Malam semakin larut. Tak seperti malam-malam sebelumnya, malam
ini api unggun banyak dinyalakan ruang-ruang terbuka dan banyak orang
tua-muda ramai berkumpul di sekitarnya sambil memakai pakaian-pakaian
aneh. Suara sorak-sorai membahana di seluruh penjuru Republik Irlandia.
Mereka merayakan Malam Samhain, malam akhir musim gugur, hari terakhir
mereka menikmati kehangatan, karena mulai esok hari, bulan Samhain,
mereka memasuki musim dingin yang harus mereka jalani dengan sedikit
sentuhan cahaya matahari.
Tak terkecuali Castleboy, sebuah kampung tradisional yang berada di sebelah tenggara Bukit Teamhair, County Meath,
Provinsi Leinster, yang meskipun hanya berdiri lima buah rumah dengan
hanya belasan orang penduduk saja, Malam Samhain juga dirayakan secara
sederhana namun meriah di sebuah tanah lapang. Mereka mengikuti beberapa
permainan tradisional seperti memungut apel dari ember berisi air
dengan menggunakan mulut, menebak nasib melalui roti barmbrack, atau hanya berdiang di sekitar api unggun saja.
“Ayo, James, kamu bisa!!!” teriak seorang wanita tua bertubuh besar
berpakaian ala nenek sihir. Sambil memegangi topi kerucutnya yang hampir
lepas karena tertiup angin malam, ia menyemangati seorang pria berambut
putih yang sedang mengikuti lomba memungut apel di tengah sorak-sorai
penonton lainnya.
“Marya, jangan kalah! Pamanmu mendukungmu!” balas seorang pria tua di
seberangnya tak kalah menyemangati keponakannya. Sang paman tampak
berbalut jas hijau, berdandan ala leprechaun. Dengan mengempit topi
hijaunya, ia terus menerus mengulangi kalimat yang sama.
Gadis yang bernama Marya itu semakin terpacu mendengar kata-kata
pamannya. Semakin cepat ia memunguti apel-apel yang mengapung di atas
permukaan air yang terdapat pada bak kayu berukuran cukup besar. Akan
tetapi ia masih tertinggal jauh dari James dan seorang remaja laki-laki
yang menjadi pesaing beratnya.
“Ayo, Nico, tinggal satu lagi.... Yeahhh!!!!” terdengar sorak sorai
dari sebuah keluarga. Lomba berakhir dengan kemenangan seorang remaja
bernama Nico. Ayah, ibu dan abangnya yang kompak memakai kostum zombie
segera memeluknya dengan gembira. Meskipun kalah, kedua peserta lain
tampak ikut bersuka cita. Demikian pula dengan seluruh warga kampung
Castleboy yang menonton lomba itu juga bergembira. Juara tahun lalu,
yaitu pria tua yang bernama James, menggendong remaja itu di atas
bahunya dan bersama dengan beberapa orang warga pria mengelu-elukan sang
pemenang dengan berlari mengitari api unggun.
“Perhatian!” kata seorang pria yang merupakan kepala kampung itu di
depan api unggun memecah keramaian. Ditemani anaknya yang masih berusia
setahun di gendongan tangannya, ia berseru, “Untuk lomba memungut apel
ini, pemenangnya adalah... Nicholas Devine.”
“Yeaaahh,” sambut yang lain dengan gegap gempita.
***
Sementara itu, tanpa disadari ada dua sosok wanita bergaun kelabu
berdiri tidak terlalu jauh dari api unggun berada. Kontras dengan para
penduduk yang merayakan Malam Samhain, tak ada nuansa kegembiraan pada
kedua sosok ini. Dalam kegelapan keduanya berjalan menyusuri sebuah
padang rumput di timur Bukit Teamhair, hanya cahaya bulan benjol serta
bintang-bintang di langit saja yang memandu jalan mereka.
“Aku sudah tak tahan lagi, kakak. Aku menginginkan mereka,” bisik
salah satunya tiba-tiba menghentikan langkah. Pandangan wanita itu
mengarah ke timur di mana ada api unggun menyala yang di sekitarnya
terlihat ada beberapa orang sedang bergembira merayakan Malam Samhain.
“Vlaluua, sudah gila kau rupanya,” sergah sang kakak.”Bukankah kita
sudah berjanji tidak akan mengganggu manusia lagi dan kembali ke dunia
kita? Lagi pula kita harus segera ke bukit itu sebelum fajar tiba.”
“Tapi, aku sudah tidak kuat lagi, kakak. Aku sangat membutuhkan sisa
usia bayi-bayi manusia dan anak-anak muda itu untuk menambah tenagaku,”
potongnya. “Jangan halangi aku. Biarkan aku mengisi kembali tenagaku.”
Vlaluua segera mengambil langkah seribu. Kakaknya gagal menangkapnya ketika ia bertolak.
“Vlaluua! Tunggu! Kau tidak boleh melakukannya. Ada banyak Fian di sini! Kau bisa celaka!”
“Fian?” Ia berhenti sejenak, dan kakaknya berhasil menangkap lengan
kanannya. “Aku tidak percaya adanya Fian. Aku hanya butuh usia mereka!
Lepaskan aku, kakak! Biarkanlah aku menanggung sendiri risiko atas
perbuatanku ini. Jika memang ada seorang Fian menangkapku atau
membunuhku, biarlah itu terjadi, dan kau tidak usah terlibat di
dalamnya.”
“Vlaluua!”
“Aku sudah bosan bersamamu, Rheeakan. Aku bosan menjadi adikmu. Aku
ingin menuruti kata hatiku sendiri. Biarkanlah aku memilih untuk tidak
kembali ke dunia kita. Jika kau ingin ke sana, pergilah sendiri ke sana
sekarang sebelum gerbangnya tertutup.”
“Vlaluua! Enam tahun kita bersama, kau sudah kuanggap sebagai adikku
sendiri. Dan kini kau mengecewakanku. Bertahun-tahun bersama kita telah
melakukan perjalanan untuk menuju Bukit Teamhair, tetapi ketika bukit
itu sudah di depan mata, kau...”
“Tutup mulutmu, Rheeakan dan pergilah dari hadapanku! Demi aku, pergilah!”
“Baiklah, jika itu memang keputusanmu. Semoga kau baik-baik saja dan
kita akan berjumpa lagi. Selamat tinggal.” Rheeakan perlahan melangkah
mundur, dengan rasa terpaksa dan penuh kekecewaan ia menjauh dari tempat
Vlaluua berdiri, ke arah Bukit Teamhair sementara Vlaluua bergeming
menatap ke arah kampung itu.
***
“Nyanyian yang sangat merdu, dari mana asalnya?” Hampir bersamaan dua
orang remaja kakak beradik berdiri dari duduknya menghentikan kunyahan
roti barmbrack mereka.
“Kau juga mendengarnya, Eugene?” tanya sang adik. “Bahasa apa itu?”
“Suara apa? Ada-ada saja kalian ini... Paling hanya suara angin
malam. Biasa terjadi dini hari seperti ini. Hahaha.” Seorang pria
berkumis yang juga tengah memakan sebuah barmbrack mengomentari percakapan kedua kakak beradik itu.
“Iya, benar kata Chris. Ayo, habiskan roti kalian dan lihat apa
kalian mendapat kacang, potongan kain, koin atau cincin di dalamnya!”
kata wanita berkostum nenek sihir. Kau mendapatkan apa, Chris?”
“Cincin??? Hahaha... apakah artinya aku akan menikah lagi?” katanya
sambil tersenyum nakal kepada istrinya di samping kanannya yang sedang
memangku kedua anak kecilnya.
“Tapi suaranya semakin jelas, sangat merdu...” Sang adik meletakkan barmbrack-nya yang baru termakan setengah itu, dengan sebuah potongan kain terlihat terselip di dalamnya.
“Ya, benar, Nick, suara seorang wanita.”
“Tutup telinga kalian! Jangan dengarkan suara itu! Itu suara Bean
Sidhe!” Tiba-tiba James berteriak dari seberang sana membuat suasana
yang ramai itu menjadi hening. Ia lalu mendapati keduanya tengah
terpesona dengan pandangan kosong.
“Bean Sidhe? Kau masih percaya takhayul seperti itu, James?” sahut
Chris sambil mengamati cincin yang diperolehnya dari rotinya. “Apa kau
bisa mendengarnya juga?”
“Tidak, tapi tolong siapapun yang mendengar suara seperti nyanyian
merdu, tutup telinga kalian, sebab itu adalah lagu kematian bagi yang
mendengarnya.”
“Kau gila, James! Jadi kau mengharapkan anak-anakku mati muda?” Ayah
kedua remaja itu naik pitam mendengar kata-kata James. Di sampingnya,
istrinya mendekap erat tangannya.
“Oh, jangan salah paham. Michael. Justru aku tidak ingin anak-anakmu
mati muda, oleh karena itu aku menyuruh mereka menutup telinganya
masing-masing. Sebab di kampung halamanku di Dublin, aku pernah
kehilangan seorang sahabatku yang meninggal tanpa sebab setelah ia
mendengar sebuah nyanyian di mana hanya ia yang bisa mendengarnya.
Eugene, Nicholas, tutup telinga kalian rapat-rapat!”
“Kau terlalu banyak bicara, James!” sebuah tinju hampir dilepaskan ke
arah James tetapi ditahan oleh beberapa orang laki-laki. Suasana yang
damai dan penuh kekeluargaan itu pun berubah menjadi kerusuhan. Kedua
pria itu pun segera dilerai dan dipisahkan.
“Tunggu! Marya keponakanku juga mendengarnya, ”seru pria tua
berkostum leprechaun yang sejak tadi bersama keponakannya berdiang di
dekat api unggun.
“Tutup telinganya, Richard!” seru James dari kejauhan.
“Tidak, Richard. Kita tidak boleh percaya hal-hal takhayul seperti
itu. Bean Sidhe tidak ada,” balas Michael Devine. “Tidak ada buktinya.”
“Paman, aku melihatnya,” sahut Marya. “Ia yang menyanyikan nyanyian
merdu ini... seorang wanita yang sangat cantik, seperti almarhumah ibu
di ujung sana. Rambutnya panjang keemasan berkibar-kibar diterpa angin.”
Marya menunjuk kejauhan sebuah titik yang gelap, di bawah bukit
Teamhair.
“Celaka! Ada empat orang bayi di sini,” gumam James. “Chris, Phil,
tutup telinga bayi-bayi kalian, jangan sampai bayi-bayi kalian juga
mendengarnya!”
Christopher dan Phillip beserta istrinya masing-masing merasa bingung
apakah harus melakukan perintah James. Sebagai kepala kampung Castleboy
sebenarnya Phillip tidak mau warganya saling bertengkar karena hal yang
tidak penting seperti ini.
“Apa-apaan lagi ini?” ujar Michael Devine sambil memeluk anak bungsunya yang berusia 17 tahun. “James sungguh kacau malam ini.”
“Chris, Phil, apa yang kalian tunggu? Cepat tutup telinga mereka!”
“Oke, Tuan Cosgrave! Kami akan menutup telinga bayi-bayi kami tetapi
setelah kau pulang ke rumah Mary Graham,” Phillip merasa hal itu perlu
dilakukan demi menjaga ketentraman kampungnya. “William, John, tolong
antar kawan kalian ini pulang!”
Terpaksa James mengalah. Ia merasa tak sanggup lagi mencegah hal-hal
buruk yang mungkin terjadi nanti. Tetapi belum selangkah mereka
tapakkan, terdengar keluhan dari mulut Pak Tua Richard Wilkinson.
“Marya? Apa yang terjadi padamu?” Marya jatuh tergeletak tak sadarkan
diri di pangkuan pamannya. Dan satu per satu, dua bersaudara Devine
juga menjadi lemah tak berdaya.
“Gene! Nico! Apa yang terjadi padamu? Tidaaak!!” jerit sang ibu.
“Panggilkan ambulans! Tolong! Demi mereka...”
James dan kawan-kawannya menghambur menolong anak-anak itu. William
dan John menolong keluarga Devine, sedangkan James berlari ke arah Pak
Tua Richard.
“Untuk sementara bawa masuk ke rumah masing-masing!”
“Apakah dia sudah..?”
“Berdoa saja, Pak Tua, semoga tidak ada yang buruk terjadi pada keponakanmu.”
***
Kegembiraan Malam Samhain di kampung Castleboy berubah menjadi teror
dan kesedihan yang sangat mendalam pada setiap keluarga. Tiga anak muda
meninggal secara misterius dalam waktu yang hampir bersamaan.
Aliran-aliran energi ‘sisa usia’mengalir memenuhi tubuh sesosok
kelabu di atas padang rumput di sebelah barat Castleboy. Perlahan
tubuhnya yang semula lemah berubah menjadi kuat dan wajahnya yang sayu
itu menjadi berseri-seri.
“Kurang sedikit... sedikit lagi..., tinggal bayi-bayi itu saja..”
“AWAAAS!!” Sebuah tubuh menerjang sosok kelabu itu dari belakang,
hingga mengakibatkan ia terdorong ke samping kanan dan terguling di atas
rerumputan.
“Rheeakan? Berani-beraninya kau mengacaukan ritualku...”
“Ssst!!! AWAAAS!!” Rheaakan mendorongnya lagi hingga berguling satu meter lagi ke samping kanan.
ZZZZBB
ZZZZBB
“Apa itu?”
“Ayo! Cepat lari dari tempat ini! Seorang Fian hampir menombakmu dengan tombak-tombak sihir”
“AWAAS!! MERUNDUUUK!”
ZZZZBB
“Rheeakan! Kakimu...” Sebuah tombak Fian berhasil tertancap pada betis kanan Rheeakan menembus ke tanah menghalangi langkahnya.
“Pergilah, Vlaluua! Cepat pergi ke Bukit Teamhair! Jangan hiraukan aku! Sebentar lagi fajar menyingsing.”
“Tidak! Aku tidak mungkin meninggalkanmu seperti...,”
ZZZZBB
ZZZZBB
“Aargh” Dua buah tombak hampir mengenai tubuh Vlaluua, beruntung
dengan refleks ia segera berjangkit menghindarinya. Tetapi salah satunya
menancap di punggung Rheeakan menembus juga sampai ke tanah membuatnya
terpaku di atas tanah. “Demi aku, pergilah! Percayalah kita akan bertemu
lagi!”
“Maafkan... aku.” Vlaluua merasa sedih. Ia merasa sangat menyesal
karena kesalahan yang telah dilakukannya beberapa waktu yang lalu
terhadap Rheeakan. Sebuah perbuatan sangat bodoh yang ia lakukan. Dan ia
berharap waktu akan beputar kembali ke tempat di mana ia belm melakukan
perbuatan bodoh itu. Kemudian ia pun segera pergi dari tempat itu
“Ya, aku memaafkanmu. Sebab kau tetaplah adikku, meskipun kau tidak
menganggapku lagi sebagai kakakmu,” katanya sambil tersenyum.
***
Rheeakan tertinggal sendiri. Ia hanya menunggu saat kematiannya saja
dengan cepat di tangan Fian atau dengan lambat ketika cahaya matahari
terbit melenyapkan tubuhnya tak bersisa beberapa jam lagi.
Seorang Fian mendekatinya dari belakang tanpa suara. Diterangi sebuah
obor pada tangan kirinya, ia meyakinkan dirinya akan makhluk yang
ditombaknya. “Cuma satu?” gumamnya.
“Tuan, hanya aku.. yang ada di sini.. sejak tadi. Maafkan aku...
Akulah... yang membuat... kekacauan... di kampung... di bawah sana...”
kata Rheeakan terbata-bata menahan sakit di tubuhnya demi menutupi
keberadaan adiknya.
“Kau pikir aku bisa kaubodohi?” tanggap sang Fian. Tubuhnya tinggi
dan tegap, cukup tampan dengan cambang panjang menyatu dengan jenggotnya
yang pendek. “Bean Sidhe tidak mampu berbahasa Gael, mereka hanya mampu
menyanyikan nyanyian merdu dengan bahasanya sendiri.” Sang Fian
mendekati Rheeakan. “Berarti kau adalah Leanan Sidhe, pelahap cinta?
Sayang sekali aku bukan seniman yang membutuhkan inspirasi untuk
ditukarkan dengan cinta sehingga kau tidak bisa menjadikanku sebagai
korban.”
“Benar...katamu..., tapi... sekarang... nasibku.... berada... di...
tanganmu. Aku--lah... korban--mu.” Rheeakan menangis, “Aku.. hanya..
memohon... kepadamu.. supaya.. setelah... aku mati... nanti... kau..
tidak memburu... kaumku.. lagi...”
“Huhh.. berani-beraninya kau menyuruh-nyuruhku ini itu!!” Sang Fian
mendengus-dengus membaui daerah sekitarnya. “Sepertinya kau berusaha
membodohiku lagi.” Matanya tiba-tiba memancar seperti kilat, menerawang
daerah di barat sana, bukit Teamhair. “Ada Aes Sidhe lain selain dirimu
di sekitar sini. Aku harus me..”
“Jangan,”teriak Rheeakan panik. “Kumohon.., Tuan.., Bean Sidhe...
itu... adalah... adikku. Janganlah... kau... menghalanginya... untuk
menuju... Gerbang..., sebab.. ia akan pulang... ke negerinya..., dan
tidak akan... berkeliaran... lagi... di dunia ini.... Aku berani...
menjaminnya.”
“Kau pikir aku percaya kepadamu lagi? Kau hanya menahanku dan
membuatku berlama-lama di sini untuk menyelamatkannya? Tidak akan. Aku
akan pergi memburu semua Aes Sidhe di mana pun mereka berada, dan
membunuh semua kaummu yang berkeliaran di dunia ini.”
“Lalu... sebenarnya.. apa.. yang kau.. harapkan.. dengan memburu..
kami.. Tidakkah bisa.. kaummu dan kaumku hidup.... berdampingan...
dengan damai,... penuh cinta.... dan kasih sayang,... saling
membutuhkan...? Dahulu... memang... nenek moyang kami... sangat
sombong... dan merasa diri... seperti dewa... tetapi nenek moyangmu...
telah menaklukkan... mereka... sehingga mereka... harus menyingkir... ke
dunia lain.... Akankah kau... mengakhiri... hidupku... dan kaumku...
seperti Fionn... yang telah membunuh... Aillen... yang dahulu pernah...
membakar... bukit itu?” kata Rheeakan memandang jauh ke bukit Teamhair.
“Itu bukan urusanku,” sahut sang Fian dingin. “Yang pasti, bersama
dengan para Druid, para Fian harus ada tidak hanya melindungi Teamhair
tetapi juga untuk melindungi seluruh Irlandia dari para Aes Sidhe yang
terkutuk. Kaummu itu harus dibinasakan karena sering membuat sengsara
para manusia.” Setalah itu pergilah ia meninggalkan Rheeaka seorang diri
ke arah bukit Teamhair.
***
Adapun Vlaluua menyusuri bukit Teamhair yang landai dan luas itu.
Kabut mulai turun membuat pandangannya semakin kabur. Mamang, sebagai
makhluk malam, sesosok Aes Sidhe seperti dirinya mampu berjalan dalam
keadaan miskin penerangan, tetapi terkadang kabut bisa mengganggu
penglihatannya. Dengan langkah sempoyongan akhirnya sosok kelabu itu
tiba di sebuah monumen batu setinggi satu meter dan duduk bersandar
padanya, setelah berputar-putar tanpa hasil di area bukit itu mencari di
mana gerbang menuju dunianya berada.
Tubuhnya mulai lelah dan ia butuh 'sisa usia' manusia lagi untuk
mengisi tenaganya, tetapi tidak ada seorang manusia pun di bukit itu.
Bukit itu kosong, setiap hari hanya digunakan sebagai tempat
menggembalakan domba masyarakat sekitarnya. Sementara beberapa jam lagi
fajar menyingsing. Ia menangis. “Tidak. Aku tak boleh mengecewakan
Rheeakan. Aku tak boleh..” Hanya suara sesenggukannyalah yang memenuhi
ruang terbuka itu. Rheeakan, “maafkan aku..”
Kemudian tiba-tiba ia tersentak. Seolah-olah tumbuh sebuah tunas harapan baru, ia bersorak dalam hati. Batu ini. Batu dari Falias, Batu Takdir. Pasti batu ini bisa memberiku pesan tentang di mana letak Gerbang itu .
Dan benar setelah Vlaluua merapal sebuah mantra, dari permukaan batu
itu berpendar sebuah tulisan dalam bahasa Aes Sidhe, yang terukir dengan
aksara Ogham berbunyi :
Gerbang sudah lama ditutup. Tidak ada ruang lagi untuk Aes Sidhe. Nasib mereka di tangan Fianna.
Mengetahui hal itu, pupuslah sudah asa Vlaluua untuk kembali ke
dunianya. Bersamaan dengan pudarnya pendaran cahaya Batu Takdir itu, ia
pun tidak tahu lagi harus berbuat apa. Tiada lagi kawan untuk berbagi
pikiran. Ia sangat kesepian.
ZZZZBB
ZZZZBB
ZZZZBB
ZZZZBB
Ternyata nasib baik masih jauh darinya. Dua buah tombak sihir
tertancap di sebelah kanannya dan dua lagi di sebelah kirinya cukup
membuatnya tersentak kaget. Ada Fian yang mengetahui keberadaanya dan
menyerangnya dengan tombak sihir. Panik, ia bersembunyi pada sisi lain
Batu Takdir. Suara ringkikan dan derapan kaki seekor kuda yang semakin
lama semakin jelas dari balik batu itu. Apakah ia orang yang sama dengan orang yang menangkap Rheeakan? Dengan sangat ketakutan, Vlaluua semakin melekatkan dirinya pada Batu itu.
ZZZZBB
ZZZZBB
Dua buah tombak menancap lagi di permukaan tanah di depannya
membuatnya semakin terperanjat. Kali ini ada tiga buah sosok membawa
obor api muncul dari kegelapan dari hadapannya, mengendarai kuda
masing-masing dari arah depan, samping kanan dan samping kirinya. Astaga, mereka mengepungku.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Cerpen ini diikutkan dalam Lomba Cerita Bulanan Kastil Fantasi (Oktober'12)
http://www.goodreads.com/topic/show/1064761-lomba-cerbul-kasfan-oktober-12#comment_61352395
Read more...
(KISAH LAIN) BAWANG MERAH DAN BAWANG PUTIH
“Apakah tidak terlalu berbahaya, Ahmar?”
“Sepertinya tidak. Lihat, di tempat ini hanya kita yang tersisa. Monster raksasa itu sudah membantai keluargamu dan keluargaku.”
“Tapi bagaimana cara kita keluar dari tempat ini? Monster itu sepertinya masih berada di luar sana. Dia bisa saja menguliti kita dan mencincang kita dengan alat penyiksa itu jika kita ketahuan melarikan diri seperti yang dilakukannya kepada saudara-saudara kita.”
“Kita sudah berhasil keluar dari kurungan itu, Abyad, sekarang tinggal lari sekencang-kencangnya keluar dari sarang monster ini, dan menemukan tanah yang baik untuk kita bersembunyi di dalamnya. Mari! Aku akan melindungimu.”
Maka Abyad yang bertubuh lebih gemuk daripada Ahmar itu pun bertambah rasa percaya dirinya. Ahmar berlari di belakangnya mencari jalan keluar dari sarang monster raksasa itu.
“Lihat! Itu ada cahaya! Pasti cahaya matahari! Lama aku tidak melihatnya..,”
“AWAS, ABYAD!” seru Ahmar. “MONSTER!”
Tiba-tiba bumi tempat mereka berpijak bergoncang hebat. Monster raksasa itu datang dengan langkah berdebam keras dan bergumam dengan bahasa lain yang tidak mereka kenal. Suara gumamannya pun terdengar bergemuruh memekakkan telinga. Sang monster pun akhirnya menangkap Abyad dalam genggaman tangan besarnya.
Ahmar segera bersembunyi di balik sebuah benda yang terbuat dari kayu. Hatinya semakin pilu mendengar jeritan minta tolong sahabatnya itu. “AHMAR! TOLONG AKU!”
Tanpa pikir panjang ia menghambur keluar dengan maksud menantang monster raksasa itu. “Hai, monster jahat! Ini aku! Tangkaplah aku dan siksalah aku, jangan dia!” Sayang, moster itu tidak mendengar suaranya bahkan sama sekali tidak memerhatikannya.
***
Abyad kembali terkurung, tetapi di tempat yang berbeda, lebih dingin dan lebih gelap daripada tempat ia dikurung sebelumnya bersama Ahmar dan keluarganya.
“Kenapa kamu menangis? Kamu tidak sendiri, ada kami di sini,” kata sosok lain di tempat itu.
“Ya, sadarilah bahwa kita memang ditakdirkan untuk dipotong-potong oleh makhluk monster itu,” sahut yang lain. “Kamu hanyalah sebuah bawang putih dan kami hanyalah sekelompok cabai merah dan cabai rawit yang tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu waktunya dipotong-potong oleh monster itu.”
“Sekali kita terkurung di dalam plastik ini dan di lemari pendingin ini, masing-masing dari kita hanya bisa berharap monster itu tidak segera mengambil salah satu dari kita.”
“Perkenalkan kami keluarga cabai merah tinggal empat saja. Aku Adom Alef yang tertua, dan ini kerabat jauh kami, keluarga cabai rawit hanya tinggal berdua saja.. Yarok Alef dan Yarok Bet.”
“Selamat datang, walaupun kamu berbeda tetapi kamu kami anggap sebagai bagian dari keluarga ini,” kata Yarok Alef.
“Semoga kamu betah tinggal bersama kami dan tidak diambil oleh monster jahat itu,” sambug Yarok Bet.
Abyad masih gamang. Sudah lama ia kehilangan saudara-saudaranya sesama bawang putih yang satu per satu diambil oleh monster itu. Ia juga baru saja terpisah dari Ahmar, sang bawang merah yang sudah lama dikenalnya. Dan kini ia disambut oleh sebuah keluarga yang tampak menyerah menghadapi keadaan. Sungguh berbeda daripada sewaktu ia dan keluarganya berada bersama-sama keluarga bawang merah yang selalu berapi-api, selalu berusaha untuk membebaskan diri sekalipun pada akhirnya satu per satu berakhir di tangan monster itu. Dalam hati ia hanya bisa berharap, “Semoga kamu baik-baik saja, Ahmar.”
***
Sementara itu Ahmar kelelahan. Ia gagal menarik perhatian monster raksasa itu. Tetapi ia tidak putus asa. Dikerahkannya otak kecilnya untuk berpikir bagaimana caranya menyelamatkan Abyad. Suasana di tempat itu menjadi gelap. Mungkin matahari sudah terbenam, aku harus segera menngeluarkannya dari tempat itu, pikirnya menghadap sebuah benda raksasa, tempat sang raksasa mengurung sahabatnya.
Kemudian datanglah sosok monster raksasa lain dengan langkah berdebam membawa setumpuk tomat di sebuah tempat pipih. Tomat-tomat berwarna merah ranum bernyanyi meratapi nasibnya dengan nada sendu menyayat hati.
“Kami tidak akan takut
Meskipun kami dibelah dan direbus dalam air panas
Dan kami tidak akan takut
Meskipun hidup kami berakhir sebagai lumatan
Tetapi...
Apakah kesalahan kami sehingga kami harus mengalaminya?
Apakah kesalahan kami sehingga kami takluk di depan mereka?”
Monster raksasa itu tiba-tiba menghentikan langkahnya, melihat ke bawah ke arah Ahmar yang setengah mati menahan rasa takutnya. Dengan sekuat tenaga ia menyemburkan nafas apinya, yang merupakan senjata alami keluarga bangsa bawang merah, kepada sang monster, hingga raksasa itu mengerang kesakitan karena matanya perih terkena nafas api itu.
Sang monster meletakkan tomat-tomat di atas kotak putih raksasa tempat Abyad berada – yaitu lemari pendingin – sebelum akhirnya pergi berlalu dari situ. Ahmar berseru-seru dari bawah, memanggil para tomat yang kurang lebih berjumlah sepuluh buah itu. “Hai! Jikalau kalian tidak takut mati, untuk apa kalian meratapi nasib seperti itu?”
Tomat-tomat itu pun menjawab dengan nyanyian, “Siapakah gerangan yang berkata-kata itu?”
“Ini aku, sebuah bawang merah, di bawah sini!”
Para tomat pun terlihat bergerak ke tepi dan mendongak ke bawah. “Hai, kamu bawang merah, apa yang kamu lakukan di bawah sana? Apa kamu terlepas dari kelompokmu? Atau para raksasa itu telah membuangmu?”
“Bukan. Aku melarikan diri dari mereka. Aku ingin hidup bebas. Maukah kalian hidup bebas sepertiku? Kita bisa mencari tanah yang baik untuk tempat kita berlindung, mengistirahatkan tubuh kita dan tumbuh sebagai tanaman yang hidup abadi.”
“Wow! Kalau itu sih kami mau, tapi bagaimana caranya?” tanya mereka kembali.
“Bagaimana kalau kalian membantuku dulu untuk....”
Percakapan mereka terputus, dua sosok monster raksasa datang ke ruangan itu dengan langkah yang menggoncang-goncangkankan bumi. Salah satu monster membuka lemari pendingin dan mengeluarkan sebuah bungkusan transparan berisi beberapa cabai dan...
“ABYAAD! ABYAAD! INI AKU!” teriak Ahmar begitu ia menyadari sahabatnya berada si sana.
Dari kantong plastik transparan itu pun Abyad membuka matanya melihat wujud kecil sang bawang merah sahabatnya itu jauh di bawah sana semakin lama wujudnya semakin mengecil.
“AHMAR!” seru Abyad gembira.
“Oh, itukah sahabatmu, si bawang merah itu?” tanya Adom Alef. Abyad mengangguk. Tetapi kegembiraannya itu hanya sementara karena pasti monster-monster ini pasti akan mengakhiri hidupnya bersama para cabai.
Gawat! Mereka pasti akan membunuh Abyad
Ahmar segera berlari mencoba sekali lagi mengalihkan perhatian kepada sang monster. Tetapi sayang sekali, sang monster malah menangkapnya dan memasukkannya ke dalam sebuah wadah kemudian menggelontorkan air ke dalam wadah itu hingga Ahmar tak sadarkan diri.
AHMAR!” Terdengar suara Abyad tak jauh dari tempat Ahmar terapung tak berdaya di atas air. Di depan mata Abyad, sang monster dengan tanpa ampun menguliti Ahmar dan mencincang tubuhnya di dalam wadah berisi air itu. Perasaannya sangat terpukul dan tak ada hal yang dapat ia lakukan selain menangisi kepergian sahabatnya itu.
“Mari kita balaskan kematiannya kepada monster-monster itu!” sahut Adom Alef kepada para cabai.
Sementara itu para tomat pun telah menyaksikan semuanya, kebiadaban para monster menghabisi nyawa sebuah bawang merah yang baru saja mereka kenal.
“Mari saudara-saudaraku, kita habisi para monster biadab itu demi kebebasan kita!” kata sebuah tomat kepada kelompoknya.
Kemudian para tomat meluncur ke bawah melalui rak piring di sebelah lemari pendingin itu, memecahkan sebagian besar benda pecah belah yang dilewatinya. Kedua monster itu menjadi bingung melihat tomat-tomat bergelindingan jatuh ke bawah menghancurkan piring-piringnya. Para cabai pun tak tinggal diam. Mereka berhasil merobek plastik. Menyerang para monster yang sedang bingung itu dengan menumpahkan botol kecil berisi bubuk merica ke atas lantai sehingga para monster itu menjadi semakin kewalahan karena matanya terkena serbuk merica, berusaha mencari air untuk menghilangkan perihnya.
Setelah itu dengan membabi buta, para monster berlomba-lomba menangkap para tomat dan cabai. Dan akhirnya terkumpullah mereka semua tanpa terkecuali dalam sebuah wadah yang diisi air, bersama potongan-potongan tubuh sang bawang merah. Salah satu monster mengambil alat pelumat yang sangat ditakuti oleh para tomat.
“Tamatlah riwayat kita di alat itu,” jerit para tomat.
Tanpa basa-basi para monster itu memasukkan semuanya ke dalam alat pelumat itu. Dan di depan mata Abyad, sang bawang putih yang sedari tadi meratapi kematian sahabatnya, tubuh para tomat dan para cabai hancur tanpa bentuk di dalam alat itu.
“Selamat tinggal semuanya! Mungkin sebaiknya aku menunggu kematianku saja di tangan mereka.”
Tetapi para monster itu sama sekali tidak menyakiti Abyad. Mereka menyimpan kembali Abyad di sebuah tempat tertutup, di mana Abyad sendirian meratapi nasibnya.
===================================================
Cerpen ini diikutsertakan dalam Lomba Cerita Fantasi Bulanan Kastil Fantasi Agustus 2012
(http://www.goodreads.com/topic/show/994759-lomba-cerbul-kasfan-agustus-12?type=topic#comment_57714393)
Read more...
HIKAYAT PUTERI PEMBERANI
Matahari sudah lama terbenam di ufuk barat. Kegelapan Malam sudah menguasai dunia, menebarkan rasa takut kepada pada setiap makhluk dan mengganti hingar bingar kehidupan menjadi kesenyapan di seluruh negeri, tak terkecuali Emefzi yang baru saja hari itu dilanda kekalutan.
Hanya terdengar suara derap langkah seekor kuda memecah kesunyian pada sebuah jalanan yang sepi. Di punggungnya duduk seorang gadis bergaun panjang khas Puteri kerajaan mengendarai sang kuda tanpa rasa takut. Tubuh sang Puteri terbalut pula sebuah mantel tebal yang melindunginya dari dinginnya angin malam. Tangan kirinya memegang kendali sedangkan sebuah obor dengan api yang menyala redup ada pada tangan kanannya, cukup mampu untuk memberikan penerangan kepada tunggangannya itu
Sang kuda berlari dengan sangat kencang sehingga menyibakkan rambut penunggangnya yang panjang itu melambai-lambai tertiup angin. Gerakannya meliuk ke sana ke mari dan sesekali ia meloncat mencoba menghindari bebatuan dan kubangan air yang merintangi jalannya. Sang Puteri kelihatannya sedang terburu-buru pergi ke suatu tujuan atau sedang melarikan diri dari sesuatu, bergerak ke arah barat melalui sebuah jalur menuju pegunungan Zaimuluf.
Untuk kesekian kalinya, sang penungang kuda menukar tangannya yang digunakan untuk menggenggam tali kendali dengan tangan yang lain yang dipakai memegang obor. Sementara itu di pikirannya melayang-layang kilasan-kilasan peristiwa yang terjadi beberapa waktu yang lalu di dalam istana, sampai kepada suatu hal yang akhirnya memaksanya pergi sendiri malam itu.
***
“Sekarang keberuntungan sudah menjauhiku dan kebahagiaan sudah meninggalkanku. Makhluk-makhluk jahat itu telah mengalap suamiku dan sekarang putra-putraku belum kembali dalam perburuan mereka,” kata seorang wanita tua bergaun kelabu menitikkan air matanya. “Haruskah aku juga kehilangan mereka?”
“Maafkan kami, Permaisuri! Kami terlambat datang. Tetapi Makele tidak akan membiarkan Emefzi seorang diri menghadapi masalah ini.”
“Terima kasih, Pangeran, kuharap kau mengetahui keadaan yang telah kami alami,” jawab sang Permaisuri dengan raut muka kesedihan yang dihiasi keriput itu.
Sang Pangeran menganggukkan kepalanya. Kemudian ia menjawab, “Aku, ayahku dan seluruh negeriku turut berduka cita atas semua yang terjadi di Emefzi sepanjang hari ini.”
Sang Permaisuri diam saja. Air mata deras mengalir dari kedua matanya dan untuk kesekian kalinya disekanya dengan sebuah sapu tangan. “Maafkan aku. Bicaralah dengan putriku saja. Aku sudah tidak kuat,” katanya terisak-isak. Kemudian sang Permaisuri beranjak dari ruangan itu diikuti oleh dua orang dayang-dayangnya.
Cukup lama ruangan itu hening semenjak ditinggalkan oleh Permaisuri, menyisakan sepasang muda-mudi yang pernah bertunangan. “Satu tahun telah berlalu, tetapi wajahmu tidak berubah sedikit pun, Musim Semi-ku!”
“Kurasa ini bukan saat yang tepat untuk merayuku, Pangeran,” balas sang Puteri. “Dan.. kurasa aku sudah tahu alasanmu memanggilku dengan sebutan Musim Semi.”
“Kau sudah membacanya? Sampai tuntas?”
“Maafkan aku, Pangeran! Aku di sini mewakili ibundaku untuk berbincang-bincang denganmu. Jadi berhentilah berbasa-basi denganku. Dan untuk sementara ini lupakanlah hubungan pribadi kita.”
“Oh, maafkan aku,” sang Pangeran tampak kikuk menghadapi Puteri itu. Dalam hati ia merasa takjub melihat ketegaran dan ketegasan sang Puteri menghadapi masalah yang sedang terjadi.
Kesenyapan terjadi lagi di antara keduanya sebelum akhirnya sang Puteri membuka mulutnya lagi. “Apa yang kau ketahui tentang segerombolan makhluk yang menyerang Emefzi hari ini? Segerombolan makhluk yang tidak hanya mengalap raja Emefzi, tetapi juga memisahkan anak-anak Emefzi dengan ibu-bapanya, serta para suami dengan istrinya. Banyak sekali kesedihan dan kehilangan terjadi hari ini oleh karena mereka merenggut tubuh-tubuh Manusia yang tidak berdosa...”
“Menurut laporan, mereka serupa Manusia tetapi memiliki sepasang sayap burung di punggungnya, dan berasal dari daerah utara – mungkin di sana ada daratan yang memungkinkan mereka untuk hidup dan berkembang biak. Karena mereka mampu terbang seperti burung, maka kami, orang-orang Makele menyebut mereka sebagai para ‘Leube’,” jawab sang pengeran yakin sambil tetap menunduk.
“Hanya itu?” tanya sang Puteri sekali lagi. “Tidak adakah lagi keterangan-keterangan lain yang bisa kau sampaikan kepadaku?”
“Mmm, tidak ada. Bahkan kitab Putih pun tidak menjelaskan keberadaan mereka di dunia ini selain naga-naga raksasa, yang merupakan bagian dari makhluk-makhluk kegelapan ciptaan....”
“Tunggu!” potong sang Puteri. Kemudian ia mondar-mandir, berpikir cukup lama, membuat sang Pangeran bingung. “Tunggu di sini sebentar!” Sang Pangeran dibuat semakin bingung karena sekarang kekasihnya itu malah meninggalkannya dan menyuruhnya menunggu di ruangan itu seorang diri.
Tak lama kemudian dengan tergopoh-gopoh sang Puteri akhirnya tiba kembali di ruangan itu membuat hati membuat sang pengeran sedikit lega. Sang Puteri membawakan sebuah buku tebal berwarna putih yang di sampulnya tertera judul “Kitab Putih”dalam bahasa Menal dengan aksara siku. Seutas senyum menghiasi bibir sang Pangeran melihat kitab itu. “Aku tahu kau pasti membacanya...,” bisiknya.
Kitab Putih adalah sebutan kitab bagi “Agama Putih” yang terdiri dari dua bagian : Perjalanan Sang Waktu dan Kebijaksanaan Suci. Kitab ini sebagian besar menceritakan kehidupan bangsa Duniz – bangsa keturunan Niz – pada zaman dahulu yang merupakan bangsa penyembah Sang Terang di Pulau Timur. Kemudian dibawah pimpinan Neyel Pe, beberapa dari mereka bermigrasi ke Daratan Bumi dan menyebarkan ajaran Sang Terang yang dianutnya kepada bangsa-bangsa Manusia.
“Kurasa aku sudah menemukan cara bagaimana kita bisa membinasakan mereka.” Dengan cepat sang Puteri membuka lembaran demi lembaran kulit kering yang menjadi bahan dasar buku itu. Dibukanya satu per satu hingga akhirnya berhenti pada satu halaman. “Bacalah ini. Bab Kesebelas : Perjuangan Terakhir.”
Tiba-tiba terdengarlah suara nyaring dari arah Barat, mengejutkan Naga-naga beserta penunggang-penunggangnya. Putra-putra Neyel Pe telah datang dari Daratan Bumi, bersama dengan Api di tangan mereka “Kau tidak akan memadamkan Nyala Api itu, sebab Apiku akan membinasakanmu terlebih dahulu.” Kemudian ribuan panah api dilesatkan ke udara mengenai sayap beberapa Naga yang sedang terbang. Maka terbakarlah sebagian besar Naga beserta penunggangnya. Dan beberapa mati karenanya.
“Jika putra-putra Neyel Pe bisa mengalahkan naga-naga raksasa dengan panah api, aku yakin kita juga bisa melakukannya terhadap para...”
“Leube..”
“Ya. Leube. Dan kurasa malam ini juga kita harus segera memberi tahu strategi ini kepada saudara-saudaraku dan para prajurit Emefzi yang sedang melakukan perburuan terhadap mereka.”
“Malam ini?” tanya sang Pangeran resah. “Haruskah malam ini?”
“Ya. Jika kau masih mencintaiku dan mengharapkanku menjadi istrimu, kau harus melakukannya, Pangeran Azmavre!”
“Oh, aku rasa ini bukan keputusan yang baik, Musim Semi-ku. Bukankah kau telah menyuruhku untuk melupakan sejenak hubungan pribadi kita?”
“Baiklah, jika itu keputusanmu, lupakan aku untuk selamanya. Selamat tinggal!” sang Puteri ‘Musim Semi’ itu segera bertolak meninggalkan Pangeran negeri Makele itu.
“Tunggu! Hal ini tidak ada hubungannya dengan hal itu.” Azmavre menangkap tangan kekasihnya, mencegahnya untuk pergi. “Kurasa kita perlu membicarakannya dengan kesepuluh ksatriaku yang datang bersamaku sore tadi... dan juga lebih baik jika kita melakukannya esok hari sambil menunggu kabar terbaru dari saudara-saudaramu.”
“Terlalu lama,” cetus sang Puteri melepaskan cengkeraman sang Pangeran. “Mereka adalah makhluk siang. Jadi jika kita menunggu hingga Matahari terbit, Emefzi akan mengalami satu kali lagi mimpi buruk, yang seharusnya bisa kita cegah malam ini juga. Jika kau keberatan, aku akan pergi sendiri saja.”
“Tunggu!” Sekali lagi Azmavre menangkap tangan sang Puteri. “Malam bisa membunuhmu jika kau...”
“Lepaskan aku!” bentaknya lantang hingga suaranya menggema di seisi ruangan. “Jika aku Musim Semi, maka kau lah Musim Dingin yang menahanku untuk tidak berbuat sesuatu demi kebaikan,” ancamnya dengan merujuk pada sebuah kisah di Kitab Putih yang berjudul Perjalanan Sang Waktu.
“Aku mohon, aku tidak ingin kehilangan....”
Tiba-tiba masuklah seseorang ke dalam ruangan itu mengalihkan perhatian kedua sejoli itu. Seseorang yang berseragam prajurit Emefzi tampak datang tergopoh-gopoh, dan berkata tebata-bata, “Tuan Puteri! T-tuan Puteri Ejello! A-ada y-yang perlu s-saya sampaikan kepada T-tuan Puteri beserta P-Permaisuri.” Raut mukanya menyibakkan nuansa ketakutan yang amat sangat. Bibirnya tampak menggigil.
“Ibunda pemaisuri sedang beristirahat,”jawab Ejello mantap, meskipun ia tampak kuatir dengan kabar yang disampaikan sebab ia mengenali sang prajurit merupakan bagian dari kelompok perburuan Leube yang sejak siang tadi menunaikan tugasnya bersama kedua saudaranya. “Katakanlah kepadaku! Nanti akan kusampaikan kepada ibunda Permaisuri.”
“Maafkan kami. B-berapa waktu y-yang lalu. K-kedua Pangeran m-mengalami nasib b-buruk. Makhluk-makhluk it-tu menyambar k-keduanya, dan m-membawanya t-terbang jauh dan t-tinggi. P-Pangeran Acmez berusaha melawan di udara hingga m-menyebabkannya jatuh ke tanah dan... m-meninggal seketika, sementara P-Pangeran Alubri mengalami n-nasib yang sama dengan T-tuanku Raja Atmemliv. B-bersama dengan sembilan belas orang dari kami b-beliau dibawa terbang ke arah pegunungan Zaimuluf.”
Ejello hanya bisa menggigit bibirnya. Dalam hatinya ia berseru, makhluk apakah ini yang menghabisi seluruh anggota keluargaku? Tetapi meskipun hatinya menangisi kepergian kedua saudaranya, ia mencoba menahan air matanya supaya tidak tumpah keluar. Sementara itu Pangeran Azmavre hanya bisa mematung.
“Lanjutkan!” katanya semakin lirih.
“S-sekarang empat orang p-prajurit sedang dalam p-perjalanan membawa j-jenazah Pangeran Acmez.”
Suasana kembali hening. Azmavre ingin sekali memberikan sepatah atau dua patah kata untuk menghibur Puteri Ejello, tetapi ia mengurungkan niatnya itu karena tiba-tiba saja Ejello berkata, “Di mana sarang mereka?”
Sedikit bingung, sang prajurit menjawab, “D-di gua-gua p-pegunungan Z-zaimuluf. M-mereka...”
“Tidak ada waktu lagi...” potong Ejello kemudian melesat pergi ke dalam kamarnya.
Di kamarnya, ia melepas kain alas tempat tidurnya, mengumpulkan semua buli-buli kecil berisi minyak wangi yang ia miliki – semuanya berjumlah sepuluh buli-buli – di atas kain itu, kemudian menutup dan mengikat kain itu sehingga menjadi sebuah buntalan. Tetapi ketika ia keluar dari kamar dan melintasi ruang pertemuan itu, ia melihat ibunda Permaisuri jatuh pingsan di depan prajurit pembawa pesan itu dikerumuni oleh dayang-dayangnya dan Pangeran Makele juga berada di situ. Sepertinya ibu sudah mendengar kabar buruk ini.
“Hei! Mau ke mana kau, Musim Semi-ku?” teriak seseorang menghampirinya.
“Aku akan menjemput jenazah saudaraku di pintu gerbang.”
“Dan ini?” tanya sang Pangeran penasaran dengan buntalan yang dibawanya.
“Minyak wangi,”jawabnya enteng. “Untuk dicurahkan ke jenazahnya, sesuai dengan adat suku Mefzi untuk ritual duka cita.”
***
Tiba-tiba saja sang Puteri menghentikan kudanya. Dilihatnya nyala dua obor kecil di sana. Mungkin itu mereka, batinnya. Dan memang benar, ketika didekatinya, ada empat orang berseragam prajurit Emefzi berjalan terseok-seok. Dua orang berjalan menyeret sebuah buntalan besar seukuran tubuh Manusia terbungkus kain bendera Emefzi, dan dua lainnya masing-masing membawa sebuah obor. Para prajurit itu tampak bingung dan takut ketika melihat bahwa pengendara kuda itu adalah Puteri Ejello.
“Jangan takut!” Sang Puteri turun dari punggung kudanya, membuka buntalan kecilnya dan membuka sebuah buli-buli di hadapan jenazah saudaranya itu. Disaksikan oleh para prajurit, di atas tanah yang lembab dan di bawah penerangan tiga buah nyala api obor kecil, Ejello menggelar ritual duka cita sesuai adat istiadat sukunya. Tetapi saat ia melakukan ritual pemotongan rambut dengan sebilah pedang milik seorang prajurit, ia bergumam, “Rambut ini...”
Dan seketika itu pula raut mukanya berubah menjadi serius dan menyeramkan menurut pandangan para prajurit. Ia pun berteriak dengan nada marah sehingga membuat mereka takut. “Kalian tidak seharusnya kembali pulang! Kalian sama halnya dengan Zod Zumen dan kedua belas ksatria pengecut yang kembali ke Timur!” ujarnya mengacu pada sebuah kisah di Kitab Putih. “Aku tahu kalian lelah dalam perburuan itu, dan berberapa kawan kalian diambil oleh mereka. Tetapi tidak seharusnya kalian menyerah begitu saja. Membawa pulang jenazah adalah sebuah hal bodoh yang kalian lakukan.”
Sejenak sang Puteri menghentikan ucapannya. Di hadapannya terbujur kaku jenazah saudaranya. Ia melepas mantel tebalnya, ditutupkannyalah pada jenazah pamgeran Acmez. “Berapa sisa anak panah yang kalian miliki?”
“Entahlah, Tuan Puteri... mungkin... tak kurang dari... dua puluh batang,” jawab salah seorang prajurit yang berjenggot agak takut.
“Salah satu dari kalian, pergilah ke istana membawa jenazah ini dengan kudaku. Beritahu Pangeran Makele supaya segera menyusulku ke Zaimuluf,” perintah sang Puteri. “Yang lain, ikutlah aku dalam perburuan di Zaimuluf!”
Kemudian salah seorang dari mereka yang berjenggot itu melaksanakan tugas membawa jenazah. Dan meski ragu, ketiga orang prajurit lainnya akhirnya mengikuti sang Puteri yang mereka anggap sudah gila. Terlebih lagi, karena Ejello adalah seorang putri Raja, mereka tidak kuasa untuk menolak perintahnya. Tetapi selama perjalanan ke Zaimuluf, Ejello berusaha memacu semangat ketiga prajuritnya untuk tetap bertahan menahan rasa kantuk dan lelah dengan menceritakan kisah-kisah kepahlawanan yang terdapat di Kitab Putih.
Sesampainya di sebuah titik di lembah pegunungan batu Zaimuluf, setelah perjalanan panjang yang cukup melelahkan, Ejello menghamparkan kain buntalannya. Ia melihat sejauh mata memandang hanya ada kegelapan dan kesunyian karena malam belum berganti pagi. Menurut keterangan para prajurit, para Leube sedang beristirahat di gua-gua pada dinding pegunungan batu itu. Kemudian ia mengambil sebilah pedang dan dengan pedang itu ia memotong rambut serta gaun panjangnya menjadi pendek sehingga potongan-potongan rambutnya itu berjatuhan di atas kain. Dikoyak-koyakkannyalah kain gaunnya itu menjadi beberapa bagian kecil berukuran kecil. Selanjutnya ia mengambil sebatang anak panah, membungkus mata anak panah itu dengan sepotong kain kecil yang diisi dengan sejumput potongan rambutnya dan mengikatnya, serta menuangkan minyak wangi ke permukaannya.
Para prajurit terpana heran. Saling berbisik, mereka menyangka sang Puteri sudah tidak waras lagi. Kemudian Ejello mengambil sebilah busur dari tangan seorang prajurit. Ditempatkannyalah anak panah itu pada talinya, dan dicelupkannyalah ujung mata anak panahnya ke dalam nyala api sebuah obor yang dibawa oleh salah satu dari mereka.“Uru Elzu dan Uru Enzu telah membinasakan naga-naga raksasa dengan panah api, dan dengan panah api pula kita akan membinasakan makhluk-makhluk jahat itu.” Sambil berseru demikian ia melesatkan anah panah itu dan mengenai sebuah titik di lereng Zaimuluf hingga terjadi kebakaran kecil di sana.
“Tuan Puteri! Apa yang anda lakukan?” tanya seorang prajurit kuatir. “Di sana ada banyak Manusia yang telah ditangkap oleh makhluk-makhluk itu..”
“Lebih baik mengorbankan mereka yang ada di sana daripada esok hari jatuh korban semakin banyak lagi,” sahut Ejello jelas.
Para prajurit akhirnya mengetahui maksud sang puteri. Mereka pun mengikuti apa yang dilakukan oleh sang puteri, menembakkan panah-panah api ke arah pegunungan itu. Dan semakin hebatlah kebakaran di gua-gua pada lereng pegunungan itu hingga memaksa banyak sosok Leube berhamburan keluar. Beberapa dari mereka terbang dengan sayap terbakar.
“Celaka! Persediaan anak panah kita habis,” celetuk seorang pajurit.
Tetapi keberuntungan hinggap di atas mereka. Sejumlah anak panah berapi berluncuran dari arah belakang. Pangeran Azmavre dari Makele beserta kesepuluh ksatrianya serta beberapa prajurit tambahan Emefzi datang tepat waktu memberikan dukungan. Lesatan-lesatan anak panah terdengar saling bersahutan di udara dan kilatan-kilatan cahaya api memercik menghiasi langit malam yang gelap itu. Dengan membabi buta para prajurit membidikkan panahnya ke angkasa dan tak jarang beberapa anak panah mengenai sayap makhluk-makhluk itu sehingga terdengarlah lengkingan-lengkingan jerit pilu dari para Leube yang nahas di atas sana. Banyak dari mereka jatuh berdebam dan mati di atas tanah dengan tubuh terbakar. Dan hanya sedikit dari mereka yang selamat, melarikan diri ke utara tepat ketika Matahari menampakkan diri di ufuk timur.
Setelah semuanya berakhir, tiada sorak sorai kemenangan yang gegap gempita terlontar dari mulut para prajurit Emefzi dan para ksatria Makele. Sementara para prajurit sibuk membersihkan bangkai-bangkai Leube yang terbakar, Ejello berlutut dan meratapi kematian ayahnya dan kedua saudaranya serta semua rakyat Emefzi yang telah menjadi korban. Sekarang air matanya benar-benar menetes.
“Sudahlah. Tiada yang perlu disesalkan, Musim Semi-ku,” hibur sang Pangeran Makele. “Kau sudah melakukan kebaikan. Keputusanmu untuk mengakhiri semua ini adalah baik meskipun harus mengorbankan beberapa jiwa tak berdosa.” Azmavre menyelimutkan mantelnya ke tubuh Ejello, dan ikut berlutut di samping sang Puteri yang kini berpakaian compang-camping itu. “Terkadang aku malu terhadapmu, terhadap keberanianmu, terhadap ketegaranmu, dan terhadap ketegasanmu. Dan kini aku lebih menyukaimu atas kedewasaanmu daripada setahun yang lalu ketika kau melarikan diri dari pesta pernikahan kita.”
“Kitab itulah yang sedikit banyak mengubah sifat-sifatku,” sahut Ejello menyeka air matanya dengan jubah yang baru saja melekat di tubuhnya. “Kitab Putih yang setahun yang lalu kau berikan kepadaku sebagai hadiah pernikahan kita.”
“Aku tahu kau pasti membacanya. Aku tahu pasti kitab itulah yang memuaskan hasrat keingintahuanmu terhadap kisah-kisah ajaib bangsa Duniz, karena di Emefzi hanya para pendetalah yang berhak memilikinya. Dan aku tahu kitab itu pasti akan bermanfaat bagimu, memberikan penerangan di saat-saat yang gelap.”
“Ya,” Ejello mengangkat tubuhnya berdiri. Diarahkannya pandangannya ke arah pegunungan di depannya yang masih dihiasi nyala api dan asap yang mengepul. “Kitab itulah yang juga menuntunku merasakan bahwa seorang Niz sepertimu pasti akan menjemput Musim Semi-nya.”
Read more...
TENTANG KEBIJAKSANAAN
Aku telah mengabdi kepada sang Terang
sepanjang masa mudaku
Aku telah memberikan jiwaku kepada Bumi
sepanjang hidupku
Siapakah aku sehingga Langit telah memayungiku?
Siapakah aku sehingga Kegelapan enggan meliputiku?
Tetapi inilah aku, seorang yang bijak
Yang kebijaksanaannya dianugerahkan oleh para dewa,
sehingga bolehlah manusia belajar kepadaku
supaya adalah guna anugerah itu
Sebab dari langit yang hampa turun hujan,
dari manakah asalnya?
Seperti itulah kebijaksanaan
Tiada yang tahu dari mana asalnya.
Tetapi Langit memberikannya untuk Bumi
supaya Bumi menumbuhkan buah-buahan,
yang mengenyangkan perut setiap makhluk
Seperti air, itulah kebijaksanaan,
yang memuaskan yang haus dahaga
Seperti cahaya, itulah kebijaksanaan,
yang bersinar menerangi Dunia
Mengusir Kegelapan yang membutakan mata
dan bayang hitam yang menyelimuti malam
Yang menyingkapkan segala rahasi kehidupan
di atas Bumi dan di bawah Langit
Yang mengisi Dunia dengan keajaiban
di sepanjang perjalanan Sang Waktu.
Read more...
SALAM BAGI MANUSIA
Wahai, para pengembara!
Apa kabarmu dalam perjalananmu
pada setiap tapak jalan yang kau lalui
untuk mencari ke manakah angin bertiup?
Wahai, para kekasih!
Masihkah cinta berbisik di telingamu,
dan apinya membakar gairahmu
supaya hatimu menyatu untuk selamanya?
Wahai, para ksatria!
semoga kemenangan selalu ada di tanganmu,
dan kebenaran menjadi kasutmu selalu,
dan berjuanglah demi Sang Terang!
Read more...
PERJALANAN SANG WAKTU
Bab I : Penciptaan Langit dan Bumi
Adalah dua Kekuatan besar yang muncul dari dalam Ketiadaan. Terang dan Gelap bersatu tanpa bercampur menciptakan Langit yang hampa dan Bumi yang padat. Bersama-sama mereka memulai Waktu yang menguasai segala sesuatu yang berada di bawah Langit dan di atas Bumi. Maka berkatalah Terang kepada Gelap, “Marilah kita bersatu, untuk menciptakan sesuatu yang mengisi Ketiadaan ini. Dan biarlah kita berkuasa atas ciptaan kita itu supaya tidak ada lagi Ketiadaan di dalamnya.”
Dan jawab Gelap kepada Terang, “Baiklah kita bersatu, tetapi janganlah kita saling bercampur supaya ciptaan kita itu dapat mengenali siapa yang menciptakannya, dan siapa yang menguasainya.”
Kemudian berkatalah mereka, “Jadilah dalam Ketiadaan suatu kehampaan dan kepadatan, yang dipisahkan oleh sebuah ruang. Sebuah ruang di mana kita dapat memulai kekuasaan, dan besama-sama memberinya kehidupan.” Maka terciptalah Langit yang hampa dan Bumi yang padat dan Dunia yang berada di tengah-tengahnya.
Bersama-sama Terang dan Gelap memulai Waktu, yang berkuasa atas Dunia, yang berada di bawah Langit dan di atas Bumi. Kemudian berkatalah Waktu, “Aku akan mengisi Dunia yang diciptakan ini, dengan Masa-masa dan Musim-musim yang saling berganti. Supaya aku selalu dapat mengetahui seberapa jauh perjalananku yang akan aku mulai ini. Biarlah Pagi memulai Masa, dan Musim Semi memulai Musim dengan kehangatan! Dan biarlah Siang akan mengikuti Pagi, dan Musim Panas akan menggantikan Musim Semi dengan panasnya! Biarlah kehangatan kembali mengisi Dunia, dengan datangnya Senja dan Musim Gugur! Sebab Masa dan Musim akan aku tutup dengan dinginnya Malam dan Musim Dingin dan kemudian akan aku buka kembali dengan Masa dan Musim yang baru!”
Kepada Langit dan Bumi, Terang dan Gelap memberikan Kehidupan. Dan datanglah Cinta kepada mereka sehingga semakin lama bertambah besarlah cinta Langit kepada Bumi. Dan karena begitu besar cintanya kepada Bumi, Langit menurunkan hujan benih dan hujan air sepanjang Masa dan Musim. Bumi mengeluarkan tetumbuhan dan limpahan air merendam Bumi sebagai Laut.
Berkatalah Langit kepada Bumi, “Setiap Masa aku lalui dengan memandang engkau, setiap Musim aku nikmati keindahan wajahmu. Sesungguhnya aku bahagia tercipta untuk mencintai engkau, meskipun tidak bisa sekalipun aku menyentuh tubuhmu. Biarlah aku memohon kepada Sang Waktu, yang sedang berjalan di dalam ruang yang memisahkan kita, supaya aku dapat menebarkan benih-benihku kepada engkau sebagai tanda ketulusan cintaku kepadamu.”
Kemudian Bumi menjawab. Katanya, “Sesungguhnya aku juga berbahagia, tercipta dan melewati Masa-masa bersama engkau. Wajahmu yang biru itu telah mempesonakan mataku, dan aku selalu menikmati senyuman manismu. Maka akan aku terima setiap benih yang engkau jatuhkan itu, dan aku akan memelihara dia di dalam perutku. Dan jika Sang Waktu berkenan mengabulkan permohonanku, akan aku lahirkan Putra-putramu sebagai makhluk yang hidup.”
Kemudian bersemilah benih-benih Langit menjadi pohon-pohon berdaun hijau dan semak-semak rumput yang menghiasi permukaan Bumi sehingga Bumi terlihat lebih cantik dan sejuk di mata Langit dan semakin besarlah cintanya kepada Bumi. Maka pada suatu Masa, Langit menurunkan hujan benih terbaiknya dan lahirlah Yeru, Sang Dewa Tertinggi, Bapa para Dewa, keluar dari perut Bumi. Ialah yang ditakdirkan oleh Sang Waktu untuk memiliki dan menguasai Bumi. Yang oleh tangannya, dibendungnya Laut dengan dinding batu yang tinggi supaya air hujan yang turun dari Langit tidak terbuang sia-sia ke dalam Ketiadaan.
Bernyanyilah Yeru dengan suara merdu,
“ Karena Langit adalah ayahku
dan Bumi adalah ibuku.
Benih terbaik telah dijatuhkan Langit
demi cintanya kepada Bumi.
Di dalam perut ibuku aku dierami
di dalam Ketiadaan aku dipelihara.
Hingga pada Masanya aku dikeluarkan,
dilahirkan oleh Bumi untuk Langit.”
Maka cemburulah Langit dan hampir runtuh menimpa Bumi untuk menelan putranya ke dalam Ketiadaan. Tetapi Bumi sangat mengasihi Sang Dewa, melindungi dia dan menyangga Langit dengan keempat gunungnya. Dan marahlah Bumi atas kecemburuan Langit sehingga diguncangkannya tubuhnya dan dilemparkannya batu-batu api ke Langit sehingga menyesallah Langit. Dan Sebagai tanda penyesalannya, Langit menurunkan kabut dan angin sejuk ke atas Bumi setiap Malam dan menjelang Pagi.
Berkatalah Bumi, “Haruskah kau marah, wahai Kekasihku? Haruskah engkau datang untuk menelan Putramu? Yang lahir dari Benih Terbaik yang engkau berikan kepadaku, dan yang aku terima sebagai bukti cintaku kepada engkau. Ia telah ditakdirkan untuk mewarisi tubuhku, dan kepadanya telah ditetapkan untuk menguasai aku. Maka marahlah kepada Sang Waktu, jika engkau berani, bukan kepadaku dan bukan kepada Putramu.”
Bab II : Dewa-dewa Perkasa
Bab III : Penciptaan Manusia
Bab IV : Matahari dan Manusia-manusia Pertama
Bab V : Putra Matahari
Bab VI : Putra-putra Niz
Bab VII : Menzeg
Bab VIII : Pengutusan Neyel Pe
Bab IX : Perang Besar
BAB X : Putra-putra Neyel Pe
BAB XI : Perjuangan Terakhir
BAB XII : Kemenangan Besar
Read more...
FESTIVAL SENANDUNG ALAM
Mata Air Para Peri terlihat ramai menjelang berlangsungnya Festival Senandung Alam. Banyak peri datang berduyun-duyun dari barat dan selatan demi menyaksikan dan menikmati festival itu. Festival Senandung Alam adalah sebuah lomba menyanyi antar singgasana peri yang dilaksanakan setahun sekali di Mata Air, yang mana tahun lalu dimenangkan oleh Singgasana Air.
Bangsa peri memang gemar menyanyi dan suara mereka sangat merdu sehingga bangsa manusia sering menyangka bahwa hutan-hutan tempat tinggal bangsa peri benar-benar hidup dan pepohonannya bernyanyi. Bangsa peri hidup berkelompok sesuai singgasananya secara terpisah-pisah. Para peri api misalnya tinggal di Rawa Seribu di sebelah selatan. Para peri air, peri tanah dan peri tanaman berbagi tempat di belantara Cimea. Sedangkan para peri udara dan peri cahaya masing-masing mendiami Hutan Grim dan Mata Air Para Peri di hutan Eros. Oleh karena itulah Ratu Aurora Lucis memandang perlu dilaksanakan sebuah lomba menyanyi demi menjalin persatuan dan kesatuan bangsa peri.
Beberapa kontestan festival sudah tampak hadir di Mata Air. Ada Hydro Aqua, juara tahun lalu yang mendapatkan kesempatan tampil kembali tahun ini mempertahankan gelar juaranya yang mungkin akan bersaing ketat dengan Singgasana Udara yang juga akan menampilkan penyanyi solo. Mewakili Singgasana Api adalah penampilan kelompok duet “Volcano”. Sementara itu sebagai tuan rumah, Singgasana Cahaya akan menampilkan paduan suara “Pelangi Indah”dengan Radius Lucis, kontestan tahun lalu, sebagai dirigennya. Tidak seperti tahun lalu, tahun ini masing-masing singgasana boleh menampilkan solo, duet, trio, kelompok vokal atau paduan suara.
***
Malam itu, dari atas sebuah gundukan tanah di tepi Mata Air itu, yang sedianya besok dipakai sebagai pentas lomba, terdengar suara indah dari beberapa sosok kecil yang bercahaya kemilau warna-warni, menyanyikan lagu Senandung Alam.
... bagai embun menyejukkan pagi,
Kebahagiaan yang tak terbagi...
“Uhuk uhuk uhuk..”
“Stop! Stop! Stop!” bentak sesosok peri yang berdiri di depan sebuah kelompok paduan suara. “Lumina Lucis! Sejak dulu kau hanya membuat kekacauan saja!”
“Maafkan aku, aku tidak kuat mengambil nadanya. Terlalu tinggi bagiku,”jawab sesosok kecil yang berdiri di antara barisan terdepan kelompok paduan suara itu menahan batuknya
“Tidak ada alasan lagi, Lumina Lucis. Sudah tidak mungkin lagi diturunkan nadanya. Mungkin sebaiknya kau keluar saja dari kelompok ini.”
“Tolong, berikan aku kesempatan sekali lagi. Aku akan berusaha lebih baik lagi. Aku tidak akan mengecewakanmu!”kata Lumina memohon.
“Sudah berkali-kali latihan, kau selalu saja berbuat salah dan memohon hal yang sama. Ini adalah latihan terakhir kita karena besok kita siap tidak siap harus berkompetisi di festival. Jika sampai hari ini kita tidak bisa kompak, kita pasti akan kalah. Mengerti?”
“Tapi..,” Kata-kata peri itu telah menyakiti hati Lumina dan membuatnya menangis.
“Paduan suara pada dasarnya mengutamakan kekompakan. Jika kau tidak bisa kompak dengan kawan-kawanmu, lebih baik kau keluar saja daripada kau merusak kelompok ini.”
Tiba-tiba saja seorang peri cahaya lain datang mendekat. “Kau terlalu keras pada mereka, Radius. Itu tidak baik.”
“Luxia! Lihat anak ini, sudah berulang kali ia melakukan kesalahan yang sama. Terbatuk-batuk saat latihan dengan alasan nadanya ketinggian...”
“Kalau begitu turunkan saja nadanya”
“Tidak bisa, Luxia. Itu sudah terlalu rendah bagi yang lain. Memang kusadari warna suara anak ini berbeda sendiri, tetapi ia memaksakan diri untuk menyanyi di nada tinggi.”
“Baiklah. Kata Luxia. Aku hanya ingin kelompok paduan suara ini memberikan yang terbaik untuk Singgasana Cahaya. Dan maafkan aku, anak manis,”Luxia menggelengkan kepalanya. “Tahun depan aku pasti akan mengikutsertakanmu, tetapi tahun ini...”
“Aku tahu,” Lumina menganggukkan kepala. Ia sangat kecewa, tetapi ia mengerti bahwa warna suaranya menjadi penghalang dalam penampilan kelompoknya. “Maafkan aku juga, Radius, aku telah membuatmu marah karena kesalahan-kesalahan yang aku perbuat selama latihan. Dan kepada kawan-kawan semua, aku pasti mendukung kalian, jadi tampilkanlah yang terbaik untuk singgasana kita.”
***
Keesokan harinya, suasana Mata Air Para Peri bertambah ramai. Gundukan tanah yang akan digunakan sebagai tempat pentas itu pun sudah dihiasi bunga berwarna-warni yang berpadu dengan cahaya yang dipendarkan dari tubuh-tubuh mungil para peri yang terbang melayang-layang di tempat itu.
Rupanya ada beberapa kontestan yang baru saja hadir dan mendaftarkan diri kepada panitia. Singgasana Tanaman datang dengan kelompok band “Bunga Bersemi”-nya di mana sang pimpinan singgasana menjadi penyanyi utamanya. Dan yang menghebohkan adalah Singgasana Bumi diwakili oleh Trio Cimea, yang personelnya berasal dari tiga singgasana yang berbeda.
“Sudah kudaftarkan kalian, dan diperbolehkan oleh pihak panitia,”kata sesosok peri berjubah cokelat kepada tiga peri di depannya.
“Syukurlah kalau begitu. Terima kasih, Terranum,” kata salah satu lawan bicaranya yang berpakaian hijau dan berhiaskan bunga-bunga kecil bermekaran pada pakaiannya.
“Jangan berterima kasih kepadaku. Tetapi berterima kasihlah kepada panitia,”jawab Terranum tanpa ekspresi.
“Masih ada beberapa jam untuk kita latihan sekali lagi sebelum festival dimulai,”sahut sosok peri lain yang bernuansa biru transparan. “Tapi sebaiknya kita istirahat sejenak dulu, karena kita pasti lelah habis perjalanan jauh. Atau kita latihan dulu baru istirahat sebelum pentas?”
“Kau membuatku bingung, Voda,” ujar peri hijau tadi. “Pasti Geo dan Terranum juga bingung dengan ucapanmu tadi. Aku pikir sebaiknya kita istirahat saja. Bagaimana Geo? Terranum?” Terranum mengangguk tetapi Geo diam saja.
“Geo! Kau kenapa? Sejak kita berangkat tadi kau tampak tak bersemangat?” Tanya Terranum memperhatikan saudaranya yang tampak termenung.
“Kau masih grogi?” Voda mendekatkan dirinya kepada Geo. “Bersemangatlah, Geo! Aku dan Flora akan mendampingimu di pentas nanti.”
“Ya, Geo. Jangan kuatir, kami tak akan meninggalkanmu. Kita akan bernyanyi bersama.” ujar Flora menanggapi tetapi Geo masih saja murung dan tidak membuka mulutnya.
“Benar, Geo,” tegas Voda. “Kita adalah satu tim. Kau harus kuat supaya penampilan kita tidak mengecewakan nanti.”
Aku hanya berpesan: jangan merasa kalah sebelum berlomba,”sahut Terranum. Tampilkanlah yang terbaik untuk singgasana kita, untuk bangsa peri di hutan Cimea.”
***
Sementara itu di sebuah tempat di dekat mata air itu, terjadi sebuah kegaduhan. Nyala-nyala api kecil membakar semak-semak di sekitarnya hingga menarik perhatian para peri untuk melihat apa yang sedang terjadi. Dua sosok peri merah berapi tampak saling bertengkar.
“Kau telah mengkhianatiku, Eldur!”kata salah satunya yang berukuran lebih kecil. “Untuk apa kita latihan bersama setiap hari kalau ternyata pada akhirnya kau akan tampil solo.”
“Sekali lagi aku tidak tahu, Pyro. Atar baru saja memberitahuku beberapa saat yang lalu. Katanya kau hanya menjadi cadangan saja.”
“Di mana dia sekarang? Aku akan mencarinya dan menuntut pertanggungjawabannya.”
“Dia bersama Ignis sedang mendaftarkan diriku ke pihak panitia. Kuharap kau tetap bisa menahan emosimu di tempat ini, Pyro,” bisiknya sambil melirik ke arah kerumunan peri cahaya yang sejak tadi menonton pertengkaran mereka.
“Aku tahu. Tapi aku merasa waktuku terbuang sia-sia untuk latihan. Dan Atar harus membayarnya. Selamat tinggal.” Kemudian Pyro segera melesat meninggalkan Eldur di tempat itu menerjang para peri yang menonton pertengkaran mereka.
“Apa yang kalian lihat?”Roman muka Eldur berubah menjadi mengerikan di depan para peri cahaya yang mengerumuninya. “Pergi semua dari sini!” katanya membuat mereka kocar-kacir dengan hempasan percikan lidah-lidah api kecil sebagai tanda kekesalannya.
***
“Kau tidak apa-apa, kan Lumina?”
“Ya, Niteo. Kuharap kalian bisa ampil baik tanpaku,”jawab Lumina menahan tangis di matanya.
“Aku tahu kau kecewa. Tetapi aku yakin penampilan kami nanti akan menjadi obat kekecewaanmu.”
“Kuharap begitu. Berjuanglah kawan-kawan. Aku akan mendukung kalian dari sini.”
Riuh suara tepuk tangan para penonton festival yang didominasi oleh peri-peri cahaya menghiasi Mata Air saat kontestan tuan rumah maju sebagai peserta pertama, mengiring Paduan Suara “Pelangi Indah”menempatkan diri di atas pentas. Dan mereka pun mulai menyanyikan lagu “Senandung Alam”dengan megahnya disertai dengan pertunjukan cahaya warna-warni pelangi yang dipendarkan dan dibiaskan oleh tubuh mereka.
“Mari kita bernyanyi bersama
Senandung alam penuh irama
Muka berseri dan bersahaja
Antar mentari menuju senja...”
“Wow, penampilan mereka keren sekali!” gumam Voda yang menonton festival itu di sisi Mata Air bersama kedua kawannya. “Aku jadi kuatir apakah penampilan kita nanti bisa mengungguli penampilan mereka.”
“Voda, kau jangan bicara begitu. Kau jangan mengecilkan hati Geo!”sahut Flora.
“Oh, maafkan aku. Tetapi aku tidak yakin kita penampilan bisa lebih bagus daripada mereka. Atau ada yang lebih bagus lagi daripada mereka? Tidaaaak!”
“Sebaiknya kau tidak perlu mendengarkan kata-katanya, Geo,”ujar Flora kepada Geo yang berdiri tanpa komentar di sebelahnya. “Selalu saja membingungkan....”
“Lihat. Mereka sudah selesai bernyanyi!”seru Voda sembari ikut serta menyumbangkan tepukan tangan untuk kelompok paduan suara itu. Semua penonton, terutama para peri cahaya sepertinya sangat puas melihat penampilan wakil dari Singgasana Cahaya itu.
***
“Sebelum kita panggil kontestan nomor urut dua, kita perkenalkan dulu dewan juri kita hari ini,”seru sesosok peri cahaya yang menjadi pembawa acaranya. “Lima pimpinan singgasana peri sudah hadir di sini. Beri tepuk tangan yang meriah untuk Terranum Humus, Ignis Flamma, Unda Aqua, Ventusia Flamman dan... Luxia Lucis.” Sekali lagi suara riuh tepuk tangan kembali terdengar menyambut kelima pimpinan singgasasana peri itu berdiri di tempatnya. “Oleh karena pimpinan Singgasana Tanaman, Sero Plantoria menjadi kontestan festival ini, maka posisinya di dewan juri digantikan oleh Ratu Peri.. Aurora Lucis... Beri tepuk tangan untuk ratu kita yang tercinta ini...”
“Wow, cantik sekali ratu peri kita, Flora! Baru kali ini aku melihatnya,” gumam Voda sambil ia bertepuk tangan. “Kabarnya, selain cahaya, beliau juga menguasai unsur-unsur yang lain, ya?”
“Kita seharusnya bersyukur, Geo, kita adalah kontestan terakhir. Karena kita bisa melihat dan menilai penampilan kontestan lain sebelumnya, sehingga kita bisa memotivasi diri kita supaya lebih baik daripada mereka,” kata Flora menasihati Gero yang sejak tadi murung terus tanpa memperhatikan kata-kata Voda.
“Lihat, Flora! Sekarang gilirannya Sero!” seru Voda setengah melonjak.
“Eh? Mana? Mana?” Akhirnya Flora terpengaruh dengan kata-kata Voda dan ia pun dengan segera memalingkan pandangannya ke arah pentas.
Sero Plantoria tampil bersama kelompok band-nya, membawakan lagu “Senandung Alam”secara akustik dengan iringan tiga alat musik perkusi dari bilah-bilah bambu dan kayu yang disusun berjejer dalam sebuah kolom, menghasilkan musik yang merdu ketika dipukul. Dengan nuansa rancak, wakil Singgasana Tanaman itu berhasil membuat penonton riang bertepuk tangan sepanjang lagu dinyanyikan.
“Mari kita bernyanyi bersama
Senandung alam penuh irama...”
***
Pyro melihat festival itu dari tempat yang lebih jauh dengan sembunyi-sembunyi. Ia sangat kesal karena tidak jadi berduet dengan kawannya, Eldur. Dan beberapa saat sebelum festival dimulai, ia sempat beradu pendapat dengan Atar, pelatihnya, sampai-sampai ia diusir oleh pihak panitia.
“Aku mau lihat apakah Eldur bisa menyanyi tanpa aku atau tidak.” gumamnya di antara semak-semak..
“Tidaaaak.. ku yakin tidaak,”sahut sesosok peri berwarna putih dari belakangnya, membuat Pyro terkejut.
“Siapa kau? Aku tidak kenal kau.”
“Kau tidak kenal aku? Seharusnya aku yang tidak kenal kau.” Pyro berusaha mengendalikan emosinya dan tidak mengacuhkan peri asing tersebut. Tetapi peri udara itu berkata, “Tahun lalu aku mewakili singgasanaku di festival itu.”
“Tapi kalah, kan? Jadi kau tidak terkenal seperti Hydro Aqua.”
“Oh, aku dulu rencana akan.. duet dengan Aria, yang sebentar lagi ... tampil. Tetapi karena sesuatu, Aria tiba-tiba.. tidak bisa tampil. Akhirnya aku tampil solo. Rasanya berbeda dengan... saat latihan. Aku tidak bisa meenyanyi dengan baik karena ada sesuatu yang hilang... Hasilnya aku... tidak menang..”
“Kau menyinggung aku, ya?”
“Hah? Buat apa menyinggungmu? Nasibmu sama dengankuuu? ” Pyro tidak menjawab. Ia tampak berang mendengar cerita peri asing itu. “Aha!!! Itu Aria!!” Tiba-tiba peri udara itu bersorak. “Ia kuberi kesempatan tampil solo tahun ini. Rencana kami akan bergantian tampil solo setiap tahunnya,” katanya melanjutkan ceritanya lalu terbang melesat mendekati pentas meninggalkan Pyro di semak itu.
***
Aria Flamman tampil menyanyikan lagu “Senandung Alam” dengan sangat baik dan tidak mengecewakan sehingga setelah mendapat tepuk tangan meriah dari penonton setelah ia mengakhiri lagunya dengan hembusan angin segar ke arah mereka.
“Wah, bagus juga penampilan Aria! Sangat anggun, dengan tarian pusaran anginnya.”
“Bagaimana jika dibandingkan paduan suara kita tadi, Lumina?” tanya Niteo di sebelahnya.
“Sangat bagus. Kau dan kawan-kawan sudah menjadi obat kekecewaanku,” jawab Lumina melemparkan senyuman.
“Tapi aku lihat, kau masih memendam kegelisahan. Ada apa, Lumina?”
“Sebenarnya aku hanya ingin menyanyi, Niteo. Seandainya mereka memberiku kesempatan menyanyi, meski tidak dilombakan, aku akan melakukannya...” Lumina memandang jauh ke langit, berharap kesempatan itu datang kepadanya.
“Sudahlah, jangan dipikirkan Lumina! Lihat, berikutnya yang akan tampil adalah juara tahun lalu, Hydro Aqua.”
Gemuruh tepuk tangan kembali memenuhi tempat itu menyambut sang juara tahun lalu menyanyikan lagu “Senandung Alam”. Tetapi entah mengapa tiba-tiba saja Hydro Aqua tampil tidak maksimal. Ia lebih sering lupa lirik lagu dan salah mengambil nada dasar, sehingga setelah menyanyi di atas pentas, Hydro berkata, “Maafkan aku. Kurasa tahun ini bukan tahunku lagi.” Hal itu sangat mengecewakan semua peri yang menonton festival itu, terutama Singgasana Air.
***
“Yah, kok begitu sih, penampilannya?” gerutu Voda ikut kecewa setelah melihat penampilan wakil singgasananya. “Apa mungkin dia sedang ada masalah?”
“Mungkin juga, Voda. Tapi setidaknya penampilan kita nanti bisa lebih baik daripada penampilannya meskipun kita tidak tampil mewakili singgasana kita masing-masing.” Flora tersenyum melihat Geo yang mulai melemparkan senyumannya kepada mereka berdua. Geo terlihat lebih sumringah sekarang, seolah-olah menemukan kepercayaan dirinya kembali.
“Kita mungkin bisa mengalahkan Hydro, Tetapi mustahil kita bisa mengalahkan Aria atau paduan suara Singgasana Cahaya tadi yang tampil sangat bagus. Aku jadi pesimis.”
“Jangan begitu, Voda. Ayo kita bangkit!” Kata-kata itu terlontar dari mulut Geo. Peri tanah itu membuat kedua kawannya terkejut dan bingung.
“Geo?” Kemudian terdengarlah sorak-sorai dari ketiga sahabat itu. Mereka melonjak-lonjak kegirangan seolah-olah menemukan kembali sesuatu yang telah lama hilang.
“Sudah! Tenang! Aku punya ide,” cetus Geo.
***
Selanjutnya yang tampil adalah kontestan perwakilan Singgasana Api. Eldur ternyata berduet dengan pelatihnya, Atar Flamma. Dan hal ini membuat Pyro semakin emosi.
“Sialan, si Atar! Rupanya dia hanya ingin mendepakku saja dan dan menggantikan posisiku. Semoga penampilan mereka buruk. Lebih buruk daripada Hydro.”
Dan benar. Meskipun penampilan mereka sangat meraiah dengan pertunjukan kembang api, penampilan kedua wakil Singgasana Api itu tidak memuaskan. Atar dan Eldur benar-benar tidak bisa menyatu. Ketika seharusnya menyanyi bersahut-sahutan, Atar lebih sering berimprovisasi dan Eldur tidak bisa menyesuaikan diri. Tarian mereka pun sering tidak kompak. Dan Atar tampak sangat mendominasi penampilan itu.
Setelah selesai tampil, berkatalah Eldur di atas pentas itu. “Aku minta maaf kepada kalian semua karena penampilanku tidak maksimal hari ini. Sebenarnya Atar bukan pasangan duetku, melainkan Pyro Flamma. Kuharap aku diberi kesempatan kedua untuk tampil bersama Pyro. Tidak dinilai pun tidak mengapa.”
Kata-kata Eldur memancing emosi Atar. Tetapi Atar menahan emosinya dan lebih memilih untuk segera berlalu meninggalkan tempat itu dengan kekecewaan yang mendalam atas penampilan kelompok duetnya tadi. Penonton pun ikut kecewa atas penampilan itu.
***
“Baiklah. Sambil menunggu keputusan dewan juri mengenai permintaan Eldur, kita sembut penampilan selanjutnya..,” seru sang pembawa acara dengan menari-nari memendarkan cahaya warna-warni di atas pentas. “Keikutsertaan pertama dari Singgasana Bumi, sebuah trio yang merupakan kolaborasi apik dari tiga singgasana berbeda : Trio Cimea!”
Meskipun sambutan penonton tidak seriuh penampilan sebelumnya, Sang Ratu tampak berdiri memberikan tepuk tangannya kepada trio tersebut. Beriringan, Flora Plantoria, Geo Humus dan Voda Aqua memasuki pentas. Terranum juga ikut berdiri bertepuk tangan menyambut mereka, dan membuat Geo semakin percaya diri.
“Sebenarnya wakil dari Singgasana Bumi adalah kawan kami, Geo Humus yang sangat pemalu ini, tetapi kami ingin menemaninya tampil di sini untuk menyanyi... Oh tidak, kami memang membentuk trio sebelumnya karena kami bersahabat..,” ujar Voda di atas pentas.
“Kami mengundang beberapa dari kalian yang ingin bernyanyi bersama kami di atas pentas ini. Masing-masing satu dari Singgasana Cahaya, Singgasana Api dan Singgasana Udara. Silakan kemari, supaya kepercayaan diri saudara Geo bertambah,” potong Flora. “Dari Singgasana Cahaya?”
“Ada!” jawab sesosok peri cahaya di ujung sana. “Ayo, Lumina! Bergabunglah bersama mereka! Ini kesempatanmu!”
“Tapi Niteo..” Niteo mendorong Lumina hingga tampil ke atas pentas membuat Radius dan Luxia heran. “Maaf, semuanya. Aku, Lumina Lucis, sebenarnya adalah anggota Paduan Suara Pelangi Indah, tetapi karena sesuatu hal aku tidak bisa tampil bersama kelompokku. Jadi berikan aku kesempatan untuk menyanyi bersama mereka.”
“Selamat datang di atas pentas, peri cantik,” sambut Flora. “Dari Singgasana Api?”
Tiba-tiba melesat sosok merah berapi mendarat di atas pentas. “Aku. Pyro Flamma. Aku ingin menyanyi bersama...,” katanya sambil matanya sibuk mencari-cari Eldur di kerumunan penonton. “...kelompok baruku.” Kata-kata Pyro membakar semangat para penonton yang membalasnya dengan gemuruh tepuk tangan.
“Selamat datang, Pyro, sambut Flora lagi. “Dari Singgasana Udara?”
“Aku dataaang!” sesosok peri berwarna putih tampil ke atas pentas. “Anemos Flamman, sudah mengecewakan semua tahun lalu. Akan tampil lebih baik bersama kelompok ini meskipun bukan singgasanakuuuu.” Gemuruh tepuk tangan pun kembali terdengar sampai-sampai menelan suara Anemos yang melengking itu.
Kemudian Flora meminta waktu sebentar untuk berdiskusi dengan kelompok barunya. “Lumina, warna suaramu hampir sama dengan warna suaraku, kita ambil nada segini...” Lumina menganggukkan kepala sambil tersenyum. “Pyro, warna suaramu hampir sama dengan Voda, ambil nada segini...”
“Baik,” jawab Pyro.
“Geo, kau tetap di suara rendah sesuai dengan waktu kita latihan dulu, dan kau Anemos, lebih baik kau memperkuat bagian reff dan kanon bersahut-sahutan. Aku harap kau lebih berpengalaman dan bisa berimprovisasi lebih baik.”
Semua setuju dan mereka pun bernyanyi bersama. Menghadirkan aura kegembiraan, kebersamaan dan kekeluargaan di Mata Air itu.
Mari kita menyanyi bersama...
Senandung alam penuh irama...
Muka berseri dan bersahaja
Antar mentari menuju senja..
Bagaikan embun menyejukkan pagi
Kebahagiaan yang tak terbagi
Ceriakan dunia dengan nyanyian,
Senandung alam serta senyuman...
Meskipun tidak sebagua penampilan Paduan Suara Pelangi Indah, kelompok vokal itu berhasil meraih hati masyarakat peri yang menonton. Mereka bersorak gembira setelah Geo dan kawan-kawannya selesai menyanyikan lagu. Sang Ratu, berdiri sepanjang penampilan mereka, menikmati penampilan mereka dengan sangat haru.
Pada akhirnya, Sang ratu mengumumkan bahwa pemenang festival itu adalah Paduan Suara Pelangi Indah pimpinan Radius Lucis. Tetapi sang ratu berkata, “Pada kesempatan ini, aku akan memberikan penghargaan khusus kepada kelompok vokal terakhir tadi sebagai para pahlawan persatuan. Mereka telah menyingkirkan ego singgasana masing-masing dan bersatu memperkuat singgasana lain. Itu adalah hal yang sangat baik dan patut diteladani.”
***
Itulah sekelumit dari kisah “Enam Sekawan” yang sangat terkenal dan sering diceritakan oleh bangsa peri. Keberadaan dan pertemuan mereka di festival itu menjadi awal penyatuan singgasana peri karena setelah itu, Aurora Lucis memberi mandat kepada seluruh bangsa peri untuk bermigrasi ke Mata Air Para Peri dan menetap di sekitar hutan Eros.
Enam Sekawan itu sekarang telah tiada. Setelah kejatuhan Aurora Lucis, mereka berenam terbunuh dalam pertempuran melawan kekuasaan kegelapan. Tetapi nama mereka masih terekam di memori para peri sebagai pahlawan persatuan.
____________________________________________________________
cerpen ini diikutkan dalam Lomba Tulis Cerpen - Peri-peri Xar & Vichattan (https://www.facebook.com/note.php?note_id=10150595145540017), dan menjadi JUARA 1 :D
Read more...
Bangsa peri memang gemar menyanyi dan suara mereka sangat merdu sehingga bangsa manusia sering menyangka bahwa hutan-hutan tempat tinggal bangsa peri benar-benar hidup dan pepohonannya bernyanyi. Bangsa peri hidup berkelompok sesuai singgasananya secara terpisah-pisah. Para peri api misalnya tinggal di Rawa Seribu di sebelah selatan. Para peri air, peri tanah dan peri tanaman berbagi tempat di belantara Cimea. Sedangkan para peri udara dan peri cahaya masing-masing mendiami Hutan Grim dan Mata Air Para Peri di hutan Eros. Oleh karena itulah Ratu Aurora Lucis memandang perlu dilaksanakan sebuah lomba menyanyi demi menjalin persatuan dan kesatuan bangsa peri.
Beberapa kontestan festival sudah tampak hadir di Mata Air. Ada Hydro Aqua, juara tahun lalu yang mendapatkan kesempatan tampil kembali tahun ini mempertahankan gelar juaranya yang mungkin akan bersaing ketat dengan Singgasana Udara yang juga akan menampilkan penyanyi solo. Mewakili Singgasana Api adalah penampilan kelompok duet “Volcano”. Sementara itu sebagai tuan rumah, Singgasana Cahaya akan menampilkan paduan suara “Pelangi Indah”dengan Radius Lucis, kontestan tahun lalu, sebagai dirigennya. Tidak seperti tahun lalu, tahun ini masing-masing singgasana boleh menampilkan solo, duet, trio, kelompok vokal atau paduan suara.
***
Malam itu, dari atas sebuah gundukan tanah di tepi Mata Air itu, yang sedianya besok dipakai sebagai pentas lomba, terdengar suara indah dari beberapa sosok kecil yang bercahaya kemilau warna-warni, menyanyikan lagu Senandung Alam.
... bagai embun menyejukkan pagi,
Kebahagiaan yang tak terbagi...
“Uhuk uhuk uhuk..”
“Stop! Stop! Stop!” bentak sesosok peri yang berdiri di depan sebuah kelompok paduan suara. “Lumina Lucis! Sejak dulu kau hanya membuat kekacauan saja!”
“Maafkan aku, aku tidak kuat mengambil nadanya. Terlalu tinggi bagiku,”jawab sesosok kecil yang berdiri di antara barisan terdepan kelompok paduan suara itu menahan batuknya
“Tidak ada alasan lagi, Lumina Lucis. Sudah tidak mungkin lagi diturunkan nadanya. Mungkin sebaiknya kau keluar saja dari kelompok ini.”
“Tolong, berikan aku kesempatan sekali lagi. Aku akan berusaha lebih baik lagi. Aku tidak akan mengecewakanmu!”kata Lumina memohon.
“Sudah berkali-kali latihan, kau selalu saja berbuat salah dan memohon hal yang sama. Ini adalah latihan terakhir kita karena besok kita siap tidak siap harus berkompetisi di festival. Jika sampai hari ini kita tidak bisa kompak, kita pasti akan kalah. Mengerti?”
“Tapi..,” Kata-kata peri itu telah menyakiti hati Lumina dan membuatnya menangis.
“Paduan suara pada dasarnya mengutamakan kekompakan. Jika kau tidak bisa kompak dengan kawan-kawanmu, lebih baik kau keluar saja daripada kau merusak kelompok ini.”
Tiba-tiba saja seorang peri cahaya lain datang mendekat. “Kau terlalu keras pada mereka, Radius. Itu tidak baik.”
“Luxia! Lihat anak ini, sudah berulang kali ia melakukan kesalahan yang sama. Terbatuk-batuk saat latihan dengan alasan nadanya ketinggian...”
“Kalau begitu turunkan saja nadanya”
“Tidak bisa, Luxia. Itu sudah terlalu rendah bagi yang lain. Memang kusadari warna suara anak ini berbeda sendiri, tetapi ia memaksakan diri untuk menyanyi di nada tinggi.”
“Baiklah. Kata Luxia. Aku hanya ingin kelompok paduan suara ini memberikan yang terbaik untuk Singgasana Cahaya. Dan maafkan aku, anak manis,”Luxia menggelengkan kepalanya. “Tahun depan aku pasti akan mengikutsertakanmu, tetapi tahun ini...”
“Aku tahu,” Lumina menganggukkan kepala. Ia sangat kecewa, tetapi ia mengerti bahwa warna suaranya menjadi penghalang dalam penampilan kelompoknya. “Maafkan aku juga, Radius, aku telah membuatmu marah karena kesalahan-kesalahan yang aku perbuat selama latihan. Dan kepada kawan-kawan semua, aku pasti mendukung kalian, jadi tampilkanlah yang terbaik untuk singgasana kita.”
***
Keesokan harinya, suasana Mata Air Para Peri bertambah ramai. Gundukan tanah yang akan digunakan sebagai tempat pentas itu pun sudah dihiasi bunga berwarna-warni yang berpadu dengan cahaya yang dipendarkan dari tubuh-tubuh mungil para peri yang terbang melayang-layang di tempat itu.
Rupanya ada beberapa kontestan yang baru saja hadir dan mendaftarkan diri kepada panitia. Singgasana Tanaman datang dengan kelompok band “Bunga Bersemi”-nya di mana sang pimpinan singgasana menjadi penyanyi utamanya. Dan yang menghebohkan adalah Singgasana Bumi diwakili oleh Trio Cimea, yang personelnya berasal dari tiga singgasana yang berbeda.
“Sudah kudaftarkan kalian, dan diperbolehkan oleh pihak panitia,”kata sesosok peri berjubah cokelat kepada tiga peri di depannya.
“Syukurlah kalau begitu. Terima kasih, Terranum,” kata salah satu lawan bicaranya yang berpakaian hijau dan berhiaskan bunga-bunga kecil bermekaran pada pakaiannya.
“Jangan berterima kasih kepadaku. Tetapi berterima kasihlah kepada panitia,”jawab Terranum tanpa ekspresi.
“Masih ada beberapa jam untuk kita latihan sekali lagi sebelum festival dimulai,”sahut sosok peri lain yang bernuansa biru transparan. “Tapi sebaiknya kita istirahat sejenak dulu, karena kita pasti lelah habis perjalanan jauh. Atau kita latihan dulu baru istirahat sebelum pentas?”
“Kau membuatku bingung, Voda,” ujar peri hijau tadi. “Pasti Geo dan Terranum juga bingung dengan ucapanmu tadi. Aku pikir sebaiknya kita istirahat saja. Bagaimana Geo? Terranum?” Terranum mengangguk tetapi Geo diam saja.
“Geo! Kau kenapa? Sejak kita berangkat tadi kau tampak tak bersemangat?” Tanya Terranum memperhatikan saudaranya yang tampak termenung.
“Kau masih grogi?” Voda mendekatkan dirinya kepada Geo. “Bersemangatlah, Geo! Aku dan Flora akan mendampingimu di pentas nanti.”
“Ya, Geo. Jangan kuatir, kami tak akan meninggalkanmu. Kita akan bernyanyi bersama.” ujar Flora menanggapi tetapi Geo masih saja murung dan tidak membuka mulutnya.
“Benar, Geo,” tegas Voda. “Kita adalah satu tim. Kau harus kuat supaya penampilan kita tidak mengecewakan nanti.”
Aku hanya berpesan: jangan merasa kalah sebelum berlomba,”sahut Terranum. Tampilkanlah yang terbaik untuk singgasana kita, untuk bangsa peri di hutan Cimea.”
***
Sementara itu di sebuah tempat di dekat mata air itu, terjadi sebuah kegaduhan. Nyala-nyala api kecil membakar semak-semak di sekitarnya hingga menarik perhatian para peri untuk melihat apa yang sedang terjadi. Dua sosok peri merah berapi tampak saling bertengkar.
“Kau telah mengkhianatiku, Eldur!”kata salah satunya yang berukuran lebih kecil. “Untuk apa kita latihan bersama setiap hari kalau ternyata pada akhirnya kau akan tampil solo.”
“Sekali lagi aku tidak tahu, Pyro. Atar baru saja memberitahuku beberapa saat yang lalu. Katanya kau hanya menjadi cadangan saja.”
“Di mana dia sekarang? Aku akan mencarinya dan menuntut pertanggungjawabannya.”
“Dia bersama Ignis sedang mendaftarkan diriku ke pihak panitia. Kuharap kau tetap bisa menahan emosimu di tempat ini, Pyro,” bisiknya sambil melirik ke arah kerumunan peri cahaya yang sejak tadi menonton pertengkaran mereka.
“Aku tahu. Tapi aku merasa waktuku terbuang sia-sia untuk latihan. Dan Atar harus membayarnya. Selamat tinggal.” Kemudian Pyro segera melesat meninggalkan Eldur di tempat itu menerjang para peri yang menonton pertengkaran mereka.
“Apa yang kalian lihat?”Roman muka Eldur berubah menjadi mengerikan di depan para peri cahaya yang mengerumuninya. “Pergi semua dari sini!” katanya membuat mereka kocar-kacir dengan hempasan percikan lidah-lidah api kecil sebagai tanda kekesalannya.
***
“Kau tidak apa-apa, kan Lumina?”
“Ya, Niteo. Kuharap kalian bisa ampil baik tanpaku,”jawab Lumina menahan tangis di matanya.
“Aku tahu kau kecewa. Tetapi aku yakin penampilan kami nanti akan menjadi obat kekecewaanmu.”
“Kuharap begitu. Berjuanglah kawan-kawan. Aku akan mendukung kalian dari sini.”
Riuh suara tepuk tangan para penonton festival yang didominasi oleh peri-peri cahaya menghiasi Mata Air saat kontestan tuan rumah maju sebagai peserta pertama, mengiring Paduan Suara “Pelangi Indah”menempatkan diri di atas pentas. Dan mereka pun mulai menyanyikan lagu “Senandung Alam”dengan megahnya disertai dengan pertunjukan cahaya warna-warni pelangi yang dipendarkan dan dibiaskan oleh tubuh mereka.
“Mari kita bernyanyi bersama
Senandung alam penuh irama
Muka berseri dan bersahaja
Antar mentari menuju senja...”
“Wow, penampilan mereka keren sekali!” gumam Voda yang menonton festival itu di sisi Mata Air bersama kedua kawannya. “Aku jadi kuatir apakah penampilan kita nanti bisa mengungguli penampilan mereka.”
“Voda, kau jangan bicara begitu. Kau jangan mengecilkan hati Geo!”sahut Flora.
“Oh, maafkan aku. Tetapi aku tidak yakin kita penampilan bisa lebih bagus daripada mereka. Atau ada yang lebih bagus lagi daripada mereka? Tidaaaak!”
“Sebaiknya kau tidak perlu mendengarkan kata-katanya, Geo,”ujar Flora kepada Geo yang berdiri tanpa komentar di sebelahnya. “Selalu saja membingungkan....”
“Lihat. Mereka sudah selesai bernyanyi!”seru Voda sembari ikut serta menyumbangkan tepukan tangan untuk kelompok paduan suara itu. Semua penonton, terutama para peri cahaya sepertinya sangat puas melihat penampilan wakil dari Singgasana Cahaya itu.
***
“Sebelum kita panggil kontestan nomor urut dua, kita perkenalkan dulu dewan juri kita hari ini,”seru sesosok peri cahaya yang menjadi pembawa acaranya. “Lima pimpinan singgasana peri sudah hadir di sini. Beri tepuk tangan yang meriah untuk Terranum Humus, Ignis Flamma, Unda Aqua, Ventusia Flamman dan... Luxia Lucis.” Sekali lagi suara riuh tepuk tangan kembali terdengar menyambut kelima pimpinan singgasasana peri itu berdiri di tempatnya. “Oleh karena pimpinan Singgasana Tanaman, Sero Plantoria menjadi kontestan festival ini, maka posisinya di dewan juri digantikan oleh Ratu Peri.. Aurora Lucis... Beri tepuk tangan untuk ratu kita yang tercinta ini...”
“Wow, cantik sekali ratu peri kita, Flora! Baru kali ini aku melihatnya,” gumam Voda sambil ia bertepuk tangan. “Kabarnya, selain cahaya, beliau juga menguasai unsur-unsur yang lain, ya?”
“Kita seharusnya bersyukur, Geo, kita adalah kontestan terakhir. Karena kita bisa melihat dan menilai penampilan kontestan lain sebelumnya, sehingga kita bisa memotivasi diri kita supaya lebih baik daripada mereka,” kata Flora menasihati Gero yang sejak tadi murung terus tanpa memperhatikan kata-kata Voda.
“Lihat, Flora! Sekarang gilirannya Sero!” seru Voda setengah melonjak.
“Eh? Mana? Mana?” Akhirnya Flora terpengaruh dengan kata-kata Voda dan ia pun dengan segera memalingkan pandangannya ke arah pentas.
Sero Plantoria tampil bersama kelompok band-nya, membawakan lagu “Senandung Alam”secara akustik dengan iringan tiga alat musik perkusi dari bilah-bilah bambu dan kayu yang disusun berjejer dalam sebuah kolom, menghasilkan musik yang merdu ketika dipukul. Dengan nuansa rancak, wakil Singgasana Tanaman itu berhasil membuat penonton riang bertepuk tangan sepanjang lagu dinyanyikan.
“Mari kita bernyanyi bersama
Senandung alam penuh irama...”
***
Pyro melihat festival itu dari tempat yang lebih jauh dengan sembunyi-sembunyi. Ia sangat kesal karena tidak jadi berduet dengan kawannya, Eldur. Dan beberapa saat sebelum festival dimulai, ia sempat beradu pendapat dengan Atar, pelatihnya, sampai-sampai ia diusir oleh pihak panitia.
“Aku mau lihat apakah Eldur bisa menyanyi tanpa aku atau tidak.” gumamnya di antara semak-semak..
“Tidaaaak.. ku yakin tidaak,”sahut sesosok peri berwarna putih dari belakangnya, membuat Pyro terkejut.
“Siapa kau? Aku tidak kenal kau.”
“Kau tidak kenal aku? Seharusnya aku yang tidak kenal kau.” Pyro berusaha mengendalikan emosinya dan tidak mengacuhkan peri asing tersebut. Tetapi peri udara itu berkata, “Tahun lalu aku mewakili singgasanaku di festival itu.”
“Tapi kalah, kan? Jadi kau tidak terkenal seperti Hydro Aqua.”
“Oh, aku dulu rencana akan.. duet dengan Aria, yang sebentar lagi ... tampil. Tetapi karena sesuatu, Aria tiba-tiba.. tidak bisa tampil. Akhirnya aku tampil solo. Rasanya berbeda dengan... saat latihan. Aku tidak bisa meenyanyi dengan baik karena ada sesuatu yang hilang... Hasilnya aku... tidak menang..”
“Kau menyinggung aku, ya?”
“Hah? Buat apa menyinggungmu? Nasibmu sama dengankuuu? ” Pyro tidak menjawab. Ia tampak berang mendengar cerita peri asing itu. “Aha!!! Itu Aria!!” Tiba-tiba peri udara itu bersorak. “Ia kuberi kesempatan tampil solo tahun ini. Rencana kami akan bergantian tampil solo setiap tahunnya,” katanya melanjutkan ceritanya lalu terbang melesat mendekati pentas meninggalkan Pyro di semak itu.
***
Aria Flamman tampil menyanyikan lagu “Senandung Alam” dengan sangat baik dan tidak mengecewakan sehingga setelah mendapat tepuk tangan meriah dari penonton setelah ia mengakhiri lagunya dengan hembusan angin segar ke arah mereka.
“Wah, bagus juga penampilan Aria! Sangat anggun, dengan tarian pusaran anginnya.”
“Bagaimana jika dibandingkan paduan suara kita tadi, Lumina?” tanya Niteo di sebelahnya.
“Sangat bagus. Kau dan kawan-kawan sudah menjadi obat kekecewaanku,” jawab Lumina melemparkan senyuman.
“Tapi aku lihat, kau masih memendam kegelisahan. Ada apa, Lumina?”
“Sebenarnya aku hanya ingin menyanyi, Niteo. Seandainya mereka memberiku kesempatan menyanyi, meski tidak dilombakan, aku akan melakukannya...” Lumina memandang jauh ke langit, berharap kesempatan itu datang kepadanya.
“Sudahlah, jangan dipikirkan Lumina! Lihat, berikutnya yang akan tampil adalah juara tahun lalu, Hydro Aqua.”
Gemuruh tepuk tangan kembali memenuhi tempat itu menyambut sang juara tahun lalu menyanyikan lagu “Senandung Alam”. Tetapi entah mengapa tiba-tiba saja Hydro Aqua tampil tidak maksimal. Ia lebih sering lupa lirik lagu dan salah mengambil nada dasar, sehingga setelah menyanyi di atas pentas, Hydro berkata, “Maafkan aku. Kurasa tahun ini bukan tahunku lagi.” Hal itu sangat mengecewakan semua peri yang menonton festival itu, terutama Singgasana Air.
***
“Yah, kok begitu sih, penampilannya?” gerutu Voda ikut kecewa setelah melihat penampilan wakil singgasananya. “Apa mungkin dia sedang ada masalah?”
“Mungkin juga, Voda. Tapi setidaknya penampilan kita nanti bisa lebih baik daripada penampilannya meskipun kita tidak tampil mewakili singgasana kita masing-masing.” Flora tersenyum melihat Geo yang mulai melemparkan senyumannya kepada mereka berdua. Geo terlihat lebih sumringah sekarang, seolah-olah menemukan kepercayaan dirinya kembali.
“Kita mungkin bisa mengalahkan Hydro, Tetapi mustahil kita bisa mengalahkan Aria atau paduan suara Singgasana Cahaya tadi yang tampil sangat bagus. Aku jadi pesimis.”
“Jangan begitu, Voda. Ayo kita bangkit!” Kata-kata itu terlontar dari mulut Geo. Peri tanah itu membuat kedua kawannya terkejut dan bingung.
“Geo?” Kemudian terdengarlah sorak-sorai dari ketiga sahabat itu. Mereka melonjak-lonjak kegirangan seolah-olah menemukan kembali sesuatu yang telah lama hilang.
“Sudah! Tenang! Aku punya ide,” cetus Geo.
***
Selanjutnya yang tampil adalah kontestan perwakilan Singgasana Api. Eldur ternyata berduet dengan pelatihnya, Atar Flamma. Dan hal ini membuat Pyro semakin emosi.
“Sialan, si Atar! Rupanya dia hanya ingin mendepakku saja dan dan menggantikan posisiku. Semoga penampilan mereka buruk. Lebih buruk daripada Hydro.”
Dan benar. Meskipun penampilan mereka sangat meraiah dengan pertunjukan kembang api, penampilan kedua wakil Singgasana Api itu tidak memuaskan. Atar dan Eldur benar-benar tidak bisa menyatu. Ketika seharusnya menyanyi bersahut-sahutan, Atar lebih sering berimprovisasi dan Eldur tidak bisa menyesuaikan diri. Tarian mereka pun sering tidak kompak. Dan Atar tampak sangat mendominasi penampilan itu.
Setelah selesai tampil, berkatalah Eldur di atas pentas itu. “Aku minta maaf kepada kalian semua karena penampilanku tidak maksimal hari ini. Sebenarnya Atar bukan pasangan duetku, melainkan Pyro Flamma. Kuharap aku diberi kesempatan kedua untuk tampil bersama Pyro. Tidak dinilai pun tidak mengapa.”
Kata-kata Eldur memancing emosi Atar. Tetapi Atar menahan emosinya dan lebih memilih untuk segera berlalu meninggalkan tempat itu dengan kekecewaan yang mendalam atas penampilan kelompok duetnya tadi. Penonton pun ikut kecewa atas penampilan itu.
***
“Baiklah. Sambil menunggu keputusan dewan juri mengenai permintaan Eldur, kita sembut penampilan selanjutnya..,” seru sang pembawa acara dengan menari-nari memendarkan cahaya warna-warni di atas pentas. “Keikutsertaan pertama dari Singgasana Bumi, sebuah trio yang merupakan kolaborasi apik dari tiga singgasana berbeda : Trio Cimea!”
Meskipun sambutan penonton tidak seriuh penampilan sebelumnya, Sang Ratu tampak berdiri memberikan tepuk tangannya kepada trio tersebut. Beriringan, Flora Plantoria, Geo Humus dan Voda Aqua memasuki pentas. Terranum juga ikut berdiri bertepuk tangan menyambut mereka, dan membuat Geo semakin percaya diri.
“Sebenarnya wakil dari Singgasana Bumi adalah kawan kami, Geo Humus yang sangat pemalu ini, tetapi kami ingin menemaninya tampil di sini untuk menyanyi... Oh tidak, kami memang membentuk trio sebelumnya karena kami bersahabat..,” ujar Voda di atas pentas.
“Kami mengundang beberapa dari kalian yang ingin bernyanyi bersama kami di atas pentas ini. Masing-masing satu dari Singgasana Cahaya, Singgasana Api dan Singgasana Udara. Silakan kemari, supaya kepercayaan diri saudara Geo bertambah,” potong Flora. “Dari Singgasana Cahaya?”
“Ada!” jawab sesosok peri cahaya di ujung sana. “Ayo, Lumina! Bergabunglah bersama mereka! Ini kesempatanmu!”
“Tapi Niteo..” Niteo mendorong Lumina hingga tampil ke atas pentas membuat Radius dan Luxia heran. “Maaf, semuanya. Aku, Lumina Lucis, sebenarnya adalah anggota Paduan Suara Pelangi Indah, tetapi karena sesuatu hal aku tidak bisa tampil bersama kelompokku. Jadi berikan aku kesempatan untuk menyanyi bersama mereka.”
“Selamat datang di atas pentas, peri cantik,” sambut Flora. “Dari Singgasana Api?”
Tiba-tiba melesat sosok merah berapi mendarat di atas pentas. “Aku. Pyro Flamma. Aku ingin menyanyi bersama...,” katanya sambil matanya sibuk mencari-cari Eldur di kerumunan penonton. “...kelompok baruku.” Kata-kata Pyro membakar semangat para penonton yang membalasnya dengan gemuruh tepuk tangan.
“Selamat datang, Pyro, sambut Flora lagi. “Dari Singgasana Udara?”
“Aku dataaang!” sesosok peri berwarna putih tampil ke atas pentas. “Anemos Flamman, sudah mengecewakan semua tahun lalu. Akan tampil lebih baik bersama kelompok ini meskipun bukan singgasanakuuuu.” Gemuruh tepuk tangan pun kembali terdengar sampai-sampai menelan suara Anemos yang melengking itu.
Kemudian Flora meminta waktu sebentar untuk berdiskusi dengan kelompok barunya. “Lumina, warna suaramu hampir sama dengan warna suaraku, kita ambil nada segini...” Lumina menganggukkan kepala sambil tersenyum. “Pyro, warna suaramu hampir sama dengan Voda, ambil nada segini...”
“Baik,” jawab Pyro.
“Geo, kau tetap di suara rendah sesuai dengan waktu kita latihan dulu, dan kau Anemos, lebih baik kau memperkuat bagian reff dan kanon bersahut-sahutan. Aku harap kau lebih berpengalaman dan bisa berimprovisasi lebih baik.”
Semua setuju dan mereka pun bernyanyi bersama. Menghadirkan aura kegembiraan, kebersamaan dan kekeluargaan di Mata Air itu.
Mari kita menyanyi bersama...
Senandung alam penuh irama...
Muka berseri dan bersahaja
Antar mentari menuju senja..
Bagaikan embun menyejukkan pagi
Kebahagiaan yang tak terbagi
Ceriakan dunia dengan nyanyian,
Senandung alam serta senyuman...
Meskipun tidak sebagua penampilan Paduan Suara Pelangi Indah, kelompok vokal itu berhasil meraih hati masyarakat peri yang menonton. Mereka bersorak gembira setelah Geo dan kawan-kawannya selesai menyanyikan lagu. Sang Ratu, berdiri sepanjang penampilan mereka, menikmati penampilan mereka dengan sangat haru.
Pada akhirnya, Sang ratu mengumumkan bahwa pemenang festival itu adalah Paduan Suara Pelangi Indah pimpinan Radius Lucis. Tetapi sang ratu berkata, “Pada kesempatan ini, aku akan memberikan penghargaan khusus kepada kelompok vokal terakhir tadi sebagai para pahlawan persatuan. Mereka telah menyingkirkan ego singgasana masing-masing dan bersatu memperkuat singgasana lain. Itu adalah hal yang sangat baik dan patut diteladani.”
***
Itulah sekelumit dari kisah “Enam Sekawan” yang sangat terkenal dan sering diceritakan oleh bangsa peri. Keberadaan dan pertemuan mereka di festival itu menjadi awal penyatuan singgasana peri karena setelah itu, Aurora Lucis memberi mandat kepada seluruh bangsa peri untuk bermigrasi ke Mata Air Para Peri dan menetap di sekitar hutan Eros.
Enam Sekawan itu sekarang telah tiada. Setelah kejatuhan Aurora Lucis, mereka berenam terbunuh dalam pertempuran melawan kekuasaan kegelapan. Tetapi nama mereka masih terekam di memori para peri sebagai pahlawan persatuan.
____________________________________________________________
cerpen ini diikutkan dalam Lomba Tulis Cerpen - Peri-peri Xar & Vichattan (https://www.facebook.com/note.php?note_id=10150595145540017), dan menjadi JUARA 1 :D
Read more...
SEANDAINYA AKU TIDAK MENOLEH KE BELAKANG....
Sudah ribuan tahun aku berdiri di puncak gunung ini. Hari-hariku selalu kunikmati dengan memandang hamparan Laut Asin di hadapanku dan menatap lembah gersang yang membatasinya, di mana dahulu berdiri sebuah kota yang indah dengan rumah-rumah penduduknya tersebar di antara padang rumput dan pepohonan hijau. Aku masih ingat, sebuah pulau dahulu pernah mengapung di Laut ini, tempat di mana aku, suami dan kedua anak perempuanku tinggal beberapa tahun lamanya di sebuah rumah kecil, sebelum semuanya lenyap dalam sekejap mata.
Kini aku seorang diri. Bahkan tiada makhluk yang menemaniku di puncak gunung ini. Suami dan kedua anak perempuanku sudah lama meninggalkanku di tempat ini. Tiada lagi kabar dari mereka sejak peristiwa itu. Dalam kesepian aku menyesali perbuatanku. Jika saja aku tidak mengabaikan perintah kedua orang pria itu, aku tidak akan mengalami nasib seperti ini. Dan pasti aku tidak akan kehilangan suami dan anak-anak perempuanku untuk selama-lamanya.
Masih terpatri di ingatanku bagaimana wajah pria-pria itu yang tiba-tiba saja datang sebagai orang asing di rumah kecil kami. Entah mengapa suamiku menerima kedatangan mereka dengan senang hati, menjamu mereka berdua dengan makanan dan minuman bahkan melindungi mereka ketika beberapa orang kota datang ke rumah kami dengan maksud jahat memaksa kami supaya menyerahkan mereka. Ya. Wajah mereka bersih dan tampan, sampai-sampai kukira mereka datang hendak melamar anak-anak perempuanku yang masih gadis.
Kedua orang pria itu berbicara dengan suara menggelegar, membuat diriku, suamiku dan anak-anakku takut pada setiap ucapan mereka. Apalagi ketika mereka mendesak kami untuk segera pergi keluar dan menjauh dari kota kami yang jahat itu, kami seperti tidak ada pilihan lagi. Sebab kata mereka, mereka akan memusnahkan kota itu sebelum matahari terbit. Maka mereka menyuruh kami lari ke sebuah kota di balik pegunungan ini, berlindung di sana dan melarang kami menoleh ke belakang selama perjalanan.
Hari masih gelap dan matahari waktu itu belumlah menampakkan diri. Tetapi hawa panas mulai terasa ketika aku, suami dan anak-anak perempuanku mendaki pegunungan terjal ini, seolah-olah mendorong kami melupakan lelah dan pegal kaki-kaki ini untuk melangkah setapak demi setapak. Deru suara dentuman terdengar bergemuruh di belakang kami. Kilatan-kilatan cahaya silih berganti menyilaukan pandangan di sekitar kami, membuatku memperlambat langkahku ketika mencapai puncak. “Apapun yang terjadi, jangan menoleh ke belakang!” ucap suamiku menirukan kata-kata kedua orang pria tadi, dan itu adalah kata-kata terakhir yang kudengar daripadanya.
Kuhentikan langkahku. Dengan penasaran kucoba palingkan wajahku. Terhenyak aku melihat pemandangan mengerikan di bawah sana. Api-api turun dari langit membumihanguskan seluruh rumah dan pepohonan. Kota itu telah menjadi lautan api. Jeritan-jeritan kesedihan yang memilukan kudengar sayup-sayup terbawa angin dari orang-orang yang bernasib malang di kota itu. Beruntunglah keluargaku tidak mengalami kemalangan seperti orang-orang jahat itu, batinku.
Ketika kepulan asap dan bau belerang yang menyengat mulai mengganggu pandangan dan pernafasanku, tiba-tiba saja sebuah angin panas menjangkau tubuhku, dan entah mengapa setelah itu kaki, tangan dan kepalaku tidak bisa digerakkan sama sekali. Aku ingin teriak memanggil-manggil nama suamiku agar dia kembali menjemputku dan menolongku di tempat ini, tetapi mulutku pun tidak bisa kugerakkan. Aku membatu di sini, sendiri di puncak gunung ini.
Sudah habis air mataku meratapi nasibku ini. Aku menyesal. Aku sangat menyesal. Aku rindu suami dan anak-anakku. Seandainya aku tidak menoleh ke belakang....
_________________________________________________________
Cerpen ini diikutkan dalam Lomba Cerita Bulanan Kastil Fantasi (April ’12)
(http://www.goodreads.com/topic/show/869236-lomba-cerbul-kasfan-april-12?type=topic#comment_50157414)
Read more...
Kini aku seorang diri. Bahkan tiada makhluk yang menemaniku di puncak gunung ini. Suami dan kedua anak perempuanku sudah lama meninggalkanku di tempat ini. Tiada lagi kabar dari mereka sejak peristiwa itu. Dalam kesepian aku menyesali perbuatanku. Jika saja aku tidak mengabaikan perintah kedua orang pria itu, aku tidak akan mengalami nasib seperti ini. Dan pasti aku tidak akan kehilangan suami dan anak-anak perempuanku untuk selama-lamanya.
Masih terpatri di ingatanku bagaimana wajah pria-pria itu yang tiba-tiba saja datang sebagai orang asing di rumah kecil kami. Entah mengapa suamiku menerima kedatangan mereka dengan senang hati, menjamu mereka berdua dengan makanan dan minuman bahkan melindungi mereka ketika beberapa orang kota datang ke rumah kami dengan maksud jahat memaksa kami supaya menyerahkan mereka. Ya. Wajah mereka bersih dan tampan, sampai-sampai kukira mereka datang hendak melamar anak-anak perempuanku yang masih gadis.
Kedua orang pria itu berbicara dengan suara menggelegar, membuat diriku, suamiku dan anak-anakku takut pada setiap ucapan mereka. Apalagi ketika mereka mendesak kami untuk segera pergi keluar dan menjauh dari kota kami yang jahat itu, kami seperti tidak ada pilihan lagi. Sebab kata mereka, mereka akan memusnahkan kota itu sebelum matahari terbit. Maka mereka menyuruh kami lari ke sebuah kota di balik pegunungan ini, berlindung di sana dan melarang kami menoleh ke belakang selama perjalanan.
Hari masih gelap dan matahari waktu itu belumlah menampakkan diri. Tetapi hawa panas mulai terasa ketika aku, suami dan anak-anak perempuanku mendaki pegunungan terjal ini, seolah-olah mendorong kami melupakan lelah dan pegal kaki-kaki ini untuk melangkah setapak demi setapak. Deru suara dentuman terdengar bergemuruh di belakang kami. Kilatan-kilatan cahaya silih berganti menyilaukan pandangan di sekitar kami, membuatku memperlambat langkahku ketika mencapai puncak. “Apapun yang terjadi, jangan menoleh ke belakang!” ucap suamiku menirukan kata-kata kedua orang pria tadi, dan itu adalah kata-kata terakhir yang kudengar daripadanya.
Kuhentikan langkahku. Dengan penasaran kucoba palingkan wajahku. Terhenyak aku melihat pemandangan mengerikan di bawah sana. Api-api turun dari langit membumihanguskan seluruh rumah dan pepohonan. Kota itu telah menjadi lautan api. Jeritan-jeritan kesedihan yang memilukan kudengar sayup-sayup terbawa angin dari orang-orang yang bernasib malang di kota itu. Beruntunglah keluargaku tidak mengalami kemalangan seperti orang-orang jahat itu, batinku.
Ketika kepulan asap dan bau belerang yang menyengat mulai mengganggu pandangan dan pernafasanku, tiba-tiba saja sebuah angin panas menjangkau tubuhku, dan entah mengapa setelah itu kaki, tangan dan kepalaku tidak bisa digerakkan sama sekali. Aku ingin teriak memanggil-manggil nama suamiku agar dia kembali menjemputku dan menolongku di tempat ini, tetapi mulutku pun tidak bisa kugerakkan. Aku membatu di sini, sendiri di puncak gunung ini.
Sudah habis air mataku meratapi nasibku ini. Aku menyesal. Aku sangat menyesal. Aku rindu suami dan anak-anakku. Seandainya aku tidak menoleh ke belakang....
_________________________________________________________
Cerpen ini diikutkan dalam Lomba Cerita Bulanan Kastil Fantasi (April ’12)
(http://www.goodreads.com/topic/show/869236-lomba-cerbul-kasfan-april-12?type=topic#comment_50157414)
Read more...
DOMBA DAN GEMBALA
KREEEEKKKK
Suara itu mengejutkan kami sehingga kami semua terbangun. Ada seorang manusia yang membuka pintu dan menyapa, “Selamat pagi, domba-dombaku! Apa kabar kalian? Nyenyakkah tidur kalian semalam?” Suaranya sangat akrab di telinga kami, bahkan di telingaku yang baru saja lahir beberapa hari yang lalu. Ya. Itu adalah suara Dawid, gembala kami. Meskipun hari masih gelap, dan suasana di kandang ini remang-remang tetapi kami sangat mengenali suaranya.
Aku pun ikut terbangun. Ibuku berdiri dan aku pun ikut berdiri. Naluri kami mengatakan bahwa kami semua harus saling merapat dan berbaris menghadap pintu karena Dawid pasti akan membawa kami ke tempat yang baru lagi hari ini, sebuah tempat yang pasti penuh dengan rumput hijau yang lezat. “Hayo? Ada yang sakitkah hari ini?” kata Dawid dengan penuh senyum kepada kami sambil memandang kami satu per satu.
Kata ibuku, Dawid adalah manusia yang baik bagi kami. Tak seperti kakak-kakaknya yang dahulu pernah menggembalakan kami, Dawid lebih sering bercakap-cakap dengan kami, laksana dengan kawan manusianya. Sudah enam tahun ibuku mengenalnya, dan ia sangat mengenal masing-masing dari kami.
“Awan Menari!” Itu nama ibuku disebutnya. “Di mana anakmu?”
“Di sini. Ini dia,” jawab ibuku. Ia sangat mengerti kata-kata ibuku meskipun ibuku tidak berbahasa manusia. Dan begitu menemukan diriku yang sembunyi di balik tubuh ibuku di antara para domba yang mengerumuniku, ia tampak gembira, mengangkatku ke atas dan mengelus-elus tubuhku dengan tangannya.
“Tolong, hentikan, kau membuatku geli,” begitulah aku berseru dan kuharap ia mengerti juga maksudku.
“Gigimu sudah tumbuh jadi kau sekarang boleh keluar, ya, merumput bersama saudara-saudaramu yang lainnya...,” ujarnya kepadaku sambil menyentuhkan ujung hidungnya ke ujung hidungku. “Dan tentu saja bersama ibumu juga.”
“Asyik! Akhirnya aku merumput juga,” seruku kegirangan. Ya, memang selama beberapa hari setelah kelahiranku, aku selalu menghabiskan waktuku bersama ibu di kandang, disusui oleh ibuku atau bermain bersama anak-anak domba yang lain yang lebih muda beberapa hari daripada aku. Sementara itu ibuku dan ibu-ibu domba lainnya memperoleh makanannya dari rumput-rumputan yang disediakan Tuan Yishay, yang merupakan ayah dari Dawid.
“Oh, ya. Aku belum memberimu nama,” sahutnya sambil menggendongku ke dalam dekapan tangannya. “Bagaimana kalau namamu Singa Putih?” Ia pun berpikir lagi. “Oh, tidak, tidak, tidak. Terlalu berlebihan tampaknya... Emmm, ah ya, belum ada dari domba-dombaku yang diberi nama seperti namaku. Baiklah. Mulai sekarang kau kupanggil Dawid.” Begitu ia menurunkan aku, aku segera berlari kepada ibuku. “Ayo, domba-dombaku. Aku akan membawamu ke padang yang berumput hijau di luar sana,” katanya sambil membelai beberapa ekor domba.
Kemudian pintu kandang dibuka lebih lebar lagi dan masing-masing dari kami keluar melalui pintu itu dua-dua secara berdesak-desakan mengikuti Dawid yang terlebih dahulu melangkah keluar..
“Ibu! Ibu! Di mana kau, ibu!” jeritku memanggil-manggil ibuku. Karena berdesak-desakan aku jadi terpisah dengan ibuku.
“Anakku! Dawid anakku!” Ibuku berseru-seru dari luar menunggu diriku keluar. Begitu ia menemukanku, aku merasa bersuka cita
“Ibu! Aku takut, ibu! Aku takut kehilanganmu.”
Hari masih belum terang betul sewaktu kami berhambur keluar. Embun basah masih terasa di rerumputan yang kami injak, yang tumbuh jarang di tengah jalan. Kabut dingin masih tampak membayang-bayangi tujuan kami di depan sana.
“Hari ini kita mau dibawa ke mana ya?” tanya seekor domba kepada yang lain.
“Yang pasti bukan seperti yang kemarin, karena di sana rumputnya sudah hampir habis karena dimakan lembu-lembu tambun itu,” jawab si Tanduk Emas, ayahku, salah satu jantan dominan di kelompok kami.
“Akankah kita melewati hutan di depan sana?”
“Aku tak tahu, tetapi sepertinya benar. Semoga saja tidak ada serigala atau beruang yang menakut-nakuti kita.”
Begitulah aku mendengar saudara-saudaraku kaum domba bercakap-cakap selama perjalanan. Aku melihat di depan sana Dawid, gembala kami yang tampak gagah dengan tongkat kayu berkait di tangan kanannya serta membawa sebuah buntalan pada tangan kirinya yang aku tak tahu isinya apa, memimpin perjalanan kami. Ujung pakaiannya yang dari kain itu tampak melambai-lambai diterpa angin pagi yang sejuk saat ia berjalan. Aku tak tahu apakah ia juga mendengar dan mengerti percakapan domba-dombanya. Tetapi seolah menjawab pertanyaan kami, ia tiba-tiba berseru, “Tenang, kita akan melewati tepi hutan itu dengan selamat. Tak ada serigala ataupun beruang yang berani kepadaku.”
“Apa itu serigala dan beruang, ibu?” tanyaku kepada ibuku yang sedari tadi berjalan di sampingku.
“Serigala dan beruang itu makhluk-makhluk jahat. Mereka sering mengganggu kita, menakut-nakuti kita, menyerang kita, mencabik-cabik kita dengan gigi dan kuku-kukunya yang tajam serta memakan kita.”
“Apa? Mereka memakan kita?” Aku mempercepat jalanku, berusaha menyamakan kecepatan jalan ibuku supaya tidak ketinggalan jauh karena aku takut. “Seperti kita memakan rumput?”
“Ya. Tapi kau tidak perlu takut atau kuatir, anakku. Gembala kita ini adalah manusia yang kuat. Sebelum aku melahirkanmu, ia pernah bergulat melawan singa tanpa rasa takut demi menyelamatkanku yang hampir saja diterkam oleh singa itu ketika aku terpencar dari rombongan. Aku menyaksikannya dengan mataku sendiri bagaimana ia berusaha menakut-nakuti sang singa dengan tongkatnya. Dan aku masih ingat bagaimana ia mencoba mempertahankan dirinya saat sang singa berbalik melawannya: menusukkan tongkat kayunya yang runcing itu ke kerongkongan singa itu dan membuat singa itu takluk di hadapannya.”
“Oh.. Berarti singa itu sama seperti serigala dan beruang, ya bu? Sama-sama makhluk yang jahat dan suka memakan kita?”
“Ya. Seperti itulah.”
Kami hampir sampai tepi hutan itu, yang tampak mengerikan bagi kami, tempat tinggal makhluk-makhluk jahat yang sewaktu-waktu dapat menyerang kami. Tepat di pertigaan jalan Dawid menghentikan langkahnya.
“Domba-dombaku! Berhenti!” seru Dawid, gembala kami. Kami mengerti perintahnya dan menghentikan langkah kami. Dawid segera bergerak ke belakang. Matanya melihat jauh ke arah jalan yang sebelah sana seperti sedang menunggu sesuatu.
“Apa? Jadi di tempat ini kita akan merumput?” terdengar gerutu beberapa ekor domba.
“Apakah makhluk-makhluk jahat itu sedang mengintai kita sekarang?” kata yang lain ketakutan.
“Sebaiknya kita terus saja daripada mati konyol di sini,” sahut domba jantan perkasa yang merupakan ayahku, satu-satunya pejantan dominan di kelompok ini.
“Jangan! Lihat! Rupanya ia sedang menanti Otsem,” seru ibuku. Dan benar, datang dari arah sana dari balik kabut tipis berduyun-duyun sekelompok kambing bersama seorang gembalanya, yaitu Otsem, saudara laki-laki Dawid yang bertugas meggembalakan kambing.
Baru kali ini aku melihat wujud kambing. Memang mirip sih. Bedanya kami dianugerahi bulu tebal dari Sang Pencipta sedangkan kambing tidak. Kami berwarna putih sedangkan mereka berwarna gelap. Kata ibuku, kambing dan domba itu bersaudara. Jadi bahasanya pun sama dengan bahasa kami. Tetapi kata ibuku lagi, kambing seringkali tampak angkuh dan tidak bersahabat di hadapan kami oleh karena itu ditempatkan di kandang yang terpisah dari kami. Mereka lebih suka mencari rumput sendiri-sendiri ketika sampai di padang.
“Hai, makhluk bodoh!” sapa seekor kambing dengan nada mengejek kepada kami diikuti dengan sapaan yang sama oleh kawan-kawannya sesama kambing di belakangnya. “Sampai kapan kalian selalu menurut kehendak gembalamu? Lihatlah ia akan membawamu ke dalam hutan itu!”
“Ah, tidak mungkin,” sahut si Tanduk Emas, ayahku, membalas ejekan kambing-kambing itu yang sudah menghina domba-domba. “Kalian saja yang pergi ke sana sendirian kalau berani sebelum cambuk gembala kalian mengenai tubuh kalian, hahaha.”
Kambing-kambing itu membalasnya dengan olok-olok, “Bagi kami lebih baik kena cambuk daripada bulu-bulu kami dicukur oleh manusia, hahaha.”
“Jadi kalian kira kami kesakitan ketika bulu kami dicukur?” seekor domba lain menimpali dengan olokan. ”Kalian salah.”
Begitulah di sepanjang perjalanan terjadi saling olok antara domba dan kambing. Entah kenapa rombongan kambing itu berjalan di depan rombongan kami. Mungkin karena Dawid, gembala kami ingin bercakap-cakap dengan saudaranya, gembala para kambing itu. Tetapi kata ibuku, itu karena kambing lebih liar, tidak suka dipimpin oleh gembalanya sehingga gembalanya selalu menggiring mereka dari belakang, bukan seperti kami yang lebih suka berjalan di belakang gembala kami, menurut ke mana gembala kami pergi. Gembala mereka membawa sebuah tongkat cambuk yang selalu siap menerjang tubuh mereka jika jalan mereka menyimpang ke kiri atau ke kanan, karena mereka lebih sering menuruti kata hati mereka masing-masing daripada kehendak gembalanya.
Akhirnya kami melewati hutan yang mengerikan itu dan sampai ke sebuah padang rumput luas menghijau, tempat kami harus berbagi makanan dengan para kambing yang sombong itu.
Ibuku memperingatkanku untuk tidak jauh darinya dan juga rombongan kami dengan alasan banyak makhluk jahat di sekitar sini. Kami merumput bersama-sama, pada satu tempat dengan si Tanduk Lengkung, ayahku itu yang memimpin. Jika rumput di sebelah sini mulai habis, dipimpinnya kami untuk pidah ke sebelah sana secara bersama-sama, begitu seterusnya. Sementara itu Dawid sang gembala kami mengawasi kami dari jauh. Ia duduk sendirian di bawah sebuah pohon sambil jemarinya memetik-metik dawai sebuah benda yang kata ibuku itu namanya kecapi, menimbulkan irama yang merdu yang membuat kami betah berlama-lama merumput di sini. Sementara itu sang gembala kambing mengawasang kambing-kambingnya dari dekat menjaga kawanan kambingnya supaya tidak terpencar terlalu jauh.
Matahari sudah bersinar semakin terang dan kehangatannya meresap ke pori-pori kulit kami. Dawid menghampiri tempat kami merumput dan berkata, “Mari, domba-dombaku, ikutlah aku menuju sungai di sebelah sana! Ada air yang segar yang bisa menyejukkan kerongkongan kalian.” Kemudian kami pun mengikuti dia kemana pun ia berjalan.
Tibalah kami di sungai yang dijanjikan itu. Sebuah sungai yang bening dan alirannya tenang. Dawid juga tampak melegakan dahaganya dengan meminum air sungai itu. Kemudian datanglah para kambing bersama gembalanya memenuhi tepi sungai itu dengan tubuh-tubuh besar mereka.
Seekor kambing datang kepadaku dan berkata, “Kau anak baru ya? Ini pertama kali kau merumput kan? Bagaimana rasa rumput?”
Aku tidak menjawab sebab ibuku sudah berpesan kepadaku bahwa aku tidak boleh berbicara dengan para kambing karena mereka suka mengolok-olok. Mataku pun segera mencari ibuku yang ternyata berada di sebelah sana sedang bercakap-cakap dengan ayahku.
“Lihat bukit itu!” kata sang kambing. “Di balik bukit itu ada sebuah padang rumput yang sangat lezat, lebih lezat daripada rumput-rumput di sini. Aku dan saudara-saudaraku pernah diajak Otsem ke sana. Di sana juga ada mata air yang selalu memancarkan air menyegarkan, tanpa harus berjalan cukup jauh seperti sekarang ini.”
“Benarkah?”tanyaku heran. “Tetapi mengapa Dawid tidak membawa kami ke sana?”
“Kalau itu aku tak tahu. Mungkin ia cuma tak ingin kalian menikmati makanan yang lebih lezat sementara ia tidak bisa menikmatinya..,” jawab sang kambing.
“Mungkinkah itu?” kataku tertegun.
“Lebih baik kau tidak mempertanyakan hal itu kepada ibumu. Tetapi, jika aku menjadi kau, aku akan menuruti kata hatiku, menuruti kehendakku. Kalau aku ingin pergi ke sana, ya aku akan kesana tanpa harus berkata kepada yang lain.”
Aku memandang jauh ke arah gundukan bukit di depan sana. Harum semerbak hijau rerumputan tertiup angin sampai ke mari. Aku penasaran dengan apa yang ada di balik gundukan besar itu. Apakah benar seperti yang dikatakan kambing itu? Maka timbullah keinginanku untuk pergi ke balik bukit itu.
Kulihat ibuku masih bersama saudara-saudaranya mencari rumput di bibir sungai. Sementara Dawid sang gembala kami sedang bercakap-cakap dengan Otsem. Kemudian aku pikir ini adalah kesempatanku untuk pergi ke sana, membuktikan perkataan sang kambing. Perlahan aku menjauh dari kelompokku, semakin jauh dan semakin jauh aku mendaki bukit besar yang landai itu sampai pada puncaknya di mana pada domba sudah tidak jelas terlihat.
Dan benar. Sejauh mataku memandang adalah hamparan rumput hijau yang luas, dari ujung ke ujung, hanya sebuah hutan lebat yang membatasinya di sisi sebelah sana. Tidak ada seekorpun binatang ternak yang merumput di sana. Sebuah sungai mengalir dari mata air yang jernih di antara hijaunya rerumputan. Mungkin mata air itu adalah sumber dari sungai tempat kami minum di belakang sana, yang aliran sungainya mengitari bukit ini. Ini benar-benar hebat. Di sini aku bisa makan sampai puas dan kekenyangan hari ini, pikirku.
Aku turun menapaki sisi bukit itu yang ternyata lebih terjal daripada sisi yang lain. Dengan hati-hati aku menuruninya dan sudah cukup jauh aku berjalan, tapi tiba-tiba kaki kanan belakangku terperosok ke dalam sebuah celah tanah, hingga masuk semua. Dengan sekuat tenaga aku menariknya tetapi tidak berhasil sampai habis seluruh tenagaku. Aku pun meronta-ronta, menangis memanggil-manggil ibuku. Tetapi tiada yang mendengarnya. Aku terus menerus berseru, “Ibu! Ibu! Tolong aku! Dawid! Dawid! Tolong aku!”
Cukup lama aku berada di tempat yang asing itu. Sendiri, hanya ditemani rasa takut dan kuatir akan makhluk-makhluk jahat yang akan memakan diriku. Aku terus-menerus berseru-seru memanggil-manggil ibuku dan gembalaku berharap mereka menemukanku di sini. Aku sangat menyesal telah menuruti kata hatiku. Aku sangat menyesal sudah terpengaruh kata-kata kambing itu.
Langit semakin gelap dan matahari pun bergerak terbenam di antara awan-awan. Suaraku sudah habis, dan kerongkonganku sudah kering. Belum sempat aku mengecap sejuknya air mata air itu dan lezatnay rerumputan di tempat ini. Suara-suara aneh mulai terdengar dari jauh. Suara lolongan yang sepertinya makhluk-makhluk jahat muncul dari belantara itu, membuatku tercekam rasa takut.
“Tolong! Tolong aku! Siapapun juga tolong aku!”
Kulihat samar-samar sesosok besar datang menghampiriku. Sosok apakah itu? Apakah ia akan menolongku?
Ia bukan manusia dan tetapi kurang lebih setinggi tubuh Dawid. Berlari dengan keempat kakinya dari arah sebelah kiriku. “Siapakah kau? Kau akan menolongku atau tidak?” Remang-remang moncongnya terlihat panjang olehku. Ia menggeliat dan bersuara keras. Gigi-giginya yang besar diselimuti air liur diperlihatkannya di depanku. Ia pasti makhluk jahat. Ia pasti salah satu dari serigala, singa atau beruang yang akan memakanku.
“Kumohon, jangan memakanku!”
PLETAKKK
Tiba-tiba saja makhluk besar itu rebah. Rupanya ada sesuatu yang mengenai dahinya. Seorang manusia datang dari arah sebelah kananku, tampak dari jauh membawa obor di tangan kirinya.
“Dawid! Itukah kau?” seruku dengan suara yang sudah tidak jelas terdengar. Benar. Dawid telah datang menyelamatkanku dari serangan makhluk jahat itu. Segera ia menusuk-nusuk tubuh makhluk jahat yang sudah terkapar tidak berdaya itu dengan ujung tongkat gembalanya, meyakinkan apakah makhluk itu sudah benar-benar tidak sadarkan diri. Kemudian ia mengambil sebuah pisau belati dari balik pakaiannya, dicabik-cabiknya tubuh makhluk itu. Dirobeknya dada makhluk itu untuk dibuang jantungnya.
Setelah itu ia baru memalingkan wajahnya kepadaku. “Kau di sini rupanya, Dawid. Aku dan ibumu sangat menguatirkan keadaanmu,” katanya kepadaku sambil melepaskan kakiku dari jeratan celah tanah yang sudah membuatku gila hampir seharian ini. “Kau terlalu jauh berjalan. Lihat! Seekor beruang hampir saja memangsamu. Kau hampir saja mencelakakan dirimu sendiri. Untung saja aku cepat datang dan mengumban batu kepadanya.”
“Terimakasih, Dawid,” kataku. Kaki kanan belakangku ternyata berdarah. Perih sekali rasanya. Dengan pisau belatinya, Dawid menyobek ujung kain pada pakaiannya dan membalutkannya pada kakiku yang terluka itu. Beberapa saat kemudian datanglah beberapa orang manusia lain ke tempat kami dengan cahaya-cahaya obor di tangan mereka.
“Sudah ketemu?” tanya seorang dari mereka.
“Ya, hanya saja, kakinya terluka. Ia hampir saja dimangsa beruang tadi.”
“Baiklah. Mari kita segera pulang sebelum matahari benar-benar terbenam. Ayah kita pasti senang mendengar kabar ini,” kata seorang lagi. Ternyata mereka adalah saudara-saudara lelaki Dawid, anak-anak Tuan Yishay, yang juga datang untuk membantu mencariku. Kemudian aku digendong oleh Dawid pada lehernya. Dipegangnya erat-erat keempat kakiku dengan kedua tangannya, dua di tangan kanannya dan dua lagi di tangan kirinya.
Di sepanjang perjalanan keempat saudara Dawid bercakap-cakap mengomentari peristiwa hilangnya diriku. Dan aku mendengar bahwa mereka terkesan menyalahkan Dawid, saudara termuda mereka karena kecerobohannya lalai dalam mengawasi domba-domba. Dawid hanya diam saja mendengar penghakiman atas dirinya dari saudara-suadaranya itu. “Tidak. Itu bukan kesalahan Dawid. Itu kesalahanku.” Kataku kepada mereka. “Itu karena aku menuruti kehendakku, maka aku pergi ke sana sendirian.”
Dan kami pun sampai rumah tepat saat bulan dan bintang-bintang menampakka dirinya di langit malam. Tuan Yishay membantu Dawid merawat kakiku, mengobati lukaku dengan mencurahkan anggur ke atas lukanya supaya tidak semakin parah. “Maafkan, anakmu ini, ayah, telah lalai menjaganya,” kata Dawid menyesal. Tuan Yishay tidak berkata sesuatu untuk menanggapi permintaan maaf dari anaknya itu. Beliau sibuk mengganti kain pembalut luka di kakiku.
“Kumohon, Tuan Yishay, janganlah kau memarahi anakmu itu. Akulah yang salah. Akulah yang nakal,” ujarku berkai-kali membela Dawid. Kuharap beliau mengerti kata-kataku. Lama sekali mereka terdiam tanpa suara, hanya suarakulah yang memenuhi ruangan rumah itu yang penuh kehangatan.
“Kuharap ia benar-benar pulih sebelum bulan Nisan,” Akhirnya Tuan Yishay pun membuka mulutnya. “Bukankah ia genap berusia setahun pada bulan Adar besok? Kuharap lukanya tidak membekas dan jalannya pun tidak menjadi pincang sehingga ia layak dipersembahkan kepada Tuhan pada Hari Raya nanti.”
Maka Tuan Yishay mengadakan pesta bagi seisi rumahnya dan bersuka cita bagaikan menemukan kembali sesuatu yang hilang. Dan aku pun bersuka cita karena berjumpa lagi dengan ibuku di dalam kandang.
“Ibu, aku rindu padamu,” kataku mendekap ibuku.
____________________________________________________________
Cerpen ini diikutkan dalam Lomba Cerita Bulanan Kastil Fantasi (Maret'12) (http://www.goodreads.com/topic/show/834583-lomba-cerbul-kasfan-mar-12#comment_48363146)
Read more...
Suara itu mengejutkan kami sehingga kami semua terbangun. Ada seorang manusia yang membuka pintu dan menyapa, “Selamat pagi, domba-dombaku! Apa kabar kalian? Nyenyakkah tidur kalian semalam?” Suaranya sangat akrab di telinga kami, bahkan di telingaku yang baru saja lahir beberapa hari yang lalu. Ya. Itu adalah suara Dawid, gembala kami. Meskipun hari masih gelap, dan suasana di kandang ini remang-remang tetapi kami sangat mengenali suaranya.
Aku pun ikut terbangun. Ibuku berdiri dan aku pun ikut berdiri. Naluri kami mengatakan bahwa kami semua harus saling merapat dan berbaris menghadap pintu karena Dawid pasti akan membawa kami ke tempat yang baru lagi hari ini, sebuah tempat yang pasti penuh dengan rumput hijau yang lezat. “Hayo? Ada yang sakitkah hari ini?” kata Dawid dengan penuh senyum kepada kami sambil memandang kami satu per satu.
Kata ibuku, Dawid adalah manusia yang baik bagi kami. Tak seperti kakak-kakaknya yang dahulu pernah menggembalakan kami, Dawid lebih sering bercakap-cakap dengan kami, laksana dengan kawan manusianya. Sudah enam tahun ibuku mengenalnya, dan ia sangat mengenal masing-masing dari kami.
“Awan Menari!” Itu nama ibuku disebutnya. “Di mana anakmu?”
“Di sini. Ini dia,” jawab ibuku. Ia sangat mengerti kata-kata ibuku meskipun ibuku tidak berbahasa manusia. Dan begitu menemukan diriku yang sembunyi di balik tubuh ibuku di antara para domba yang mengerumuniku, ia tampak gembira, mengangkatku ke atas dan mengelus-elus tubuhku dengan tangannya.
“Tolong, hentikan, kau membuatku geli,” begitulah aku berseru dan kuharap ia mengerti juga maksudku.
“Gigimu sudah tumbuh jadi kau sekarang boleh keluar, ya, merumput bersama saudara-saudaramu yang lainnya...,” ujarnya kepadaku sambil menyentuhkan ujung hidungnya ke ujung hidungku. “Dan tentu saja bersama ibumu juga.”
“Asyik! Akhirnya aku merumput juga,” seruku kegirangan. Ya, memang selama beberapa hari setelah kelahiranku, aku selalu menghabiskan waktuku bersama ibu di kandang, disusui oleh ibuku atau bermain bersama anak-anak domba yang lain yang lebih muda beberapa hari daripada aku. Sementara itu ibuku dan ibu-ibu domba lainnya memperoleh makanannya dari rumput-rumputan yang disediakan Tuan Yishay, yang merupakan ayah dari Dawid.
“Oh, ya. Aku belum memberimu nama,” sahutnya sambil menggendongku ke dalam dekapan tangannya. “Bagaimana kalau namamu Singa Putih?” Ia pun berpikir lagi. “Oh, tidak, tidak, tidak. Terlalu berlebihan tampaknya... Emmm, ah ya, belum ada dari domba-dombaku yang diberi nama seperti namaku. Baiklah. Mulai sekarang kau kupanggil Dawid.” Begitu ia menurunkan aku, aku segera berlari kepada ibuku. “Ayo, domba-dombaku. Aku akan membawamu ke padang yang berumput hijau di luar sana,” katanya sambil membelai beberapa ekor domba.
Kemudian pintu kandang dibuka lebih lebar lagi dan masing-masing dari kami keluar melalui pintu itu dua-dua secara berdesak-desakan mengikuti Dawid yang terlebih dahulu melangkah keluar..
“Ibu! Ibu! Di mana kau, ibu!” jeritku memanggil-manggil ibuku. Karena berdesak-desakan aku jadi terpisah dengan ibuku.
“Anakku! Dawid anakku!” Ibuku berseru-seru dari luar menunggu diriku keluar. Begitu ia menemukanku, aku merasa bersuka cita
“Ibu! Aku takut, ibu! Aku takut kehilanganmu.”
Hari masih belum terang betul sewaktu kami berhambur keluar. Embun basah masih terasa di rerumputan yang kami injak, yang tumbuh jarang di tengah jalan. Kabut dingin masih tampak membayang-bayangi tujuan kami di depan sana.
“Hari ini kita mau dibawa ke mana ya?” tanya seekor domba kepada yang lain.
“Yang pasti bukan seperti yang kemarin, karena di sana rumputnya sudah hampir habis karena dimakan lembu-lembu tambun itu,” jawab si Tanduk Emas, ayahku, salah satu jantan dominan di kelompok kami.
“Akankah kita melewati hutan di depan sana?”
“Aku tak tahu, tetapi sepertinya benar. Semoga saja tidak ada serigala atau beruang yang menakut-nakuti kita.”
Begitulah aku mendengar saudara-saudaraku kaum domba bercakap-cakap selama perjalanan. Aku melihat di depan sana Dawid, gembala kami yang tampak gagah dengan tongkat kayu berkait di tangan kanannya serta membawa sebuah buntalan pada tangan kirinya yang aku tak tahu isinya apa, memimpin perjalanan kami. Ujung pakaiannya yang dari kain itu tampak melambai-lambai diterpa angin pagi yang sejuk saat ia berjalan. Aku tak tahu apakah ia juga mendengar dan mengerti percakapan domba-dombanya. Tetapi seolah menjawab pertanyaan kami, ia tiba-tiba berseru, “Tenang, kita akan melewati tepi hutan itu dengan selamat. Tak ada serigala ataupun beruang yang berani kepadaku.”
“Apa itu serigala dan beruang, ibu?” tanyaku kepada ibuku yang sedari tadi berjalan di sampingku.
“Serigala dan beruang itu makhluk-makhluk jahat. Mereka sering mengganggu kita, menakut-nakuti kita, menyerang kita, mencabik-cabik kita dengan gigi dan kuku-kukunya yang tajam serta memakan kita.”
“Apa? Mereka memakan kita?” Aku mempercepat jalanku, berusaha menyamakan kecepatan jalan ibuku supaya tidak ketinggalan jauh karena aku takut. “Seperti kita memakan rumput?”
“Ya. Tapi kau tidak perlu takut atau kuatir, anakku. Gembala kita ini adalah manusia yang kuat. Sebelum aku melahirkanmu, ia pernah bergulat melawan singa tanpa rasa takut demi menyelamatkanku yang hampir saja diterkam oleh singa itu ketika aku terpencar dari rombongan. Aku menyaksikannya dengan mataku sendiri bagaimana ia berusaha menakut-nakuti sang singa dengan tongkatnya. Dan aku masih ingat bagaimana ia mencoba mempertahankan dirinya saat sang singa berbalik melawannya: menusukkan tongkat kayunya yang runcing itu ke kerongkongan singa itu dan membuat singa itu takluk di hadapannya.”
“Oh.. Berarti singa itu sama seperti serigala dan beruang, ya bu? Sama-sama makhluk yang jahat dan suka memakan kita?”
“Ya. Seperti itulah.”
Kami hampir sampai tepi hutan itu, yang tampak mengerikan bagi kami, tempat tinggal makhluk-makhluk jahat yang sewaktu-waktu dapat menyerang kami. Tepat di pertigaan jalan Dawid menghentikan langkahnya.
“Domba-dombaku! Berhenti!” seru Dawid, gembala kami. Kami mengerti perintahnya dan menghentikan langkah kami. Dawid segera bergerak ke belakang. Matanya melihat jauh ke arah jalan yang sebelah sana seperti sedang menunggu sesuatu.
“Apa? Jadi di tempat ini kita akan merumput?” terdengar gerutu beberapa ekor domba.
“Apakah makhluk-makhluk jahat itu sedang mengintai kita sekarang?” kata yang lain ketakutan.
“Sebaiknya kita terus saja daripada mati konyol di sini,” sahut domba jantan perkasa yang merupakan ayahku, satu-satunya pejantan dominan di kelompok ini.
“Jangan! Lihat! Rupanya ia sedang menanti Otsem,” seru ibuku. Dan benar, datang dari arah sana dari balik kabut tipis berduyun-duyun sekelompok kambing bersama seorang gembalanya, yaitu Otsem, saudara laki-laki Dawid yang bertugas meggembalakan kambing.
Baru kali ini aku melihat wujud kambing. Memang mirip sih. Bedanya kami dianugerahi bulu tebal dari Sang Pencipta sedangkan kambing tidak. Kami berwarna putih sedangkan mereka berwarna gelap. Kata ibuku, kambing dan domba itu bersaudara. Jadi bahasanya pun sama dengan bahasa kami. Tetapi kata ibuku lagi, kambing seringkali tampak angkuh dan tidak bersahabat di hadapan kami oleh karena itu ditempatkan di kandang yang terpisah dari kami. Mereka lebih suka mencari rumput sendiri-sendiri ketika sampai di padang.
“Hai, makhluk bodoh!” sapa seekor kambing dengan nada mengejek kepada kami diikuti dengan sapaan yang sama oleh kawan-kawannya sesama kambing di belakangnya. “Sampai kapan kalian selalu menurut kehendak gembalamu? Lihatlah ia akan membawamu ke dalam hutan itu!”
“Ah, tidak mungkin,” sahut si Tanduk Emas, ayahku, membalas ejekan kambing-kambing itu yang sudah menghina domba-domba. “Kalian saja yang pergi ke sana sendirian kalau berani sebelum cambuk gembala kalian mengenai tubuh kalian, hahaha.”
Kambing-kambing itu membalasnya dengan olok-olok, “Bagi kami lebih baik kena cambuk daripada bulu-bulu kami dicukur oleh manusia, hahaha.”
“Jadi kalian kira kami kesakitan ketika bulu kami dicukur?” seekor domba lain menimpali dengan olokan. ”Kalian salah.”
Begitulah di sepanjang perjalanan terjadi saling olok antara domba dan kambing. Entah kenapa rombongan kambing itu berjalan di depan rombongan kami. Mungkin karena Dawid, gembala kami ingin bercakap-cakap dengan saudaranya, gembala para kambing itu. Tetapi kata ibuku, itu karena kambing lebih liar, tidak suka dipimpin oleh gembalanya sehingga gembalanya selalu menggiring mereka dari belakang, bukan seperti kami yang lebih suka berjalan di belakang gembala kami, menurut ke mana gembala kami pergi. Gembala mereka membawa sebuah tongkat cambuk yang selalu siap menerjang tubuh mereka jika jalan mereka menyimpang ke kiri atau ke kanan, karena mereka lebih sering menuruti kata hati mereka masing-masing daripada kehendak gembalanya.
Akhirnya kami melewati hutan yang mengerikan itu dan sampai ke sebuah padang rumput luas menghijau, tempat kami harus berbagi makanan dengan para kambing yang sombong itu.
Ibuku memperingatkanku untuk tidak jauh darinya dan juga rombongan kami dengan alasan banyak makhluk jahat di sekitar sini. Kami merumput bersama-sama, pada satu tempat dengan si Tanduk Lengkung, ayahku itu yang memimpin. Jika rumput di sebelah sini mulai habis, dipimpinnya kami untuk pidah ke sebelah sana secara bersama-sama, begitu seterusnya. Sementara itu Dawid sang gembala kami mengawasi kami dari jauh. Ia duduk sendirian di bawah sebuah pohon sambil jemarinya memetik-metik dawai sebuah benda yang kata ibuku itu namanya kecapi, menimbulkan irama yang merdu yang membuat kami betah berlama-lama merumput di sini. Sementara itu sang gembala kambing mengawasang kambing-kambingnya dari dekat menjaga kawanan kambingnya supaya tidak terpencar terlalu jauh.
Matahari sudah bersinar semakin terang dan kehangatannya meresap ke pori-pori kulit kami. Dawid menghampiri tempat kami merumput dan berkata, “Mari, domba-dombaku, ikutlah aku menuju sungai di sebelah sana! Ada air yang segar yang bisa menyejukkan kerongkongan kalian.” Kemudian kami pun mengikuti dia kemana pun ia berjalan.
Tibalah kami di sungai yang dijanjikan itu. Sebuah sungai yang bening dan alirannya tenang. Dawid juga tampak melegakan dahaganya dengan meminum air sungai itu. Kemudian datanglah para kambing bersama gembalanya memenuhi tepi sungai itu dengan tubuh-tubuh besar mereka.
Seekor kambing datang kepadaku dan berkata, “Kau anak baru ya? Ini pertama kali kau merumput kan? Bagaimana rasa rumput?”
Aku tidak menjawab sebab ibuku sudah berpesan kepadaku bahwa aku tidak boleh berbicara dengan para kambing karena mereka suka mengolok-olok. Mataku pun segera mencari ibuku yang ternyata berada di sebelah sana sedang bercakap-cakap dengan ayahku.
“Lihat bukit itu!” kata sang kambing. “Di balik bukit itu ada sebuah padang rumput yang sangat lezat, lebih lezat daripada rumput-rumput di sini. Aku dan saudara-saudaraku pernah diajak Otsem ke sana. Di sana juga ada mata air yang selalu memancarkan air menyegarkan, tanpa harus berjalan cukup jauh seperti sekarang ini.”
“Benarkah?”tanyaku heran. “Tetapi mengapa Dawid tidak membawa kami ke sana?”
“Kalau itu aku tak tahu. Mungkin ia cuma tak ingin kalian menikmati makanan yang lebih lezat sementara ia tidak bisa menikmatinya..,” jawab sang kambing.
“Mungkinkah itu?” kataku tertegun.
“Lebih baik kau tidak mempertanyakan hal itu kepada ibumu. Tetapi, jika aku menjadi kau, aku akan menuruti kata hatiku, menuruti kehendakku. Kalau aku ingin pergi ke sana, ya aku akan kesana tanpa harus berkata kepada yang lain.”
Aku memandang jauh ke arah gundukan bukit di depan sana. Harum semerbak hijau rerumputan tertiup angin sampai ke mari. Aku penasaran dengan apa yang ada di balik gundukan besar itu. Apakah benar seperti yang dikatakan kambing itu? Maka timbullah keinginanku untuk pergi ke balik bukit itu.
Kulihat ibuku masih bersama saudara-saudaranya mencari rumput di bibir sungai. Sementara Dawid sang gembala kami sedang bercakap-cakap dengan Otsem. Kemudian aku pikir ini adalah kesempatanku untuk pergi ke sana, membuktikan perkataan sang kambing. Perlahan aku menjauh dari kelompokku, semakin jauh dan semakin jauh aku mendaki bukit besar yang landai itu sampai pada puncaknya di mana pada domba sudah tidak jelas terlihat.
Dan benar. Sejauh mataku memandang adalah hamparan rumput hijau yang luas, dari ujung ke ujung, hanya sebuah hutan lebat yang membatasinya di sisi sebelah sana. Tidak ada seekorpun binatang ternak yang merumput di sana. Sebuah sungai mengalir dari mata air yang jernih di antara hijaunya rerumputan. Mungkin mata air itu adalah sumber dari sungai tempat kami minum di belakang sana, yang aliran sungainya mengitari bukit ini. Ini benar-benar hebat. Di sini aku bisa makan sampai puas dan kekenyangan hari ini, pikirku.
Aku turun menapaki sisi bukit itu yang ternyata lebih terjal daripada sisi yang lain. Dengan hati-hati aku menuruninya dan sudah cukup jauh aku berjalan, tapi tiba-tiba kaki kanan belakangku terperosok ke dalam sebuah celah tanah, hingga masuk semua. Dengan sekuat tenaga aku menariknya tetapi tidak berhasil sampai habis seluruh tenagaku. Aku pun meronta-ronta, menangis memanggil-manggil ibuku. Tetapi tiada yang mendengarnya. Aku terus menerus berseru, “Ibu! Ibu! Tolong aku! Dawid! Dawid! Tolong aku!”
Cukup lama aku berada di tempat yang asing itu. Sendiri, hanya ditemani rasa takut dan kuatir akan makhluk-makhluk jahat yang akan memakan diriku. Aku terus-menerus berseru-seru memanggil-manggil ibuku dan gembalaku berharap mereka menemukanku di sini. Aku sangat menyesal telah menuruti kata hatiku. Aku sangat menyesal sudah terpengaruh kata-kata kambing itu.
Langit semakin gelap dan matahari pun bergerak terbenam di antara awan-awan. Suaraku sudah habis, dan kerongkonganku sudah kering. Belum sempat aku mengecap sejuknya air mata air itu dan lezatnay rerumputan di tempat ini. Suara-suara aneh mulai terdengar dari jauh. Suara lolongan yang sepertinya makhluk-makhluk jahat muncul dari belantara itu, membuatku tercekam rasa takut.
“Tolong! Tolong aku! Siapapun juga tolong aku!”
Kulihat samar-samar sesosok besar datang menghampiriku. Sosok apakah itu? Apakah ia akan menolongku?
Ia bukan manusia dan tetapi kurang lebih setinggi tubuh Dawid. Berlari dengan keempat kakinya dari arah sebelah kiriku. “Siapakah kau? Kau akan menolongku atau tidak?” Remang-remang moncongnya terlihat panjang olehku. Ia menggeliat dan bersuara keras. Gigi-giginya yang besar diselimuti air liur diperlihatkannya di depanku. Ia pasti makhluk jahat. Ia pasti salah satu dari serigala, singa atau beruang yang akan memakanku.
“Kumohon, jangan memakanku!”
PLETAKKK
Tiba-tiba saja makhluk besar itu rebah. Rupanya ada sesuatu yang mengenai dahinya. Seorang manusia datang dari arah sebelah kananku, tampak dari jauh membawa obor di tangan kirinya.
“Dawid! Itukah kau?” seruku dengan suara yang sudah tidak jelas terdengar. Benar. Dawid telah datang menyelamatkanku dari serangan makhluk jahat itu. Segera ia menusuk-nusuk tubuh makhluk jahat yang sudah terkapar tidak berdaya itu dengan ujung tongkat gembalanya, meyakinkan apakah makhluk itu sudah benar-benar tidak sadarkan diri. Kemudian ia mengambil sebuah pisau belati dari balik pakaiannya, dicabik-cabiknya tubuh makhluk itu. Dirobeknya dada makhluk itu untuk dibuang jantungnya.
Setelah itu ia baru memalingkan wajahnya kepadaku. “Kau di sini rupanya, Dawid. Aku dan ibumu sangat menguatirkan keadaanmu,” katanya kepadaku sambil melepaskan kakiku dari jeratan celah tanah yang sudah membuatku gila hampir seharian ini. “Kau terlalu jauh berjalan. Lihat! Seekor beruang hampir saja memangsamu. Kau hampir saja mencelakakan dirimu sendiri. Untung saja aku cepat datang dan mengumban batu kepadanya.”
“Terimakasih, Dawid,” kataku. Kaki kanan belakangku ternyata berdarah. Perih sekali rasanya. Dengan pisau belatinya, Dawid menyobek ujung kain pada pakaiannya dan membalutkannya pada kakiku yang terluka itu. Beberapa saat kemudian datanglah beberapa orang manusia lain ke tempat kami dengan cahaya-cahaya obor di tangan mereka.
“Sudah ketemu?” tanya seorang dari mereka.
“Ya, hanya saja, kakinya terluka. Ia hampir saja dimangsa beruang tadi.”
“Baiklah. Mari kita segera pulang sebelum matahari benar-benar terbenam. Ayah kita pasti senang mendengar kabar ini,” kata seorang lagi. Ternyata mereka adalah saudara-saudara lelaki Dawid, anak-anak Tuan Yishay, yang juga datang untuk membantu mencariku. Kemudian aku digendong oleh Dawid pada lehernya. Dipegangnya erat-erat keempat kakiku dengan kedua tangannya, dua di tangan kanannya dan dua lagi di tangan kirinya.
Di sepanjang perjalanan keempat saudara Dawid bercakap-cakap mengomentari peristiwa hilangnya diriku. Dan aku mendengar bahwa mereka terkesan menyalahkan Dawid, saudara termuda mereka karena kecerobohannya lalai dalam mengawasi domba-domba. Dawid hanya diam saja mendengar penghakiman atas dirinya dari saudara-suadaranya itu. “Tidak. Itu bukan kesalahan Dawid. Itu kesalahanku.” Kataku kepada mereka. “Itu karena aku menuruti kehendakku, maka aku pergi ke sana sendirian.”
Dan kami pun sampai rumah tepat saat bulan dan bintang-bintang menampakka dirinya di langit malam. Tuan Yishay membantu Dawid merawat kakiku, mengobati lukaku dengan mencurahkan anggur ke atas lukanya supaya tidak semakin parah. “Maafkan, anakmu ini, ayah, telah lalai menjaganya,” kata Dawid menyesal. Tuan Yishay tidak berkata sesuatu untuk menanggapi permintaan maaf dari anaknya itu. Beliau sibuk mengganti kain pembalut luka di kakiku.
“Kumohon, Tuan Yishay, janganlah kau memarahi anakmu itu. Akulah yang salah. Akulah yang nakal,” ujarku berkai-kali membela Dawid. Kuharap beliau mengerti kata-kataku. Lama sekali mereka terdiam tanpa suara, hanya suarakulah yang memenuhi ruangan rumah itu yang penuh kehangatan.
“Kuharap ia benar-benar pulih sebelum bulan Nisan,” Akhirnya Tuan Yishay pun membuka mulutnya. “Bukankah ia genap berusia setahun pada bulan Adar besok? Kuharap lukanya tidak membekas dan jalannya pun tidak menjadi pincang sehingga ia layak dipersembahkan kepada Tuhan pada Hari Raya nanti.”
Maka Tuan Yishay mengadakan pesta bagi seisi rumahnya dan bersuka cita bagaikan menemukan kembali sesuatu yang hilang. Dan aku pun bersuka cita karena berjumpa lagi dengan ibuku di dalam kandang.
“Ibu, aku rindu padamu,” kataku mendekap ibuku.
____________________________________________________________
Cerpen ini diikutkan dalam Lomba Cerita Bulanan Kastil Fantasi (Maret'12) (http://www.goodreads.com/topic/show/834583-lomba-cerbul-kasfan-mar-12#comment_48363146)
Read more...
Subscribe to:
Comments (Atom)