HIKAYAT PUTERI PEMBERANI


Matahari sudah lama terbenam di ufuk barat. Kegelapan Malam sudah menguasai dunia, menebarkan rasa takut kepada pada setiap makhluk dan mengganti hingar bingar kehidupan menjadi kesenyapan di seluruh negeri, tak terkecuali Emefzi yang baru saja hari itu dilanda kekalutan.

Hanya terdengar suara derap langkah seekor kuda memecah kesunyian pada sebuah jalanan yang sepi. Di punggungnya duduk seorang gadis bergaun panjang khas Puteri kerajaan mengendarai sang kuda tanpa rasa takut. Tubuh sang Puteri terbalut pula sebuah mantel tebal yang melindunginya dari dinginnya angin malam. Tangan kirinya memegang kendali sedangkan sebuah obor dengan api yang menyala redup ada pada tangan kanannya, cukup mampu untuk memberikan penerangan kepada tunggangannya itu

Sang kuda berlari dengan sangat kencang sehingga menyibakkan rambut penunggangnya yang panjang itu melambai-lambai tertiup angin. Gerakannya meliuk ke sana ke mari dan sesekali ia meloncat mencoba menghindari bebatuan dan kubangan air yang merintangi jalannya. Sang Puteri kelihatannya sedang terburu-buru pergi ke suatu tujuan atau sedang melarikan diri dari sesuatu, bergerak ke arah barat melalui sebuah jalur menuju pegunungan Zaimuluf.

Untuk kesekian kalinya, sang penungang kuda menukar tangannya yang digunakan untuk menggenggam tali kendali dengan tangan yang lain yang dipakai memegang obor. Sementara itu di pikirannya melayang-layang kilasan-kilasan peristiwa yang terjadi beberapa waktu yang lalu di dalam istana, sampai kepada suatu hal yang akhirnya memaksanya pergi sendiri malam itu.

***

“Sekarang keberuntungan sudah menjauhiku dan kebahagiaan sudah meninggalkanku. Makhluk-makhluk jahat itu telah mengalap suamiku dan sekarang putra-putraku belum kembali dalam perburuan mereka,” kata seorang wanita tua bergaun kelabu menitikkan air matanya. “Haruskah aku juga kehilangan mereka?”

“Maafkan kami, Permaisuri! Kami terlambat datang. Tetapi Makele tidak akan membiarkan Emefzi seorang diri menghadapi masalah ini.”

“Terima kasih, Pangeran, kuharap kau mengetahui keadaan yang telah kami alami,” jawab sang Permaisuri dengan raut muka kesedihan yang dihiasi keriput itu.

Sang Pangeran menganggukkan kepalanya. Kemudian ia menjawab, “Aku, ayahku dan seluruh negeriku turut berduka cita atas semua yang terjadi di Emefzi sepanjang hari ini.”

Sang Permaisuri diam saja. Air mata deras mengalir dari kedua matanya dan untuk kesekian kalinya disekanya dengan sebuah sapu tangan. “Maafkan aku. Bicaralah dengan putriku saja. Aku sudah tidak kuat,” katanya terisak-isak. Kemudian sang Permaisuri beranjak dari ruangan itu diikuti oleh dua orang dayang-dayangnya.

Cukup lama ruangan itu hening semenjak ditinggalkan oleh Permaisuri, menyisakan sepasang muda-mudi yang pernah bertunangan. “Satu tahun telah berlalu, tetapi wajahmu tidak berubah sedikit pun, Musim Semi-ku!”

“Kurasa ini bukan saat yang tepat untuk merayuku, Pangeran,” balas sang Puteri. “Dan.. kurasa aku sudah tahu alasanmu memanggilku dengan sebutan Musim Semi.”

“Kau sudah membacanya? Sampai tuntas?”

“Maafkan aku, Pangeran! Aku di sini mewakili ibundaku untuk berbincang-bincang denganmu. Jadi berhentilah berbasa-basi denganku. Dan untuk sementara ini lupakanlah hubungan pribadi kita.”

“Oh, maafkan aku,” sang Pangeran tampak kikuk menghadapi Puteri itu. Dalam hati ia merasa takjub melihat ketegaran dan ketegasan sang Puteri menghadapi masalah yang sedang terjadi.

Kesenyapan terjadi lagi di antara keduanya sebelum akhirnya sang Puteri membuka mulutnya lagi. “Apa yang kau ketahui tentang segerombolan makhluk yang menyerang Emefzi hari ini? Segerombolan makhluk yang tidak hanya mengalap raja Emefzi, tetapi juga memisahkan anak-anak Emefzi dengan ibu-bapanya, serta para suami dengan istrinya. Banyak sekali kesedihan dan kehilangan terjadi hari ini oleh karena mereka merenggut tubuh-tubuh Manusia yang tidak berdosa...”

“Menurut laporan, mereka serupa Manusia tetapi memiliki sepasang sayap burung di punggungnya, dan berasal dari daerah utara – mungkin di sana ada daratan yang memungkinkan mereka untuk hidup dan berkembang biak. Karena mereka mampu terbang seperti burung, maka kami, orang-orang Makele menyebut mereka sebagai para ‘Leube’,” jawab sang pengeran yakin sambil tetap menunduk.

“Hanya itu?” tanya sang Puteri sekali lagi. “Tidak adakah lagi keterangan-keterangan lain yang bisa kau sampaikan kepadaku?”

“Mmm, tidak ada. Bahkan kitab Putih pun tidak menjelaskan keberadaan mereka di dunia ini selain naga-naga raksasa, yang merupakan bagian dari makhluk-makhluk kegelapan ciptaan....”

“Tunggu!” potong sang Puteri. Kemudian ia mondar-mandir, berpikir cukup lama, membuat sang Pangeran bingung. “Tunggu di sini sebentar!” Sang Pangeran dibuat semakin bingung karena sekarang kekasihnya itu malah meninggalkannya dan menyuruhnya menunggu di ruangan itu seorang diri.

Tak lama kemudian dengan tergopoh-gopoh sang Puteri akhirnya tiba kembali di ruangan itu membuat hati membuat sang pengeran sedikit lega. Sang Puteri membawakan sebuah buku tebal berwarna putih yang di sampulnya tertera judul “Kitab Putih”dalam bahasa Menal dengan aksara siku. Seutas senyum menghiasi bibir sang Pangeran melihat kitab itu. “Aku tahu kau pasti membacanya...,” bisiknya.

Kitab Putih adalah sebutan kitab bagi “Agama Putih” yang terdiri dari dua bagian : Perjalanan Sang Waktu dan Kebijaksanaan Suci. Kitab ini sebagian besar menceritakan kehidupan bangsa Duniz – bangsa keturunan Niz – pada zaman dahulu yang merupakan bangsa penyembah Sang Terang di Pulau Timur. Kemudian dibawah pimpinan Neyel Pe, beberapa dari mereka bermigrasi ke Daratan Bumi dan menyebarkan ajaran Sang Terang yang dianutnya kepada bangsa-bangsa Manusia.

“Kurasa aku sudah menemukan cara bagaimana kita bisa membinasakan mereka.” Dengan cepat sang Puteri membuka lembaran demi lembaran kulit kering yang menjadi bahan dasar buku itu. Dibukanya satu per satu hingga akhirnya berhenti pada satu halaman. “Bacalah ini. Bab Kesebelas : Perjuangan Terakhir.”

Tiba-tiba terdengarlah suara nyaring dari arah Barat, mengejutkan Naga-naga beserta penunggang-penunggangnya. Putra-putra Neyel Pe telah datang dari Daratan Bumi, bersama dengan Api di tangan mereka “Kau tidak akan memadamkan Nyala Api itu, sebab Apiku akan membinasakanmu terlebih dahulu.” Kemudian ribuan panah api dilesatkan ke udara mengenai sayap beberapa Naga yang sedang terbang. Maka terbakarlah sebagian besar Naga beserta penunggangnya. Dan beberapa mati karenanya.


“Jika putra-putra Neyel Pe bisa mengalahkan naga-naga raksasa dengan panah api, aku yakin kita juga bisa melakukannya terhadap para...”

“Leube..”

“Ya. Leube. Dan kurasa malam ini juga kita harus segera memberi tahu strategi ini kepada saudara-saudaraku dan para prajurit Emefzi yang sedang melakukan perburuan terhadap mereka.”

“Malam ini?” tanya sang Pangeran resah. “Haruskah malam ini?”

“Ya. Jika kau masih mencintaiku dan mengharapkanku menjadi istrimu, kau harus melakukannya, Pangeran Azmavre!”

“Oh, aku rasa ini bukan keputusan yang baik, Musim Semi-ku. Bukankah kau telah menyuruhku untuk melupakan sejenak hubungan pribadi kita?”

“Baiklah, jika itu keputusanmu, lupakan aku untuk selamanya. Selamat tinggal!” sang Puteri ‘Musim Semi’ itu segera bertolak meninggalkan Pangeran negeri Makele itu.

“Tunggu! Hal ini tidak ada hubungannya dengan hal itu.” Azmavre menangkap tangan kekasihnya, mencegahnya untuk pergi. “Kurasa kita perlu membicarakannya dengan kesepuluh ksatriaku yang datang bersamaku sore tadi... dan juga lebih baik jika kita melakukannya esok hari sambil menunggu kabar terbaru dari saudara-saudaramu.”

“Terlalu lama,” cetus sang Puteri melepaskan cengkeraman sang Pangeran. “Mereka adalah makhluk siang. Jadi jika kita menunggu hingga Matahari terbit, Emefzi akan mengalami satu kali lagi mimpi buruk, yang seharusnya bisa kita cegah malam ini juga. Jika kau keberatan, aku akan pergi sendiri saja.”

“Tunggu!” Sekali lagi Azmavre menangkap tangan sang Puteri. “Malam bisa membunuhmu jika kau...”

“Lepaskan aku!” bentaknya lantang hingga suaranya menggema di seisi ruangan. “Jika aku Musim Semi, maka kau lah Musim Dingin yang menahanku untuk tidak berbuat sesuatu demi kebaikan,” ancamnya dengan merujuk pada sebuah kisah di Kitab Putih yang berjudul Perjalanan Sang Waktu.

“Aku mohon, aku tidak ingin kehilangan....”

Tiba-tiba masuklah seseorang ke dalam ruangan itu mengalihkan perhatian kedua sejoli itu. Seseorang yang berseragam prajurit Emefzi tampak datang tergopoh-gopoh, dan berkata tebata-bata, “Tuan Puteri! T-tuan Puteri Ejello! A-ada y-yang perlu s-saya sampaikan kepada T-tuan Puteri beserta P-Permaisuri.” Raut mukanya menyibakkan nuansa ketakutan yang amat sangat. Bibirnya tampak menggigil.

“Ibunda pemaisuri sedang beristirahat,”jawab Ejello mantap, meskipun ia tampak kuatir dengan kabar yang disampaikan sebab ia mengenali sang prajurit merupakan bagian dari kelompok perburuan Leube yang sejak siang tadi menunaikan tugasnya bersama kedua saudaranya. “Katakanlah kepadaku! Nanti akan kusampaikan kepada ibunda Permaisuri.”

“Maafkan kami. B-berapa waktu y-yang lalu. K-kedua Pangeran m-mengalami nasib b-buruk. Makhluk-makhluk it-tu menyambar k-keduanya, dan m-membawanya t-terbang jauh dan t-tinggi. P-Pangeran Acmez berusaha melawan di udara hingga m-menyebabkannya jatuh ke tanah dan... m-meninggal seketika, sementara P-Pangeran Alubri mengalami n-nasib yang sama dengan T-tuanku Raja Atmemliv. B-bersama dengan sembilan belas orang dari kami b-beliau dibawa terbang ke arah pegunungan Zaimuluf.”

Ejello hanya bisa menggigit bibirnya. Dalam hatinya ia berseru, makhluk apakah ini yang menghabisi seluruh anggota keluargaku? Tetapi meskipun hatinya menangisi kepergian kedua saudaranya, ia mencoba menahan air matanya supaya tidak tumpah keluar. Sementara itu Pangeran Azmavre hanya bisa mematung.

“Lanjutkan!” katanya semakin lirih.

“S-sekarang empat orang p-prajurit sedang dalam p-perjalanan membawa j-jenazah Pangeran Acmez.”

Suasana kembali hening. Azmavre ingin sekali memberikan sepatah atau dua patah kata untuk menghibur Puteri Ejello, tetapi ia mengurungkan niatnya itu karena tiba-tiba saja Ejello berkata, “Di mana sarang mereka?”

Sedikit bingung, sang prajurit menjawab, “D-di gua-gua p-pegunungan Z-zaimuluf. M-mereka...”

“Tidak ada waktu lagi...” potong Ejello kemudian melesat pergi ke dalam kamarnya.

Di kamarnya, ia melepas kain alas tempat tidurnya, mengumpulkan semua buli-buli kecil berisi minyak wangi yang ia miliki – semuanya berjumlah sepuluh buli-buli – di atas kain itu, kemudian menutup dan mengikat kain itu sehingga menjadi sebuah buntalan. Tetapi ketika ia keluar dari kamar dan melintasi ruang pertemuan itu, ia melihat ibunda Permaisuri jatuh pingsan di depan prajurit pembawa pesan itu dikerumuni oleh dayang-dayangnya dan Pangeran Makele juga berada di situ. Sepertinya ibu sudah mendengar kabar buruk ini.

“Hei! Mau ke mana kau, Musim Semi-ku?” teriak seseorang menghampirinya.

“Aku akan menjemput jenazah saudaraku di pintu gerbang.”

“Dan ini?” tanya sang Pangeran penasaran dengan buntalan yang dibawanya.

“Minyak wangi,”jawabnya enteng. “Untuk dicurahkan ke jenazahnya, sesuai dengan adat suku Mefzi untuk ritual duka cita.”

***

Tiba-tiba saja sang Puteri menghentikan kudanya. Dilihatnya nyala dua obor kecil di sana. Mungkin itu mereka, batinnya. Dan memang benar, ketika didekatinya, ada empat orang berseragam prajurit Emefzi berjalan terseok-seok. Dua orang berjalan menyeret sebuah buntalan besar seukuran tubuh Manusia terbungkus kain bendera Emefzi, dan dua lainnya masing-masing membawa sebuah obor. Para prajurit itu tampak bingung dan takut ketika melihat bahwa pengendara kuda itu adalah Puteri Ejello.

“Jangan takut!” Sang Puteri turun dari punggung kudanya, membuka buntalan kecilnya dan membuka sebuah buli-buli di hadapan jenazah saudaranya itu. Disaksikan oleh para prajurit, di atas tanah yang lembab dan di bawah penerangan tiga buah nyala api obor kecil, Ejello menggelar ritual duka cita sesuai adat istiadat sukunya. Tetapi saat ia melakukan ritual pemotongan rambut dengan sebilah pedang milik seorang prajurit, ia bergumam, “Rambut ini...”

Dan seketika itu pula raut mukanya berubah menjadi serius dan menyeramkan menurut pandangan para prajurit. Ia pun berteriak dengan nada marah sehingga membuat mereka takut. “Kalian tidak seharusnya kembali pulang! Kalian sama halnya dengan Zod Zumen dan kedua belas ksatria pengecut yang kembali ke Timur!” ujarnya mengacu pada sebuah kisah di Kitab Putih. “Aku tahu kalian lelah dalam perburuan itu, dan berberapa kawan kalian diambil oleh mereka. Tetapi tidak seharusnya kalian menyerah begitu saja. Membawa pulang jenazah adalah sebuah hal bodoh yang kalian lakukan.”

Sejenak sang Puteri menghentikan ucapannya. Di hadapannya terbujur kaku jenazah saudaranya. Ia melepas mantel tebalnya, ditutupkannyalah pada jenazah pamgeran Acmez. “Berapa sisa anak panah yang kalian miliki?”

“Entahlah, Tuan Puteri... mungkin... tak kurang dari... dua puluh batang,” jawab salah seorang prajurit yang berjenggot agak takut.

“Salah satu dari kalian, pergilah ke istana membawa jenazah ini dengan kudaku. Beritahu Pangeran Makele supaya segera menyusulku ke Zaimuluf,” perintah sang Puteri. “Yang lain, ikutlah aku dalam perburuan di Zaimuluf!”

Kemudian salah seorang dari mereka yang berjenggot itu melaksanakan tugas membawa jenazah. Dan meski ragu, ketiga orang prajurit lainnya akhirnya mengikuti sang Puteri yang mereka anggap sudah gila. Terlebih lagi, karena Ejello adalah seorang putri Raja, mereka tidak kuasa untuk menolak perintahnya. Tetapi selama perjalanan ke Zaimuluf, Ejello berusaha memacu semangat ketiga prajuritnya untuk tetap bertahan menahan rasa kantuk dan lelah dengan menceritakan kisah-kisah kepahlawanan yang terdapat di Kitab Putih.

Sesampainya di sebuah titik di lembah pegunungan batu Zaimuluf, setelah perjalanan panjang yang cukup melelahkan, Ejello menghamparkan kain buntalannya. Ia melihat sejauh mata memandang hanya ada kegelapan dan kesunyian karena malam belum berganti pagi. Menurut keterangan para prajurit, para Leube sedang beristirahat di gua-gua pada dinding pegunungan batu itu. Kemudian ia mengambil sebilah pedang dan dengan pedang itu ia memotong rambut serta gaun panjangnya menjadi pendek sehingga potongan-potongan rambutnya itu berjatuhan di atas kain. Dikoyak-koyakkannyalah kain gaunnya itu menjadi beberapa bagian kecil berukuran kecil. Selanjutnya ia mengambil sebatang anak panah, membungkus mata anak panah itu dengan sepotong kain kecil yang diisi dengan sejumput potongan rambutnya dan mengikatnya, serta menuangkan minyak wangi ke permukaannya.

Para prajurit terpana heran. Saling berbisik, mereka menyangka sang Puteri sudah tidak waras lagi. Kemudian Ejello mengambil sebilah busur dari tangan seorang prajurit. Ditempatkannyalah anak panah itu pada talinya, dan dicelupkannyalah ujung mata anak panahnya ke dalam nyala api sebuah obor yang dibawa oleh salah satu dari mereka.“Uru Elzu dan Uru Enzu telah membinasakan naga-naga raksasa dengan panah api, dan dengan panah api pula kita akan membinasakan makhluk-makhluk jahat itu.” Sambil berseru demikian ia melesatkan anah panah itu dan mengenai sebuah titik di lereng Zaimuluf hingga terjadi kebakaran kecil di sana.

“Tuan Puteri! Apa yang anda lakukan?” tanya seorang prajurit kuatir. “Di sana ada banyak Manusia yang telah ditangkap oleh makhluk-makhluk itu..”

“Lebih baik mengorbankan mereka yang ada di sana daripada esok hari jatuh korban semakin banyak lagi,” sahut Ejello jelas.

Para prajurit akhirnya mengetahui maksud sang puteri. Mereka pun mengikuti apa yang dilakukan oleh sang puteri, menembakkan panah-panah api ke arah pegunungan itu. Dan semakin hebatlah kebakaran di gua-gua pada lereng pegunungan itu hingga memaksa banyak sosok Leube berhamburan keluar. Beberapa dari mereka terbang dengan sayap terbakar.

“Celaka! Persediaan anak panah kita habis,” celetuk seorang pajurit.

Tetapi keberuntungan hinggap di atas mereka. Sejumlah anak panah berapi berluncuran dari arah belakang. Pangeran Azmavre dari Makele beserta kesepuluh ksatrianya serta beberapa prajurit tambahan Emefzi datang tepat waktu memberikan dukungan. Lesatan-lesatan anak panah terdengar saling bersahutan di udara dan kilatan-kilatan cahaya api memercik menghiasi langit malam yang gelap itu. Dengan membabi buta para prajurit membidikkan panahnya ke angkasa dan tak jarang beberapa anak panah mengenai sayap makhluk-makhluk itu sehingga terdengarlah lengkingan-lengkingan jerit pilu dari para Leube yang nahas di atas sana. Banyak dari mereka jatuh berdebam dan mati di atas tanah dengan tubuh terbakar. Dan hanya sedikit dari mereka yang selamat, melarikan diri ke utara tepat ketika Matahari menampakkan diri di ufuk timur.

Setelah semuanya berakhir, tiada sorak sorai kemenangan yang gegap gempita terlontar dari mulut para prajurit Emefzi dan para ksatria Makele. Sementara para prajurit sibuk membersihkan bangkai-bangkai Leube yang terbakar, Ejello berlutut dan meratapi kematian ayahnya dan kedua saudaranya serta semua rakyat Emefzi yang telah menjadi korban. Sekarang air matanya benar-benar menetes.

“Sudahlah. Tiada yang perlu disesalkan, Musim Semi-ku,” hibur sang Pangeran Makele. “Kau sudah melakukan kebaikan. Keputusanmu untuk mengakhiri semua ini adalah baik meskipun harus mengorbankan beberapa jiwa tak berdosa.” Azmavre menyelimutkan mantelnya ke tubuh Ejello, dan ikut berlutut di samping sang Puteri yang kini berpakaian compang-camping itu. “Terkadang aku malu terhadapmu, terhadap keberanianmu, terhadap ketegaranmu, dan terhadap ketegasanmu. Dan kini aku lebih menyukaimu atas kedewasaanmu daripada setahun yang lalu ketika kau melarikan diri dari pesta pernikahan kita.”

“Kitab itulah yang sedikit banyak mengubah sifat-sifatku,” sahut Ejello menyeka air matanya dengan jubah yang baru saja melekat di tubuhnya. “Kitab Putih yang setahun yang lalu kau berikan kepadaku sebagai hadiah pernikahan kita.”

“Aku tahu kau pasti membacanya. Aku tahu pasti kitab itulah yang memuaskan hasrat keingintahuanmu terhadap kisah-kisah ajaib bangsa Duniz, karena di Emefzi hanya para pendetalah yang berhak memilikinya. Dan aku tahu kitab itu pasti akan bermanfaat bagimu, memberikan penerangan di saat-saat yang gelap.”

“Ya,” Ejello mengangkat tubuhnya berdiri. Diarahkannya pandangannya ke arah pegunungan di depannya yang masih dihiasi nyala api dan asap yang mengepul. “Kitab itulah yang juga menuntunku merasakan bahwa seorang Niz sepertimu pasti akan menjemput Musim Semi-nya.”
Read more...