak memuaskan. Atar dan Eldur benar-benar tidak bisa menyatu. Ketika seharusnya menyanyi bersahut-sahutan, Atar lebih sering berimprovisasi dan Eldur tidak bisa menyesuaikan diri. Tarian mereka pun sering tidak kompak. Dan Atar tampak sangat mendominasi penampilan itu.
Setelah selesai tampil, berkatalah Eldur di atas pentas itu. “Aku minta maaf kepada kalian semua karena penampilanku tidak maksimal hari ini. Sebenarnya Atar bukan pasangan duetku, melainkan Pyro Flamma. Kuharap aku diberi kesempatan kedua untuk tampil bersama Pyro. Tidak dinilai pun tidak mengapa.”
Kata-kata Eldur memancing emosi Atar. Tetapi Atar menahan emosinya dan lebih memilih untuk segera berlalu meninggalkan tempat itu dengan kekecewaan yang mendalam atas penampilan kelompok duetnya tadi. Penonton pun ikut kecewa atas penampilan itu.
***
“Baiklah. Sambil menunggu keputusan dewan juri mengenai permintaan Eldur, kita sembut penampilan selanjutnya..,” seru sang pembawa acara dengan menari-nari memendarkan cahaya warna-warni di atas pentas. “Keikutsertaan pertama dari Singgasana Bumi, sebuah trio yang merupakan kolaborasi apik dari tiga singgasana berbeda : Trio Cimea!”
Meskipun sambutan penonton tidak seriuh penampilan sebelumnya, Sang Ratu tampak berdiri memberikan tepuk tangannya kepada trio tersebut. Beriringan, Flora Plantoria, Geo Humus dan Voda Aqua memasuki pentas. Terranum juga ikut berdiri bertepuk tangan menyambut mereka, dan membuat Geo semakin percaya diri.
“Sebenarnya wakil dari Singgasana Bumi adalah kawan kami, Geo Humus yang sangat pemalu ini, tetapi kami ingin menemaninya tampil di sini untuk menyanyi... Oh tidak, kami memang membentuk trio sebelumnya karena kami bersahabat..,” ujar Voda di atas pentas.
“Kami mengundang beberapa dari kalian yang ingin bernyanyi bersama kami di atas pentas ini. Masing-masing satu dari Singgasana Cahaya, Singgasana Api dan Singgasana Udara. Silakan kemari, supaya kepercayaan diri saudara Geo bertambah,” potong Flora. “Dari Singgasana Cahaya?”
“Ada!” jawab sesosok peri cahaya di ujung sana. “Ayo, Lumina! Bergabunglah bersama mereka! Ini kesempatanmu!”
“Tapi Niteo..” Niteo mendorong Lumina hingga tampil ke atas pentas membuat Radius dan Luxia heran. “Maaf, semuanya. Aku, Lumina Lucis, sebenarnya adalah anggota Paduan Suara Pelangi Indah, tetapi karena sesuatu hal aku tidak bisa tampil bersama kelompokku. Jadi berikan aku kesempatan untuk menyanyi bersama mereka.”
“Selamat datang di atas pentas, peri cantik,” sambut Flora. “Dari Singgasana Api?”
Tiba-tiba melesat sosok merah berapi mendarat di atas pentas. “Aku. Pyro Flamma. Aku ingin menyanyi bersama...,” katanya sambil matanya sibuk mencari-cari Eldur di kerumunan penonton. “...kelompok baruku.” Kata-kata Pyro membakar semangat para penonton yang membalasnya dengan gemuruh tepuk tangan.
“Selamat datang, Pyro, sambut Flora lagi. “Dari Singgasana Udara?”
“Aku dataaang!” sesosok peri berwarna putih tampil ke atas pentas. “Anemos Flamman, sudah mengecewakan semua tahun lalu. Akan tampil lebih baik bersama kelompok ini meskipun bukan singgasanakuuuu.” Gemuruh tepuk tangan pun kembali terdengar sampai-sampai menelan suara Anemos yang melengking itu.
Kemudian Flora meminta waktu sebentar untuk berdiskusi dengan kelompok barunya. “Lumina, warna suaramu hampir sama dengan warna suaraku, kita ambil nada segini...” Lumina menganggukkan kepala sambil tersenyum. “Pyro, warna suaramu hampir sama dengan Voda, ambil nada segini...”
“Baik,” jawab Pyro.
“Geo, kau tetap di suara rendah sesuai dengan waktu kita latihan dulu, dan kau Anemos, lebih baik kau memperkuat bagian reff dan kanon bersahut-sahutan. Aku harap kau lebih berpengalaman dan bisa berimprovisasi lebih baik.”
Semua setuju dan mereka pun bernyanyi bersama. Menghadirkan aura kegembiraan, kebersamaan dan kekeluargaan di Mata Air itu.
Mari kita menyanyi bersama...
Senandung alam penuh irama...
Muka berseri dan bersahaja
Antar mentari menuju senja..
Bagaikan embun menyejukkan pagi
Kebahagiaan yang tak terbagi
Ceriakan dunia dengan nyanyian,
Senandung alam serta senyuman...
Meskipun tidak sebagua penampilan Paduan Suara Pelangi Indah, kelompok vokal itu berhasil meraih hati masyarakat peri yang menonton. Mereka bersorak gembira setelah Geo dan kawan-kawannya selesai menyanyikan lagu. Sang Ratu, berdiri sepanjang penampilan mereka, menikmati penampilan mereka dengan sangat haru.
Pada akhirnya, Sang ratu mengumumkan bahwa pemenang festival itu adalah Paduan Suara Pelangi Indah pimpinan Radius Lucis. Tetapi sang ratu berkata, “Pada kesempatan ini, aku akan memberikan penghargaan khusus kepada kelompok vokal terakhir tadi sebagai para pahlawan persatuan. Mereka telah menyingkirkan ego singgasana masing-masing dan bersatu memperkuat singgasana lain. Itu adalah hal yang sangat baik dan patut diteladani.”
***
Itulah sekelumit dari kisah “Enam Sekawan” yang sangat terkenal dan sering diceritakan oleh bangsa peri. Keberadaan dan pertemuan mereka di festival itu menjadi awal penyatuan singgasana peri karena setelah itu, Aurora Lucis memberi mandat kepada seluruh bangsa peri untuk bermigrasi ke Mata Air Para Peri dan menetap di sekitar hutan Eros.
Enam Sekawan itu sekarang telah tiada. Setelah kejatuhan Aurora Lucis, mereka berenam terbunuh dalam pertempuran melawan kekuasaan kegelapan. Tetapi nama mereka masih terekam di memori para peri sebagai pahlawan persatuan.
____________________________________________________________
cerpen ini diikutkan dalam Lomba Tulis Cerpen - Peri-peri Xar & Vichattan (https://www.facebook.com/note.php?note_id=10150595145540017), dan menjadi JUARA 1 :D
Read more...
SEANDAINYA AKU TIDAK MENOLEH KE BELAKANG....
Sudah ribuan tahun aku berdiri di puncak gunung ini. Hari-hariku selalu kunikmati dengan memandang hamparan Laut Asin di hadapanku dan menatap lembah gersang yang membatasinya, di mana dahulu berdiri sebuah kota yang indah dengan rumah-rumah penduduknya tersebar di antara padang rumput dan pepohonan hijau. Aku masih ingat, sebuah pulau dahulu pernah mengapung di Laut ini, tempat di mana aku, suami dan kedua anak perempuanku tinggal beberapa tahun lamanya di sebuah rumah kecil, sebelum semuanya lenyap dalam sekejap mata.
Kini aku seorang diri. Bahkan tiada makhluk yang menemaniku di puncak gunung ini. Suami dan kedua anak perempuanku sudah lama meninggalkanku di tempat ini. Tiada lagi kabar dari mereka sejak peristiwa itu. Dalam kesepian aku menyesali perbuatanku. Jika saja aku tidak mengabaikan perintah kedua orang pria itu, aku tidak akan mengalami nasib seperti ini. Dan pasti aku tidak akan kehilangan suami dan anak-anak perempuanku untuk selama-lamanya.
Masih terpatri di ingatanku bagaimana wajah pria-pria itu yang tiba-tiba saja datang sebagai orang asing di rumah kecil kami. Entah mengapa suamiku menerima kedatangan mereka dengan senang hati, menjamu mereka berdua dengan makanan dan minuman bahkan melindungi mereka ketika beberapa orang kota datang ke rumah kami dengan maksud jahat memaksa kami supaya menyerahkan mereka. Ya. Wajah mereka bersih dan tampan, sampai-sampai kukira mereka datang hendak melamar anak-anak perempuanku yang masih gadis.
Kedua orang pria itu berbicara dengan suara menggelegar, membuat diriku, suamiku dan anak-anakku takut pada setiap ucapan mereka. Apalagi ketika mereka mendesak kami untuk segera pergi keluar dan menjauh dari kota kami yang jahat itu, kami seperti tidak ada pilihan lagi. Sebab kata mereka, mereka akan memusnahkan kota itu sebelum matahari terbit. Maka mereka menyuruh kami lari ke sebuah kota di balik pegunungan ini, berlindung di sana dan melarang kami menoleh ke belakang selama perjalanan.
Hari masih gelap dan matahari waktu itu belumlah menampakkan diri. Tetapi hawa panas mulai terasa ketika aku, suami dan anak-anak perempuanku mendaki pegunungan terjal ini, seolah-olah mendorong kami melupakan lelah dan pegal kaki-kaki ini untuk melangkah setapak demi setapak. Deru suara dentuman terdengar bergemuruh di belakang kami. Kilatan-kilatan cahaya silih berganti menyilaukan pandangan di sekitar kami, membuatku memperlambat langkahku ketika mencapai puncak. “Apapun yang terjadi, jangan menoleh ke belakang!” ucap suamiku menirukan kata-kata kedua orang pria tadi, dan itu adalah kata-kata terakhir yang kudengar daripadanya.
Kuhentikan langkahku. Dengan penasaran kucoba palingkan wajahku. Terhenyak aku melihat pemandangan mengerikan di bawah sana. Api-api turun dari langit membumihanguskan seluruh rumah dan pepohonan. Kota itu telah menjadi lautan api. Jeritan-jeritan kesedihan yang memilukan kudengar sayup-sayup terbawa angin dari orang-orang yang bernasib malang di kota itu. Beruntunglah keluargaku tidak mengalami kemalangan seperti orang-orang jahat itu, batinku.
Ketika kepulan asap dan bau belerang yang menyengat mulai mengganggu pandangan dan pernafasanku, tiba-tiba saja sebuah angin panas menjangkau tubuhku, dan entah mengapa setelah itu kaki, tangan dan kepalaku tidak bisa digerakkan sama sekali. Aku ingin teriak memanggil-manggil nama suamiku agar dia kembali menjemputku dan menolongku di tempat ini, tetapi mulutku pun tidak bisa kugerakkan. Aku membatu di sini, sendiri di puncak gunung ini.
Sudah habis air mataku meratapi nasibku ini. Aku menyesal. Aku sangat menyesal. Aku rindu suami dan anak-anakku. Seandainya aku tidak menoleh ke belakang....
_________________________________________________________
Cerpen ini diikutkan dalam Lomba Cerita Bulanan Kastil Fantasi (April ’12)
(http://www.goodreads.com/topic/show/869236-lomba-cerbul-kasfan-april-12?type=topic#comment_50157414)
Read more...
Kini aku seorang diri. Bahkan tiada makhluk yang menemaniku di puncak gunung ini. Suami dan kedua anak perempuanku sudah lama meninggalkanku di tempat ini. Tiada lagi kabar dari mereka sejak peristiwa itu. Dalam kesepian aku menyesali perbuatanku. Jika saja aku tidak mengabaikan perintah kedua orang pria itu, aku tidak akan mengalami nasib seperti ini. Dan pasti aku tidak akan kehilangan suami dan anak-anak perempuanku untuk selama-lamanya.
Masih terpatri di ingatanku bagaimana wajah pria-pria itu yang tiba-tiba saja datang sebagai orang asing di rumah kecil kami. Entah mengapa suamiku menerima kedatangan mereka dengan senang hati, menjamu mereka berdua dengan makanan dan minuman bahkan melindungi mereka ketika beberapa orang kota datang ke rumah kami dengan maksud jahat memaksa kami supaya menyerahkan mereka. Ya. Wajah mereka bersih dan tampan, sampai-sampai kukira mereka datang hendak melamar anak-anak perempuanku yang masih gadis.
Kedua orang pria itu berbicara dengan suara menggelegar, membuat diriku, suamiku dan anak-anakku takut pada setiap ucapan mereka. Apalagi ketika mereka mendesak kami untuk segera pergi keluar dan menjauh dari kota kami yang jahat itu, kami seperti tidak ada pilihan lagi. Sebab kata mereka, mereka akan memusnahkan kota itu sebelum matahari terbit. Maka mereka menyuruh kami lari ke sebuah kota di balik pegunungan ini, berlindung di sana dan melarang kami menoleh ke belakang selama perjalanan.
Hari masih gelap dan matahari waktu itu belumlah menampakkan diri. Tetapi hawa panas mulai terasa ketika aku, suami dan anak-anak perempuanku mendaki pegunungan terjal ini, seolah-olah mendorong kami melupakan lelah dan pegal kaki-kaki ini untuk melangkah setapak demi setapak. Deru suara dentuman terdengar bergemuruh di belakang kami. Kilatan-kilatan cahaya silih berganti menyilaukan pandangan di sekitar kami, membuatku memperlambat langkahku ketika mencapai puncak. “Apapun yang terjadi, jangan menoleh ke belakang!” ucap suamiku menirukan kata-kata kedua orang pria tadi, dan itu adalah kata-kata terakhir yang kudengar daripadanya.
Kuhentikan langkahku. Dengan penasaran kucoba palingkan wajahku. Terhenyak aku melihat pemandangan mengerikan di bawah sana. Api-api turun dari langit membumihanguskan seluruh rumah dan pepohonan. Kota itu telah menjadi lautan api. Jeritan-jeritan kesedihan yang memilukan kudengar sayup-sayup terbawa angin dari orang-orang yang bernasib malang di kota itu. Beruntunglah keluargaku tidak mengalami kemalangan seperti orang-orang jahat itu, batinku.
Ketika kepulan asap dan bau belerang yang menyengat mulai mengganggu pandangan dan pernafasanku, tiba-tiba saja sebuah angin panas menjangkau tubuhku, dan entah mengapa setelah itu kaki, tangan dan kepalaku tidak bisa digerakkan sama sekali. Aku ingin teriak memanggil-manggil nama suamiku agar dia kembali menjemputku dan menolongku di tempat ini, tetapi mulutku pun tidak bisa kugerakkan. Aku membatu di sini, sendiri di puncak gunung ini.
Sudah habis air mataku meratapi nasibku ini. Aku menyesal. Aku sangat menyesal. Aku rindu suami dan anak-anakku. Seandainya aku tidak menoleh ke belakang....
_________________________________________________________
Cerpen ini diikutkan dalam Lomba Cerita Bulanan Kastil Fantasi (April ’12)
(http://www.goodreads.com/topic/show/869236-lomba-cerbul-kasfan-april-12?type=topic#comment_50157414)
Read more...
DOMBA DAN GEMBALA
KREEEEKKKK
Suara itu mengejutkan kami sehingga kami semua terbangun. Ada seorang manusia yang membuka pintu dan menyapa, “Selamat pagi, domba-dombaku! Apa kabar kalian? Nyenyakkah tidur kalian semalam?” Suaranya sangat akrab di telinga kami, bahkan di telingaku yang baru saja lahir beberapa hari yang lalu. Ya. Itu adalah suara Dawid, gembala kami. Meskipun hari masih gelap, dan suasana di kandang ini remang-remang tetapi kami sangat mengenali suaranya.
Aku pun ikut terbangun. Ibuku berdiri dan aku pun ikut berdiri. Naluri kami mengatakan bahwa kami semua harus saling merapat dan berbaris menghadap pintu karena Dawid pasti akan membawa kami ke tempat yang baru lagi hari ini, sebuah tempat yang pasti penuh dengan rumput hijau yang lezat. “Hayo? Ada yang sakitkah hari ini?” kata Dawid dengan penuh senyum kepada kami sambil memandang kami satu per satu.
Kata ibuku, Dawid adalah manusia yang baik bagi kami. Tak seperti kakak-kakaknya yang dahulu pernah menggembalakan kami, Dawid lebih sering bercakap-cakap dengan kami, laksana dengan kawan manusianya. Sudah enam tahun ibuku mengenalnya, dan ia sangat mengenal masing-masing dari kami.
“Awan Menari!” Itu nama ibuku disebutnya. “Di mana anakmu?”
“Di sini. Ini dia,” jawab ibuku. Ia sangat mengerti kata-kata ibuku meskipun ibuku tidak berbahasa manusia. Dan begitu menemukan diriku yang sembunyi di balik tubuh ibuku di antara para domba yang mengerumuniku, ia tampak gembira, mengangkatku ke atas dan mengelus-elus tubuhku dengan tangannya.
“Tolong, hentikan, kau membuatku geli,” begitulah aku berseru dan kuharap ia mengerti juga maksudku.
“Gigimu sudah tumbuh jadi kau sekarang boleh keluar, ya, merumput bersama saudara-saudaramu yang lainnya...,” ujarnya kepadaku sambil menyentuhkan ujung hidungnya ke ujung hidungku. “Dan tentu saja bersama ibumu juga.”
“Asyik! Akhirnya aku merumput juga,” seruku kegirangan. Ya, memang selama beberapa hari setelah kelahiranku, aku selalu menghabiskan waktuku bersama ibu di kandang, disusui oleh ibuku atau bermain bersama anak-anak domba yang lain yang lebih muda beberapa hari daripada aku. Sementara itu ibuku dan ibu-ibu domba lainnya memperoleh makanannya dari rumput-rumputan yang disediakan Tuan Yishay, yang merupakan ayah dari Dawid.
“Oh, ya. Aku belum memberimu nama,” sahutnya sambil menggendongku ke dalam dekapan tangannya. “Bagaimana kalau namamu Singa Putih?” Ia pun berpikir lagi. “Oh, tidak, tidak, tidak. Terlalu berlebihan tampaknya... Emmm, ah ya, belum ada dari domba-dombaku yang diberi nama seperti namaku. Baiklah. Mulai sekarang kau kupanggil Dawid.” Begitu ia menurunkan aku, aku segera berlari kepada ibuku. “Ayo, domba-dombaku. Aku akan membawamu ke padang yang berumput hijau di luar sana,” katanya sambil membelai beberapa ekor domba.
Kemudian pintu kandang dibuka lebih lebar lagi dan masing-masing dari kami keluar melalui pintu itu dua-dua secara berdesak-desakan mengikuti Dawid yang terlebih dahulu melangkah keluar..
“Ibu! Ibu! Di mana kau, ibu!” jeritku memanggil-manggil ibuku. Karena berdesak-desakan aku jadi terpisah dengan ibuku.
“Anakku! Dawid anakku!” Ibuku berseru-seru dari luar menunggu diriku keluar. Begitu ia menemukanku, aku merasa bersuka cita
“Ibu! Aku takut, ibu! Aku takut kehilanganmu.”
Hari masih belum terang betul sewaktu kami berhambur keluar. Embun basah masih terasa di rerumputan yang kami injak, yang tumbuh jarang di tengah jalan. Kabut dingin masih tampak membayang-bayangi tujuan kami di depan sana.
“Hari ini kita mau dibawa ke mana ya?” tanya seekor domba kepada yang lain.
“Yang pasti bukan seperti yang kemarin, karena di sana rumputnya sudah hampir habis karena dimakan lembu-lembu tambun itu,” jawab si Tanduk Emas, ayahku, salah satu jantan dominan di kelompok kami.
“Akankah kita melewati hutan di depan sana?”
“Aku tak tahu, tetapi sepertinya benar. Semoga saja tidak ada serigala atau beruang yang menakut-nakuti kita.”
Begitulah aku mendengar saudara-saudaraku kaum domba bercakap-cakap selama perjalanan. Aku melihat di depan sana Dawid, gembala kami yang tampak gagah dengan tongkat kayu berkait di tangan kanannya serta membawa sebuah buntalan pada tangan kirinya yang aku tak tahu isinya apa, memimpin perjalanan kami. Ujung pakaiannya yang dari kain itu tampak melambai-lambai diterpa angin pagi yang sejuk saat ia berjalan. Aku tak tahu apakah ia juga mendengar dan mengerti percakapan domba-dombanya. Tetapi seolah menjawab pertanyaan kami, ia tiba-tiba berseru, “Tenang, kita akan melewati tepi hutan itu dengan selamat. Tak ada serigala ataupun beruang yang berani kepadaku.”
“Apa itu serigala dan beruang, ibu?” tanyaku kepada ibuku yang sedari tadi berjalan di sampingku.
“Serigala dan beruang itu makhluk-makhluk jahat. Mereka sering mengganggu kita, menakut-nakuti kita, menyerang kita, mencabik-cabik kita dengan gigi dan kuku-kukunya yang tajam serta memakan kita.”
“Apa? Mereka memakan kita?” Aku mempercepat jalanku, berusaha menyamakan kecepatan jalan ibuku supaya tidak ketinggalan jauh karena aku takut. “Seperti kita memakan rumput?”
“Ya. Tapi kau tidak perlu takut atau kuatir, anakku. Gembala kita ini adalah manusia yang kuat. Sebelum aku melahirkanmu, ia pernah bergulat melawan singa tanpa rasa takut demi menyelamatkanku yang hampir saja diterkam oleh singa itu ketika aku terpencar dari rombongan. Aku menyaksikannya dengan mataku sendiri bagaimana ia berusaha menakut-nakuti sang singa dengan tongkatnya. Dan aku masih ingat bagaimana ia mencoba mempertahankan dirinya saat sang singa berbalik melawannya: menusukkan tongkat kayunya yang runcing itu ke kerongkongan singa itu dan membuat singa itu takluk di hadapannya.”
“Oh.. Berarti singa itu sama seperti serigala dan beruang, ya bu? Sama-sama makhluk yang jahat dan suka memakan kita?”
“Ya. Seperti itulah.”
Kami hampir sampai tepi hutan itu, yang tampak mengerikan bagi kami, tempat tinggal makhluk-makhluk jahat yang sewaktu-waktu dapat menyerang kami. Tepat di pertigaan jalan Dawid menghentikan langkahnya.
“Domba-dombaku! Berhenti!” seru Dawid, gembala kami. Kami mengerti perintahnya dan menghentikan langkah kami. Dawid segera bergerak ke belakang. Matanya melihat jauh ke arah jalan yang sebelah sana seperti sedang menunggu sesuatu.
“Apa? Jadi di tempat ini kita akan merumput?” terdengar gerutu beberapa ekor domba.
“Apakah makhluk-makhluk jahat itu sedang mengintai kita sekarang?” kata yang lain ketakutan.
“Sebaiknya kita terus saja daripada mati konyol di sini,” sahut domba jantan perkasa yang merupakan ayahku, satu-satunya pejantan dominan di kelompok ini.
“Jangan! Lihat! Rupanya ia sedang menanti Otsem,” seru ibuku. Dan benar, datang dari arah sana dari balik kabut tipis berduyun-duyun sekelompok kambing bersama seorang gembalanya, yaitu Otsem, saudara laki-laki Dawid yang bertugas meggembalakan kambing.
Baru kali ini aku melihat wujud kambing. Memang mirip sih. Bedanya kami dianugerahi bulu tebal dari Sang Pencipta sedangkan kambing tidak. Kami berwarna putih sedangkan mereka berwarna gelap. Kata ibuku, kambing dan domba itu bersaudara. Jadi bahasanya pun sama dengan bahasa kami. Tetapi kata ibuku lagi, kambing seringkali tampak angkuh dan tidak bersahabat di hadapan kami oleh karena itu ditempatkan di kandang yang terpisah dari kami. Mereka lebih suka mencari rumput sendiri-sendiri ketika sampai di padang.
“Hai, makhluk bodoh!” sapa seekor kambing dengan nada mengejek kepada kami diikuti dengan sapaan yang sama oleh kawan-kawannya sesama kambing di belakangnya. “Sampai kapan kalian selalu menurut kehendak gembalamu? Lihatlah ia akan membawamu ke dalam hutan itu!”
“Ah, tidak mungkin,” sahut si Tanduk Emas, ayahku, membalas ejekan kambing-kambing itu yang sudah menghina domba-domba. “Kalian saja yang pergi ke sana sendirian kalau berani sebelum cambuk gembala kalian mengenai tubuh kalian, hahaha.”
Kambing-kambing itu membalasnya dengan olok-olok, “Bagi kami lebih baik kena cambuk daripada bulu-bulu kami dicukur oleh manusia, hahaha.”
“Jadi kalian kira kami kesakitan ketika bulu kami dicukur?” seekor domba lain menimpali dengan olokan. ”Kalian salah.”
Begitulah di sepanjang perjalanan terjadi saling olok antara domba dan kambing. Entah kenapa rombongan kambing itu berjalan di depan rombongan kami. Mungkin karena Dawid, gembala kami ingin bercakap-cakap dengan saudaranya, gembala para kambing itu. Tetapi kata ibuku, itu karena kambing lebih liar, tidak suka dipimpin oleh gembalanya sehingga gembalanya selalu menggiring mereka dari belakang, bukan seperti kami yang lebih suka berjalan di belakang gembala kami, menurut ke mana gembala kami pergi. Gembala mereka membawa sebuah tongkat cambuk yang selalu siap menerjang tubuh mereka jika jalan mereka menyimpang ke kiri atau ke kanan, karena mereka lebih sering menuruti kata hati mereka masing-masing daripada kehendak gembalanya.
Akhirnya kami melewati hutan yang mengerikan itu dan sampai ke sebuah padang rumput luas menghijau, tempat kami harus berbagi makanan dengan para kambing yang sombong itu.
Ibuku memperingatkanku untuk tidak jauh darinya dan juga rombongan kami dengan alasan banyak makhluk jahat di sekitar sini. Kami merumput bersama-sama, pada satu tempat dengan si Tanduk Lengkung, ayahku itu yang memimpin. Jika rumput di sebelah sini mulai habis, dipimpinnya kami untuk pidah ke sebelah sana secara bersama-sama, begitu seterusnya. Sementara itu Dawid sang gembala kami mengawasi kami dari jauh. Ia duduk sendirian di bawah sebuah pohon sambil jemarinya memetik-metik dawai sebuah benda yang kata ibuku itu namanya kecapi, menimbulkan irama yang merdu yang membuat kami betah berlama-lama merumput di sini. Sementara itu sang gembala kambing mengawasang kambing-kambingnya dari dekat menjaga kawanan kambingnya supaya tidak terpencar terlalu jauh.
Matahari sudah bersinar semakin terang dan kehangatannya meresap ke pori-pori kulit kami. Dawid menghampiri tempat kami merumput dan berkata, “Mari, domba-dombaku, ikutlah aku menuju sungai di sebelah sana! Ada air yang segar yang bisa menyejukkan kerongkongan kalian.” Kemudian kami pun mengikuti dia kemana pun ia berjalan.
Tibalah kami di sungai yang dijanjikan itu. Sebuah sungai yang bening dan alirannya tenang. Dawid juga tampak melegakan dahaganya dengan meminum air sungai itu. Kemudian datanglah para kambing bersama gembalanya memenuhi tepi sungai itu dengan tubuh-tubuh besar mereka.
Seekor kambing datang kepadaku dan berkata, “Kau anak baru ya? Ini pertama kali kau merumput kan? Bagaimana rasa rumput?”
Aku tidak menjawab sebab ibuku sudah berpesan kepadaku bahwa aku tidak boleh berbicara dengan para kambing karena mereka suka mengolok-olok. Mataku pun segera mencari ibuku yang ternyata berada di sebelah sana sedang bercakap-cakap dengan ayahku.
“Lihat bukit itu!” kata sang kambing. “Di balik bukit itu ada sebuah padang rumput yang sangat lezat, lebih lezat daripada rumput-rumput di sini. Aku dan saudara-saudaraku pernah diajak Otsem ke sana. Di sana juga ada mata air yang selalu memancarkan air menyegarkan, tanpa harus berjalan cukup jauh seperti sekarang ini.”
“Benarkah?”tanyaku heran. “Tetapi mengapa Dawid tidak membawa kami ke sana?”
“Kalau itu aku tak tahu. Mungkin ia cuma tak ingin kalian menikmati makanan yang lebih lezat sementara ia tidak bisa menikmatinya..,” jawab sang kambing.
“Mungkinkah itu?” kataku tertegun.
“Lebih baik kau tidak mempertanyakan hal itu kepada ibumu. Tetapi, jika aku menjadi kau, aku akan menuruti kata hatiku, menuruti kehendakku. Kalau aku ingin pergi ke sana, ya aku akan kesana tanpa harus berkata kepada yang lain.”
Aku memandang jauh ke arah gundukan bukit di depan sana. Harum semerbak hijau rerumputan tertiup angin sampai ke mari. Aku penasaran dengan apa yang ada di balik gundukan besar itu. Apakah benar seperti yang dikatakan kambing itu? Maka timbullah keinginanku untuk pergi ke balik bukit itu.
Kulihat ibuku masih bersama saudara-saudaranya mencari rumput di bibir sungai. Sementara Dawid sang gembala kami sedang bercakap-cakap dengan Otsem. Kemudian aku pikir ini adalah kesempatanku untuk pergi ke sana, membuktikan perkataan sang kambing. Perlahan aku menjauh dari kelompokku, semakin jauh dan semakin jauh aku mendaki bukit besar yang landai itu sampai pada puncaknya di mana pada domba sudah tidak jelas terlihat.
Dan benar. Sejauh mataku memandang adalah hamparan rumput hijau yang luas, dari ujung ke ujung, hanya sebuah hutan lebat yang membatasinya di sisi sebelah sana. Tidak ada seekorpun binatang ternak yang merumput di sana. Sebuah sungai mengalir dari mata air yang jernih di antara hijaunya rerumputan. Mungkin mata air itu adalah sumber dari sungai tempat kami minum di belakang sana, yang aliran sungainya mengitari bukit ini. Ini benar-benar hebat. Di sini aku bisa makan sampai puas dan kekenyangan hari ini, pikirku.
Aku turun menapaki sisi bukit itu yang ternyata lebih terjal daripada sisi yang lain. Dengan hati-hati aku menuruninya dan sudah cukup jauh aku berjalan, tapi tiba-tiba kaki kanan belakangku terperosok ke dalam sebuah celah tanah, hingga masuk semua. Dengan sekuat tenaga aku menariknya tetapi tidak berhasil sampai habis seluruh tenagaku. Aku pun meronta-ronta, menangis memanggil-manggil ibuku. Tetapi tiada yang mendengarnya. Aku terus menerus berseru, “Ibu! Ibu! Tolong aku! Dawid! Dawid! Tolong aku!”
Cukup lama aku berada di tempat yang asing itu. Sendiri, hanya ditemani rasa takut dan kuatir akan makhluk-makhluk jahat yang akan memakan diriku. Aku terus-menerus berseru-seru memanggil-manggil ibuku dan gembalaku berharap mereka menemukanku di sini. Aku sangat menyesal telah menuruti kata hatiku. Aku sangat menyesal sudah terpengaruh kata-kata kambing itu.
Langit semakin gelap dan matahari pun bergerak terbenam di antara awan-awan. Suaraku sudah habis, dan kerongkonganku sudah kering. Belum sempat aku mengecap sejuknya air mata air itu dan lezatnay rerumputan di tempat ini. Suara-suara aneh mulai terdengar dari jauh. Suara lolongan yang sepertinya makhluk-makhluk jahat muncul dari belantara itu, membuatku tercekam rasa takut.
“Tolong! Tolong aku! Siapapun juga tolong aku!”
Kulihat samar-samar sesosok besar datang menghampiriku. Sosok apakah itu? Apakah ia akan menolongku?
Ia bukan manusia dan tetapi kurang lebih setinggi tubuh Dawid. Berlari dengan keempat kakinya dari arah sebelah kiriku. “Siapakah kau? Kau akan menolongku atau tidak?” Remang-remang moncongnya terlihat panjang olehku. Ia menggeliat dan bersuara keras. Gigi-giginya yang besar diselimuti air liur diperlihatkannya di depanku. Ia pasti makhluk jahat. Ia pasti salah satu dari serigala, singa atau beruang yang akan memakanku.
“Kumohon, jangan memakanku!”
PLETAKKK
Tiba-tiba saja makhluk besar itu rebah. Rupanya ada sesuatu yang mengenai dahinya. Seorang manusia datang dari arah sebelah kananku, tampak dari jauh membawa obor di tangan kirinya.
“Dawid! Itukah kau?” seruku dengan suara yang sudah tidak jelas terdengar. Benar. Dawid telah datang menyelamatkanku dari serangan makhluk jahat itu. Segera ia menusuk-nusuk tubuh makhluk jahat yang sudah terkapar tidak berdaya itu dengan ujung tongkat gembalanya, meyakinkan apakah makhluk itu sudah benar-benar tidak sadarkan diri. Kemudian ia mengambil sebuah pisau belati dari balik pakaiannya, dicabik-cabiknya tubuh makhluk itu. Dirobeknya dada makhluk itu untuk dibuang jantungnya.
Setelah itu ia baru memalingkan wajahnya kepadaku. “Kau di sini rupanya, Dawid. Aku dan ibumu sangat menguatirkan keadaanmu,” katanya kepadaku sambil melepaskan kakiku dari jeratan celah tanah yang sudah membuatku gila hampir seharian ini. “Kau terlalu jauh berjalan. Lihat! Seekor beruang hampir saja memangsamu. Kau hampir saja mencelakakan dirimu sendiri. Untung saja aku cepat datang dan mengumban batu kepadanya.”
“Terimakasih, Dawid,” kataku. Kaki kanan belakangku ternyata berdarah. Perih sekali rasanya. Dengan pisau belatinya, Dawid menyobek ujung kain pada pakaiannya dan membalutkannya pada kakiku yang terluka itu. Beberapa saat kemudian datanglah beberapa orang manusia lain ke tempat kami dengan cahaya-cahaya obor di tangan mereka.
“Sudah ketemu?” tanya seorang dari mereka.
“Ya, hanya saja, kakinya terluka. Ia hampir saja dimangsa beruang tadi.”
“Baiklah. Mari kita segera pulang sebelum matahari benar-benar terbenam. Ayah kita pasti senang mendengar kabar ini,” kata seorang lagi. Ternyata mereka adalah saudara-saudara lelaki Dawid, anak-anak Tuan Yishay, yang juga datang untuk membantu mencariku. Kemudian aku digendong oleh Dawid pada lehernya. Dipegangnya erat-erat keempat kakiku dengan kedua tangannya, dua di tangan kanannya dan dua lagi di tangan kirinya.
Di sepanjang perjalanan keempat saudara Dawid bercakap-cakap mengomentari peristiwa hilangnya diriku. Dan aku mendengar bahwa mereka terkesan menyalahkan Dawid, saudara termuda mereka karena kecerobohannya lalai dalam mengawasi domba-domba. Dawid hanya diam saja mendengar penghakiman atas dirinya dari saudara-suadaranya itu. “Tidak. Itu bukan kesalahan Dawid. Itu kesalahanku.” Kataku kepada mereka. “Itu karena aku menuruti kehendakku, maka aku pergi ke sana sendirian.”
Dan kami pun sampai rumah tepat saat bulan dan bintang-bintang menampakka dirinya di langit malam. Tuan Yishay membantu Dawid merawat kakiku, mengobati lukaku dengan mencurahkan anggur ke atas lukanya supaya tidak semakin parah. “Maafkan, anakmu ini, ayah, telah lalai menjaganya,” kata Dawid menyesal. Tuan Yishay tidak berkata sesuatu untuk menanggapi permintaan maaf dari anaknya itu. Beliau sibuk mengganti kain pembalut luka di kakiku.
“Kumohon, Tuan Yishay, janganlah kau memarahi anakmu itu. Akulah yang salah. Akulah yang nakal,” ujarku berkai-kali membela Dawid. Kuharap beliau mengerti kata-kataku. Lama sekali mereka terdiam tanpa suara, hanya suarakulah yang memenuhi ruangan rumah itu yang penuh kehangatan.
“Kuharap ia benar-benar pulih sebelum bulan Nisan,” Akhirnya Tuan Yishay pun membuka mulutnya. “Bukankah ia genap berusia setahun pada bulan Adar besok? Kuharap lukanya tidak membekas dan jalannya pun tidak menjadi pincang sehingga ia layak dipersembahkan kepada Tuhan pada Hari Raya nanti.”
Maka Tuan Yishay mengadakan pesta bagi seisi rumahnya dan bersuka cita bagaikan menemukan kembali sesuatu yang hilang. Dan aku pun bersuka cita karena berjumpa lagi dengan ibuku di dalam kandang.
“Ibu, aku rindu padamu,” kataku mendekap ibuku.
____________________________________________________________
Cerpen ini diikutkan dalam Lomba Cerita Bulanan Kastil Fantasi (Maret'12) (http://www.goodreads.com/topic/show/834583-lomba-cerbul-kasfan-mar-12#comment_48363146)
Read more...
Suara itu mengejutkan kami sehingga kami semua terbangun. Ada seorang manusia yang membuka pintu dan menyapa, “Selamat pagi, domba-dombaku! Apa kabar kalian? Nyenyakkah tidur kalian semalam?” Suaranya sangat akrab di telinga kami, bahkan di telingaku yang baru saja lahir beberapa hari yang lalu. Ya. Itu adalah suara Dawid, gembala kami. Meskipun hari masih gelap, dan suasana di kandang ini remang-remang tetapi kami sangat mengenali suaranya.
Aku pun ikut terbangun. Ibuku berdiri dan aku pun ikut berdiri. Naluri kami mengatakan bahwa kami semua harus saling merapat dan berbaris menghadap pintu karena Dawid pasti akan membawa kami ke tempat yang baru lagi hari ini, sebuah tempat yang pasti penuh dengan rumput hijau yang lezat. “Hayo? Ada yang sakitkah hari ini?” kata Dawid dengan penuh senyum kepada kami sambil memandang kami satu per satu.
Kata ibuku, Dawid adalah manusia yang baik bagi kami. Tak seperti kakak-kakaknya yang dahulu pernah menggembalakan kami, Dawid lebih sering bercakap-cakap dengan kami, laksana dengan kawan manusianya. Sudah enam tahun ibuku mengenalnya, dan ia sangat mengenal masing-masing dari kami.
“Awan Menari!” Itu nama ibuku disebutnya. “Di mana anakmu?”
“Di sini. Ini dia,” jawab ibuku. Ia sangat mengerti kata-kata ibuku meskipun ibuku tidak berbahasa manusia. Dan begitu menemukan diriku yang sembunyi di balik tubuh ibuku di antara para domba yang mengerumuniku, ia tampak gembira, mengangkatku ke atas dan mengelus-elus tubuhku dengan tangannya.
“Tolong, hentikan, kau membuatku geli,” begitulah aku berseru dan kuharap ia mengerti juga maksudku.
“Gigimu sudah tumbuh jadi kau sekarang boleh keluar, ya, merumput bersama saudara-saudaramu yang lainnya...,” ujarnya kepadaku sambil menyentuhkan ujung hidungnya ke ujung hidungku. “Dan tentu saja bersama ibumu juga.”
“Asyik! Akhirnya aku merumput juga,” seruku kegirangan. Ya, memang selama beberapa hari setelah kelahiranku, aku selalu menghabiskan waktuku bersama ibu di kandang, disusui oleh ibuku atau bermain bersama anak-anak domba yang lain yang lebih muda beberapa hari daripada aku. Sementara itu ibuku dan ibu-ibu domba lainnya memperoleh makanannya dari rumput-rumputan yang disediakan Tuan Yishay, yang merupakan ayah dari Dawid.
“Oh, ya. Aku belum memberimu nama,” sahutnya sambil menggendongku ke dalam dekapan tangannya. “Bagaimana kalau namamu Singa Putih?” Ia pun berpikir lagi. “Oh, tidak, tidak, tidak. Terlalu berlebihan tampaknya... Emmm, ah ya, belum ada dari domba-dombaku yang diberi nama seperti namaku. Baiklah. Mulai sekarang kau kupanggil Dawid.” Begitu ia menurunkan aku, aku segera berlari kepada ibuku. “Ayo, domba-dombaku. Aku akan membawamu ke padang yang berumput hijau di luar sana,” katanya sambil membelai beberapa ekor domba.
Kemudian pintu kandang dibuka lebih lebar lagi dan masing-masing dari kami keluar melalui pintu itu dua-dua secara berdesak-desakan mengikuti Dawid yang terlebih dahulu melangkah keluar..
“Ibu! Ibu! Di mana kau, ibu!” jeritku memanggil-manggil ibuku. Karena berdesak-desakan aku jadi terpisah dengan ibuku.
“Anakku! Dawid anakku!” Ibuku berseru-seru dari luar menunggu diriku keluar. Begitu ia menemukanku, aku merasa bersuka cita
“Ibu! Aku takut, ibu! Aku takut kehilanganmu.”
Hari masih belum terang betul sewaktu kami berhambur keluar. Embun basah masih terasa di rerumputan yang kami injak, yang tumbuh jarang di tengah jalan. Kabut dingin masih tampak membayang-bayangi tujuan kami di depan sana.
“Hari ini kita mau dibawa ke mana ya?” tanya seekor domba kepada yang lain.
“Yang pasti bukan seperti yang kemarin, karena di sana rumputnya sudah hampir habis karena dimakan lembu-lembu tambun itu,” jawab si Tanduk Emas, ayahku, salah satu jantan dominan di kelompok kami.
“Akankah kita melewati hutan di depan sana?”
“Aku tak tahu, tetapi sepertinya benar. Semoga saja tidak ada serigala atau beruang yang menakut-nakuti kita.”
Begitulah aku mendengar saudara-saudaraku kaum domba bercakap-cakap selama perjalanan. Aku melihat di depan sana Dawid, gembala kami yang tampak gagah dengan tongkat kayu berkait di tangan kanannya serta membawa sebuah buntalan pada tangan kirinya yang aku tak tahu isinya apa, memimpin perjalanan kami. Ujung pakaiannya yang dari kain itu tampak melambai-lambai diterpa angin pagi yang sejuk saat ia berjalan. Aku tak tahu apakah ia juga mendengar dan mengerti percakapan domba-dombanya. Tetapi seolah menjawab pertanyaan kami, ia tiba-tiba berseru, “Tenang, kita akan melewati tepi hutan itu dengan selamat. Tak ada serigala ataupun beruang yang berani kepadaku.”
“Apa itu serigala dan beruang, ibu?” tanyaku kepada ibuku yang sedari tadi berjalan di sampingku.
“Serigala dan beruang itu makhluk-makhluk jahat. Mereka sering mengganggu kita, menakut-nakuti kita, menyerang kita, mencabik-cabik kita dengan gigi dan kuku-kukunya yang tajam serta memakan kita.”
“Apa? Mereka memakan kita?” Aku mempercepat jalanku, berusaha menyamakan kecepatan jalan ibuku supaya tidak ketinggalan jauh karena aku takut. “Seperti kita memakan rumput?”
“Ya. Tapi kau tidak perlu takut atau kuatir, anakku. Gembala kita ini adalah manusia yang kuat. Sebelum aku melahirkanmu, ia pernah bergulat melawan singa tanpa rasa takut demi menyelamatkanku yang hampir saja diterkam oleh singa itu ketika aku terpencar dari rombongan. Aku menyaksikannya dengan mataku sendiri bagaimana ia berusaha menakut-nakuti sang singa dengan tongkatnya. Dan aku masih ingat bagaimana ia mencoba mempertahankan dirinya saat sang singa berbalik melawannya: menusukkan tongkat kayunya yang runcing itu ke kerongkongan singa itu dan membuat singa itu takluk di hadapannya.”
“Oh.. Berarti singa itu sama seperti serigala dan beruang, ya bu? Sama-sama makhluk yang jahat dan suka memakan kita?”
“Ya. Seperti itulah.”
Kami hampir sampai tepi hutan itu, yang tampak mengerikan bagi kami, tempat tinggal makhluk-makhluk jahat yang sewaktu-waktu dapat menyerang kami. Tepat di pertigaan jalan Dawid menghentikan langkahnya.
“Domba-dombaku! Berhenti!” seru Dawid, gembala kami. Kami mengerti perintahnya dan menghentikan langkah kami. Dawid segera bergerak ke belakang. Matanya melihat jauh ke arah jalan yang sebelah sana seperti sedang menunggu sesuatu.
“Apa? Jadi di tempat ini kita akan merumput?” terdengar gerutu beberapa ekor domba.
“Apakah makhluk-makhluk jahat itu sedang mengintai kita sekarang?” kata yang lain ketakutan.
“Sebaiknya kita terus saja daripada mati konyol di sini,” sahut domba jantan perkasa yang merupakan ayahku, satu-satunya pejantan dominan di kelompok ini.
“Jangan! Lihat! Rupanya ia sedang menanti Otsem,” seru ibuku. Dan benar, datang dari arah sana dari balik kabut tipis berduyun-duyun sekelompok kambing bersama seorang gembalanya, yaitu Otsem, saudara laki-laki Dawid yang bertugas meggembalakan kambing.
Baru kali ini aku melihat wujud kambing. Memang mirip sih. Bedanya kami dianugerahi bulu tebal dari Sang Pencipta sedangkan kambing tidak. Kami berwarna putih sedangkan mereka berwarna gelap. Kata ibuku, kambing dan domba itu bersaudara. Jadi bahasanya pun sama dengan bahasa kami. Tetapi kata ibuku lagi, kambing seringkali tampak angkuh dan tidak bersahabat di hadapan kami oleh karena itu ditempatkan di kandang yang terpisah dari kami. Mereka lebih suka mencari rumput sendiri-sendiri ketika sampai di padang.
“Hai, makhluk bodoh!” sapa seekor kambing dengan nada mengejek kepada kami diikuti dengan sapaan yang sama oleh kawan-kawannya sesama kambing di belakangnya. “Sampai kapan kalian selalu menurut kehendak gembalamu? Lihatlah ia akan membawamu ke dalam hutan itu!”
“Ah, tidak mungkin,” sahut si Tanduk Emas, ayahku, membalas ejekan kambing-kambing itu yang sudah menghina domba-domba. “Kalian saja yang pergi ke sana sendirian kalau berani sebelum cambuk gembala kalian mengenai tubuh kalian, hahaha.”
Kambing-kambing itu membalasnya dengan olok-olok, “Bagi kami lebih baik kena cambuk daripada bulu-bulu kami dicukur oleh manusia, hahaha.”
“Jadi kalian kira kami kesakitan ketika bulu kami dicukur?” seekor domba lain menimpali dengan olokan. ”Kalian salah.”
Begitulah di sepanjang perjalanan terjadi saling olok antara domba dan kambing. Entah kenapa rombongan kambing itu berjalan di depan rombongan kami. Mungkin karena Dawid, gembala kami ingin bercakap-cakap dengan saudaranya, gembala para kambing itu. Tetapi kata ibuku, itu karena kambing lebih liar, tidak suka dipimpin oleh gembalanya sehingga gembalanya selalu menggiring mereka dari belakang, bukan seperti kami yang lebih suka berjalan di belakang gembala kami, menurut ke mana gembala kami pergi. Gembala mereka membawa sebuah tongkat cambuk yang selalu siap menerjang tubuh mereka jika jalan mereka menyimpang ke kiri atau ke kanan, karena mereka lebih sering menuruti kata hati mereka masing-masing daripada kehendak gembalanya.
Akhirnya kami melewati hutan yang mengerikan itu dan sampai ke sebuah padang rumput luas menghijau, tempat kami harus berbagi makanan dengan para kambing yang sombong itu.
Ibuku memperingatkanku untuk tidak jauh darinya dan juga rombongan kami dengan alasan banyak makhluk jahat di sekitar sini. Kami merumput bersama-sama, pada satu tempat dengan si Tanduk Lengkung, ayahku itu yang memimpin. Jika rumput di sebelah sini mulai habis, dipimpinnya kami untuk pidah ke sebelah sana secara bersama-sama, begitu seterusnya. Sementara itu Dawid sang gembala kami mengawasi kami dari jauh. Ia duduk sendirian di bawah sebuah pohon sambil jemarinya memetik-metik dawai sebuah benda yang kata ibuku itu namanya kecapi, menimbulkan irama yang merdu yang membuat kami betah berlama-lama merumput di sini. Sementara itu sang gembala kambing mengawasang kambing-kambingnya dari dekat menjaga kawanan kambingnya supaya tidak terpencar terlalu jauh.
Matahari sudah bersinar semakin terang dan kehangatannya meresap ke pori-pori kulit kami. Dawid menghampiri tempat kami merumput dan berkata, “Mari, domba-dombaku, ikutlah aku menuju sungai di sebelah sana! Ada air yang segar yang bisa menyejukkan kerongkongan kalian.” Kemudian kami pun mengikuti dia kemana pun ia berjalan.
Tibalah kami di sungai yang dijanjikan itu. Sebuah sungai yang bening dan alirannya tenang. Dawid juga tampak melegakan dahaganya dengan meminum air sungai itu. Kemudian datanglah para kambing bersama gembalanya memenuhi tepi sungai itu dengan tubuh-tubuh besar mereka.
Seekor kambing datang kepadaku dan berkata, “Kau anak baru ya? Ini pertama kali kau merumput kan? Bagaimana rasa rumput?”
Aku tidak menjawab sebab ibuku sudah berpesan kepadaku bahwa aku tidak boleh berbicara dengan para kambing karena mereka suka mengolok-olok. Mataku pun segera mencari ibuku yang ternyata berada di sebelah sana sedang bercakap-cakap dengan ayahku.
“Lihat bukit itu!” kata sang kambing. “Di balik bukit itu ada sebuah padang rumput yang sangat lezat, lebih lezat daripada rumput-rumput di sini. Aku dan saudara-saudaraku pernah diajak Otsem ke sana. Di sana juga ada mata air yang selalu memancarkan air menyegarkan, tanpa harus berjalan cukup jauh seperti sekarang ini.”
“Benarkah?”tanyaku heran. “Tetapi mengapa Dawid tidak membawa kami ke sana?”
“Kalau itu aku tak tahu. Mungkin ia cuma tak ingin kalian menikmati makanan yang lebih lezat sementara ia tidak bisa menikmatinya..,” jawab sang kambing.
“Mungkinkah itu?” kataku tertegun.
“Lebih baik kau tidak mempertanyakan hal itu kepada ibumu. Tetapi, jika aku menjadi kau, aku akan menuruti kata hatiku, menuruti kehendakku. Kalau aku ingin pergi ke sana, ya aku akan kesana tanpa harus berkata kepada yang lain.”
Aku memandang jauh ke arah gundukan bukit di depan sana. Harum semerbak hijau rerumputan tertiup angin sampai ke mari. Aku penasaran dengan apa yang ada di balik gundukan besar itu. Apakah benar seperti yang dikatakan kambing itu? Maka timbullah keinginanku untuk pergi ke balik bukit itu.
Kulihat ibuku masih bersama saudara-saudaranya mencari rumput di bibir sungai. Sementara Dawid sang gembala kami sedang bercakap-cakap dengan Otsem. Kemudian aku pikir ini adalah kesempatanku untuk pergi ke sana, membuktikan perkataan sang kambing. Perlahan aku menjauh dari kelompokku, semakin jauh dan semakin jauh aku mendaki bukit besar yang landai itu sampai pada puncaknya di mana pada domba sudah tidak jelas terlihat.
Dan benar. Sejauh mataku memandang adalah hamparan rumput hijau yang luas, dari ujung ke ujung, hanya sebuah hutan lebat yang membatasinya di sisi sebelah sana. Tidak ada seekorpun binatang ternak yang merumput di sana. Sebuah sungai mengalir dari mata air yang jernih di antara hijaunya rerumputan. Mungkin mata air itu adalah sumber dari sungai tempat kami minum di belakang sana, yang aliran sungainya mengitari bukit ini. Ini benar-benar hebat. Di sini aku bisa makan sampai puas dan kekenyangan hari ini, pikirku.
Aku turun menapaki sisi bukit itu yang ternyata lebih terjal daripada sisi yang lain. Dengan hati-hati aku menuruninya dan sudah cukup jauh aku berjalan, tapi tiba-tiba kaki kanan belakangku terperosok ke dalam sebuah celah tanah, hingga masuk semua. Dengan sekuat tenaga aku menariknya tetapi tidak berhasil sampai habis seluruh tenagaku. Aku pun meronta-ronta, menangis memanggil-manggil ibuku. Tetapi tiada yang mendengarnya. Aku terus menerus berseru, “Ibu! Ibu! Tolong aku! Dawid! Dawid! Tolong aku!”
Cukup lama aku berada di tempat yang asing itu. Sendiri, hanya ditemani rasa takut dan kuatir akan makhluk-makhluk jahat yang akan memakan diriku. Aku terus-menerus berseru-seru memanggil-manggil ibuku dan gembalaku berharap mereka menemukanku di sini. Aku sangat menyesal telah menuruti kata hatiku. Aku sangat menyesal sudah terpengaruh kata-kata kambing itu.
Langit semakin gelap dan matahari pun bergerak terbenam di antara awan-awan. Suaraku sudah habis, dan kerongkonganku sudah kering. Belum sempat aku mengecap sejuknya air mata air itu dan lezatnay rerumputan di tempat ini. Suara-suara aneh mulai terdengar dari jauh. Suara lolongan yang sepertinya makhluk-makhluk jahat muncul dari belantara itu, membuatku tercekam rasa takut.
“Tolong! Tolong aku! Siapapun juga tolong aku!”
Kulihat samar-samar sesosok besar datang menghampiriku. Sosok apakah itu? Apakah ia akan menolongku?
Ia bukan manusia dan tetapi kurang lebih setinggi tubuh Dawid. Berlari dengan keempat kakinya dari arah sebelah kiriku. “Siapakah kau? Kau akan menolongku atau tidak?” Remang-remang moncongnya terlihat panjang olehku. Ia menggeliat dan bersuara keras. Gigi-giginya yang besar diselimuti air liur diperlihatkannya di depanku. Ia pasti makhluk jahat. Ia pasti salah satu dari serigala, singa atau beruang yang akan memakanku.
“Kumohon, jangan memakanku!”
PLETAKKK
Tiba-tiba saja makhluk besar itu rebah. Rupanya ada sesuatu yang mengenai dahinya. Seorang manusia datang dari arah sebelah kananku, tampak dari jauh membawa obor di tangan kirinya.
“Dawid! Itukah kau?” seruku dengan suara yang sudah tidak jelas terdengar. Benar. Dawid telah datang menyelamatkanku dari serangan makhluk jahat itu. Segera ia menusuk-nusuk tubuh makhluk jahat yang sudah terkapar tidak berdaya itu dengan ujung tongkat gembalanya, meyakinkan apakah makhluk itu sudah benar-benar tidak sadarkan diri. Kemudian ia mengambil sebuah pisau belati dari balik pakaiannya, dicabik-cabiknya tubuh makhluk itu. Dirobeknya dada makhluk itu untuk dibuang jantungnya.
Setelah itu ia baru memalingkan wajahnya kepadaku. “Kau di sini rupanya, Dawid. Aku dan ibumu sangat menguatirkan keadaanmu,” katanya kepadaku sambil melepaskan kakiku dari jeratan celah tanah yang sudah membuatku gila hampir seharian ini. “Kau terlalu jauh berjalan. Lihat! Seekor beruang hampir saja memangsamu. Kau hampir saja mencelakakan dirimu sendiri. Untung saja aku cepat datang dan mengumban batu kepadanya.”
“Terimakasih, Dawid,” kataku. Kaki kanan belakangku ternyata berdarah. Perih sekali rasanya. Dengan pisau belatinya, Dawid menyobek ujung kain pada pakaiannya dan membalutkannya pada kakiku yang terluka itu. Beberapa saat kemudian datanglah beberapa orang manusia lain ke tempat kami dengan cahaya-cahaya obor di tangan mereka.
“Sudah ketemu?” tanya seorang dari mereka.
“Ya, hanya saja, kakinya terluka. Ia hampir saja dimangsa beruang tadi.”
“Baiklah. Mari kita segera pulang sebelum matahari benar-benar terbenam. Ayah kita pasti senang mendengar kabar ini,” kata seorang lagi. Ternyata mereka adalah saudara-saudara lelaki Dawid, anak-anak Tuan Yishay, yang juga datang untuk membantu mencariku. Kemudian aku digendong oleh Dawid pada lehernya. Dipegangnya erat-erat keempat kakiku dengan kedua tangannya, dua di tangan kanannya dan dua lagi di tangan kirinya.
Di sepanjang perjalanan keempat saudara Dawid bercakap-cakap mengomentari peristiwa hilangnya diriku. Dan aku mendengar bahwa mereka terkesan menyalahkan Dawid, saudara termuda mereka karena kecerobohannya lalai dalam mengawasi domba-domba. Dawid hanya diam saja mendengar penghakiman atas dirinya dari saudara-suadaranya itu. “Tidak. Itu bukan kesalahan Dawid. Itu kesalahanku.” Kataku kepada mereka. “Itu karena aku menuruti kehendakku, maka aku pergi ke sana sendirian.”
Dan kami pun sampai rumah tepat saat bulan dan bintang-bintang menampakka dirinya di langit malam. Tuan Yishay membantu Dawid merawat kakiku, mengobati lukaku dengan mencurahkan anggur ke atas lukanya supaya tidak semakin parah. “Maafkan, anakmu ini, ayah, telah lalai menjaganya,” kata Dawid menyesal. Tuan Yishay tidak berkata sesuatu untuk menanggapi permintaan maaf dari anaknya itu. Beliau sibuk mengganti kain pembalut luka di kakiku.
“Kumohon, Tuan Yishay, janganlah kau memarahi anakmu itu. Akulah yang salah. Akulah yang nakal,” ujarku berkai-kali membela Dawid. Kuharap beliau mengerti kata-kataku. Lama sekali mereka terdiam tanpa suara, hanya suarakulah yang memenuhi ruangan rumah itu yang penuh kehangatan.
“Kuharap ia benar-benar pulih sebelum bulan Nisan,” Akhirnya Tuan Yishay pun membuka mulutnya. “Bukankah ia genap berusia setahun pada bulan Adar besok? Kuharap lukanya tidak membekas dan jalannya pun tidak menjadi pincang sehingga ia layak dipersembahkan kepada Tuhan pada Hari Raya nanti.”
Maka Tuan Yishay mengadakan pesta bagi seisi rumahnya dan bersuka cita bagaikan menemukan kembali sesuatu yang hilang. Dan aku pun bersuka cita karena berjumpa lagi dengan ibuku di dalam kandang.
“Ibu, aku rindu padamu,” kataku mendekap ibuku.
____________________________________________________________
Cerpen ini diikutkan dalam Lomba Cerita Bulanan Kastil Fantasi (Maret'12) (http://www.goodreads.com/topic/show/834583-lomba-cerbul-kasfan-mar-12#comment_48363146)
Read more...
FERDANORANICA
Ferdanoranica – “Rumah Para Dewa” – begitulah bangsa Gomerr menyebutnya. Adalah sebuah kastil tua dengan menara-menara yang tinggi, yang konon berjumlah tiga belas, sesuai jumlah dewa yang disembah oleh bangsa Gomerr, yang terletak di kaki gunung Andecabora, disebelah utara Gomeria. Menurut cerita bangsa Tarbann, sebelum Tarbania ditaklukkan oleh bangsa Savakk, kastil itu berada di pincak bukit Hastimirr, dan sempat “berpindah” secara misterius ke beberapa tempat sampai akhirnya menampakkan diri di kaki gunung Andecabora yang terletak di wilayah kerajaan Gomeria.
Jika bangsa Gomerr menganggap kastil itu sebagai rumah para dewa karena kehadirannya yang misterius itu, bangsa Tarbann memercayai bahwa kastil itu adalah ciptaan Kierten, dewa tertinggi bangsa Tarbann, yang dengan sengaja mengundang “orang-orang terpilih” ke dalam kastilnya. Kepercayaan ini bermula sejak menghilangnya banyak orang di Tarbania setelah masuk ke dalamnya.
Hantegon, kakek raja Tarbania Hantierenn, bersama lima belas orang prajuritnya menghilang setelah masuk ke dalam kastil misterius itu saat menghadapi serangan bangsa Savakk di atas bukit Hastimirr. Diceritakan waktu itu tanpa diduga sebelumnya, bangsa Savakk telah bersekutu dengan bangsa Gomerr dan menyerang pasukan Tarbania dari dua arah. Hal itu menyebabkan ia bersama para prajuritnya terdesak dan merasa perlu mendapat perlindungan di dalam sebuah kastil tak bertuan di dekat situ. Dan ajaib, begitu mereka masuk ke dalam kastil itu, seketika itu juga lenyaplah kastil itu dari pandangan semua orang di sekitarnya.
Menghilangnya para pahlawan Tarbann itu menjadi salah satu penyebab jatuhnya Tarbania ke tangan bangsa Savakk. Semua keluarga Hantegon dibunuh kecuali putri Hantegon yang sedang mengandung, dibuang ke pulau Lemin. Di sanalah Hantierenn dilahirkan. Dan tiga puluh tahun kemudian ketika bangsa Savakk mengalami kemunduran, Hantierenn kembali ke Tarbania, mengusir bangsa Savakk dari tanah itu.
***
Setelah melakukan perjalanan panjang, tibalah Argen di Medalla, ibu kota Gomeria yang terletak di bawah gunung Andecabora, tak jauh dari lokasi Ferdanoranica. Dari Tarbania ke Gomeria, ia menumpang sebuah kereta seorang pedagang Tarban. Tujuannya hanya satu : menyampaikan sebuah pesan dari gurunya kepada seorang seorang wanita yang bernama Andeverano.
Argen merasa asing dan diasingkan oleh penduduk Medalla, sebab ia tidak fasih berbahasa Gomerr. Apalagi waktu itu timbul sentimen negatif bangsa Gomerr terhadap bangsa Tarbann karena raja Tarbania ingin merebut wilayah kaki gunung Andecabora tanpa alasan yang jelas. Tetapi untunglah pedagang itu baik hati dan menjadi penerjemah bagi Argen di kota itu untuk sementara waktu.
Setelah berhasil mempertemukan Argen dengan Andeverano, pedagang itu pun pergi untuk menjalankan urusannya. Dan benar, Andeverano adalah seorang wanita setengah baya dengan rambut panjang yang berwarna putih sesuai dengan arti namanya dalam bahasa Gomerr, yang menurut cerita berambut putih sejak ia dilahirkan. Mungkin ia bisa disamakan dengan Hantierenn, raja Tarbania yang juga terlahir berambut putih. Tak disangka wanita Gomer itu sangat fasih berbahasa Tarbann, meskipun dengan logat yang terdengar aneh di telinga Argen.
Maka Andeverano membawanya ke sebuah kedai dan mereka bercakap-cakap di situ sambil menikmati Ferdanohevara, bubur sayur berwarna putih khas Gomeria. Baru kali ini Argen menikmati bubur selezat itu, yang kata Andeverano, Ferdanohevara adalah makanan para dewa, sehingga rasanya lebih lezat dari masakan apapun di dunia ini karena resepnya berasal dari Ivendara, dewa masakan bangsa Gomerr.
Selanjutnya wanita itu berkata, “Ketahuilah Argen, bangsaku dan bangsamu, adalah saudara. Jadi tak sepantasnya bangsa kita saling bersengketa. Memang bangsaku pernah bergabung dengan bangsa Savakk untuk menjajah Tarbania, tetapi itu dulu sebelum akhirnya kami tahu bahwa bangsa Savakk-lah yang telah menjajah Gomeria.”
“Aku tahu kepentingan rajamu, aku juga menghargai keinginannya untuk merebut Ferdanoranica atas dasar keyakinannya. Tetapi kami, bangsa Gomerr, percaya bahwa kastil itu adalah tempat tinggal dewa-dewa kami di dunia ini, dan kami telah mensakralkannya. Ferdanoranica dijaga ketat oleh prajurit-prajurit Gomeria. Kami hanya diperbolehkan berziarah, berdoa di depan pintunya. Tidak ada yang boleh masuk ke dalamnya, bahkan raja kami sekalipun,” kata Andeverano. “Aku harap rajamu juga menghargai kebudayaan kami.”
Argen menjawab, “Aku datang kemari bukan atas perintah raja Hantierenn, melainkan Hibernen, guruku. Bagaimana aku harus mengatakannya kepada beliau nanti? Lagipula jika misi ini selesai, raja Hantierenn berjanji tak akan merebut kastil itu lagi dan tidak akan ada lagi persengketaan antara Tarbania dan Gomeria.”
“Baiklah, akan kuusahakan sebaik-baiknya,” kata Andeverano setelah cukup lama berpikir. “Tetapi aku tidak tahu risiko yang akan kauhadapi apabila kau berhasil masuk ke dalamnya. Bukankah bangunan itu pernah beberapa kali menghilang dan berpindah tempat setelah ada orang yang masuk ke dalamnya?”
Ya. Menurut cerita yang berkembang di Tarbania, setelah menghilangnya raja Hantegon dan kelima belas prajuritnya, kastil itu muncul di tepi danau Erennoat. Beberapa orang yang tinggal di tepi danau itu takjub melihatnya dan dengan penuh penasaran masuk ke dalamnya. Kemudian mereka lenyap bersama kastil itu.
Beberapa tahun kemudian kastil itu muncul di tengah Tornen, menyebabkan kegemparan di kota kecil itu. Hantierenn yang saat itu sedang memimpin pemberontakan terhadap bangsa Savakk, mencium berita keberadaan kastil misterius itu, percaya bahwa kakeknya masih berada di dalamnya. Ia berusaha mencapainya tetapi terlambat, bangunan itu sudah berpindah tempat lagi bersama dengan orang-orang Tornen yang masuk ke dalamnya. Keberadaan kastil itu di wilayah Gomeria pascakemerdekaan Tarbania membuat ia berusaha dengan segala cara mengklaim kastil itu sebagai wilayahnya.
Argen menutup hari itu dengan bermalam di rumah Andeverano. Di situ ia berkenalan dengan seorang pria berewok gemuk bernama Sendasarra yang merupakan suami dari Andeverano. Sendasarra adalah seorang buruh tambang perak di kaki gunung Andecabora.
Andeverano dan suaminya berdua tampak bercakap dalam bahasa Gomerr. Argen hanya terdiam mendengarkan kata-kata asing yang keluar dari mulut mereka karena ia sama sekali tidak mengerti apa yang mereka berdua bicarakan. Setelah itu Andeverano berkata kepadanya bahwa suaminya mengetahui jalan pintas tercepat mencapai Ferdanoranica sebelum tengah hari, yaitu melewati pertambangan perak. Sendasarra bahkan sanggup mengantarkan Argen pergi ke sana esok hari. Dan ia mempunyai sebuah recana cemerlang yang bisa dilakukan untuk mendukung misi tersebut.
“Oh, Ves-ta-ranu,” kata Argen mencoba mengucapkan terimakasih dalam bahasa Gomerr.
“Vesta-ranu?? Yang benar 'vahistarano', Argen,” sahut Andeverano tersenyum.
“Oh, maafkan aku. Va-hista-rano, benar?” Argen membalas senyum untuk menutupi rasa malunya. Kemudian tawa kebahagiaan pun memecah di rumah kecil itu.
Keesokan harinya setelah sarapan mereka bertiga berangkat meninggalkan Medalla. Berjalan beriringan melalui jalan raya, di tengah perjalanan mereka berjumpa dengan banyak peziarah yang juga menuju Ferdanoranica untuk berdoa. Perjalanan itu normalnya ditempuh selama satu hari penuh menyusuri kaki gunung itu, yang oleh bangsa Gomerr disebut sebagai “raksasa putih”, tetapi Sendasarra mengambil jalan berbelok yang lebih berliku dan cukup terjal yang menurutnya bisa memotong setengah dari perjalanan normal.
***
Di depan mata Argen berdiri sebuah kastil megah dengan menara-menaranya yang tinggi menjulang sampai ke langit. Cukup lama Argen memanjakan matanya dengan pemandangan indah itu. Sendasarra berkata bahwa pada tengah hari, para penjaga akan beristirahat sejenak. Dan sesuai rencana yang disusun semula, Andeverano, Argen dan Sendasarra akan menyamar sebagai para peziarah yang berdoa di depan ‘rumah para dewa’ itu. Dililitkannyalah tali yang cukup panjang pada masing-masing perut mereka dan disembunyikan di balik pakaian mereka.
Dengan jantung yang berdetak kencang Argen sudah berada di depan sebuah lengkungan raksasa yang berukir indah, dengan gambar-gambar relief yang kurang jelas terlihat, cemerlang keemasan diterpa cahaya matahari. Itulah pintu masuknya. Dua orang penjaga berseragam dan berpedang berdiri tak jauh dari situ masing-masing di sudut kanan dan kiri untuk mencegah orang melewati sebuah ‘garis pembatas’ yang disebut ‘garis kesucian’.
Sudah tengah hari. Dan benar, penjaga-penjaga itu meninggalkan tempatnya berdiri untuk beristirahat, berjalan semakin menjauhi para peziarah. Sambil berpura-pura memanjatkan doa, Argen berbisik kepada Andeverano di samping kirinya dan Sendasarra di samping kanannya “Sekaranglah saatnya.”
“Kau yakin?”
Argen mengangguk. “Aku akan membawa keluar Hantegon. Aku akan keluar bersamanya.” Kemudian dengan cepat ia bertolak melintasi garis itu dan selangkah kemudian ia tiba di sebuah dunia lain.
Argen tercengang. Didepannya terhampar sebuah taman yang indah, dan entah mengapa ia merasa berpadu dengan tempat itu. Ada kebahagiaan yang tak terkira merasuk ke dalam jiwanya. Bunga-bunga indah berwarna-warni, dengan kesejukan angin semilir menebarkan aroma semerbak tercium oleh hidungnya. Kupu-kupu menari-nari di atasnya dan terdengar pula kicauan burung yang merdu oleh telinganya. Beberapa air mancur berdiri di sana sini di antara rimbunan bunga semakin menghiasi taman itu. Dan tampak sungai kecil mengalir jernih di ujung sana, dengan sebuah air terjun di sisi lain. Ini Surga. Ini benar-benar 'rumah para dewa'.
Argen berlari lebih jauh ke arah padang rumput hijau di depan sana, di mana ada sebuah istana kristal berdiri dengan kilau-kemilau. Di padang rumput itu terlihat ada sekelompok orang yang menari-nari dengan riangnya dengan iringan nyanyian akapela yang menentramkan hati. Bahkan kuda-kuda yang merumput di situ ikut riang menikmati syair dan iramanya.
Sungguh menyenangkan tinggal di sini,Negeri kebahagiaan, di mana rumput menari-nari.Cemerlang bagai permata, menghilangkan kesah di hatiDuka dan lara pergi, mari nikmati damai abadi.
Tampak seorang tua berbaju zirah Tarbania di antara yang hadir di situ, berdiri melambaikan tangannya kepada Argen, seolah mengajaknya turut serta dalam kebahagiaan mereka. Tak mampu menolak ajakannya, Argen terus melangkah dan melangkah.
***
“Kembalilah! Kau terlalu jauh,” seru Andeverano dari luar, kuatir melihat tali yang semakin lama semakin tertarik ke dalam. Tali pun semakin menegang, “Argen! Kembalilah!” Semakin lama tali itu menjerat perutnya hingga wanita itu tak kuasa menahan sakitnya. Sendasarra berusaha dengan sekuat tenaganya menarik kembali talinya, mempertahankan supaya istrinya tidak ikut tertarik masuk ke dalamnya.
Melihat ada masalah, seorang penjaga datang berlari kecil mendekati mereka dikuti oleh penjaga lainnya. Tanpa pikir panjang salah seorang penjaga itu mencabut pedangnya memutuskan tali itu.
“ARGEN!!!!”
Mendengar suara Andeverano, Argen menoleh ke belakang, tetapi ia menjawab, “Maafkan aku. Aku tidak mau kembali.” Bersama itu pula putuslah tali yang menghubungkannya dengan Andeverano.
Sekonyong-konyong bangunan megah itu lenyap dari tempatnya berdiri. Para penjaga, serta para peziarah berdiri termangu-mangu, kebingungan melihat peristiwa itu. Tiada lagi kastil megah untuk dijaga. Tiada lagi “rumah para dewa” untuk diziarahi.
Wanita berambut putih itu berlutut menangis, meratapi Argen yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri, yang datang dan pergi begitu saja. Kakinya lemas dan perutnya sakit. Rambutnya yang putih panjang itu terurai hingga menyentuh tanah, menampung air mata yang tertumpah dari kedua matanya. Ia menyesal telah membawa Argen ke Ferdanoranica. Sendasarra berusaha menenangkannya dengan memberikan pelukan kepadanya. Hiburnya kepada istrinya, “Ia sudah memilih jalannya sendiri.”
___________________________________________________________
Cerpen ini diikutkan dalam Lomba Cerita Bulanan Kastil Fantasi (Februari ’12)
(http://www.goodreads.com/topic/show/803736-lomba-cerbul-kasfan-feb-12?format=html&type=topic#comment_46003005)
Read more...
Subscribe to:
Comments (Atom)