DOMBA DAN GEMBALA

KREEEEKKKK

Suara itu mengejutkan kami sehingga kami semua terbangun. Ada seorang manusia yang membuka pintu dan menyapa, “Selamat pagi, domba-dombaku! Apa kabar kalian? Nyenyakkah tidur kalian semalam?” Suaranya sangat akrab di telinga kami, bahkan di telingaku yang baru saja lahir beberapa hari yang lalu. Ya. Itu adalah suara Dawid, gembala kami. Meskipun hari masih gelap, dan suasana di kandang ini remang-remang tetapi kami sangat mengenali suaranya.

Aku pun ikut terbangun. Ibuku berdiri dan aku pun ikut berdiri. Naluri kami mengatakan bahwa kami semua harus saling merapat dan berbaris menghadap pintu karena Dawid pasti akan membawa kami ke tempat yang baru lagi hari ini, sebuah tempat yang pasti penuh dengan rumput hijau yang lezat. “Hayo? Ada yang sakitkah hari ini?” kata Dawid dengan penuh senyum kepada kami sambil memandang kami satu per satu.

Kata ibuku, Dawid adalah manusia yang baik bagi kami. Tak seperti kakak-kakaknya yang dahulu pernah menggembalakan kami, Dawid lebih sering bercakap-cakap dengan kami, laksana dengan kawan manusianya. Sudah enam tahun ibuku mengenalnya, dan ia sangat mengenal masing-masing dari kami.

“Awan Menari!” Itu nama ibuku disebutnya. “Di mana anakmu?”

“Di sini. Ini dia,” jawab ibuku. Ia sangat mengerti kata-kata ibuku meskipun ibuku tidak berbahasa manusia. Dan begitu menemukan diriku yang sembunyi di balik tubuh ibuku di antara para domba yang mengerumuniku, ia tampak gembira, mengangkatku ke atas dan mengelus-elus tubuhku dengan tangannya.

“Tolong, hentikan, kau membuatku geli,” begitulah aku berseru dan kuharap ia mengerti juga maksudku.

“Gigimu sudah tumbuh jadi kau sekarang boleh keluar, ya, merumput bersama saudara-saudaramu yang lainnya...,” ujarnya kepadaku sambil menyentuhkan ujung hidungnya ke ujung hidungku. “Dan tentu saja bersama ibumu juga.”

“Asyik! Akhirnya aku merumput juga,” seruku kegirangan. Ya, memang selama beberapa hari setelah kelahiranku, aku selalu menghabiskan waktuku bersama ibu di kandang, disusui oleh ibuku atau bermain bersama anak-anak domba yang lain yang lebih muda beberapa hari daripada aku. Sementara itu ibuku dan ibu-ibu domba lainnya memperoleh makanannya dari rumput-rumputan yang disediakan Tuan Yishay, yang merupakan ayah dari Dawid.

“Oh, ya. Aku belum memberimu nama,” sahutnya sambil menggendongku ke dalam dekapan tangannya. “Bagaimana kalau namamu Singa Putih?” Ia pun berpikir lagi. “Oh, tidak, tidak, tidak. Terlalu berlebihan tampaknya... Emmm, ah ya, belum ada dari domba-dombaku yang diberi nama seperti namaku. Baiklah. Mulai sekarang kau kupanggil Dawid.” Begitu ia menurunkan aku, aku segera berlari kepada ibuku. “Ayo, domba-dombaku. Aku akan membawamu ke padang yang berumput hijau di luar sana,” katanya sambil membelai beberapa ekor domba.

Kemudian pintu kandang dibuka lebih lebar lagi dan masing-masing dari kami keluar melalui pintu itu dua-dua secara berdesak-desakan mengikuti Dawid yang terlebih dahulu melangkah keluar..

“Ibu! Ibu! Di mana kau, ibu!” jeritku memanggil-manggil ibuku. Karena berdesak-desakan aku jadi terpisah dengan ibuku.

“Anakku! Dawid anakku!” Ibuku berseru-seru dari luar menunggu diriku keluar. Begitu ia menemukanku, aku merasa bersuka cita

“Ibu! Aku takut, ibu! Aku takut kehilanganmu.”

Hari masih belum terang betul sewaktu kami berhambur keluar. Embun basah masih terasa di rerumputan yang kami injak, yang tumbuh jarang di tengah jalan. Kabut dingin masih tampak membayang-bayangi tujuan kami di depan sana.

“Hari ini kita mau dibawa ke mana ya?” tanya seekor domba kepada yang lain.

“Yang pasti bukan seperti yang kemarin, karena di sana rumputnya sudah hampir habis karena dimakan lembu-lembu tambun itu,” jawab si Tanduk Emas, ayahku, salah satu jantan dominan di kelompok kami.

“Akankah kita melewati hutan di depan sana?”

“Aku tak tahu, tetapi sepertinya benar. Semoga saja tidak ada serigala atau beruang yang menakut-nakuti kita.”

Begitulah aku mendengar saudara-saudaraku kaum domba bercakap-cakap selama perjalanan. Aku melihat di depan sana Dawid, gembala kami yang tampak gagah dengan tongkat kayu berkait di tangan kanannya serta membawa sebuah buntalan pada tangan kirinya yang aku tak tahu isinya apa, memimpin perjalanan kami. Ujung pakaiannya yang dari kain itu tampak melambai-lambai diterpa angin pagi yang sejuk saat ia berjalan. Aku tak tahu apakah ia juga mendengar dan mengerti percakapan domba-dombanya. Tetapi seolah menjawab pertanyaan kami, ia tiba-tiba berseru, “Tenang, kita akan melewati tepi hutan itu dengan selamat. Tak ada serigala ataupun beruang yang berani kepadaku.”

“Apa itu serigala dan beruang, ibu?” tanyaku kepada ibuku yang sedari tadi berjalan di sampingku.

“Serigala dan beruang itu makhluk-makhluk jahat. Mereka sering mengganggu kita, menakut-nakuti kita, menyerang kita, mencabik-cabik kita dengan gigi dan kuku-kukunya yang tajam serta memakan kita.”

“Apa? Mereka memakan kita?” Aku mempercepat jalanku, berusaha menyamakan kecepatan jalan ibuku supaya tidak ketinggalan jauh karena aku takut. “Seperti kita memakan rumput?”

“Ya. Tapi kau tidak perlu takut atau kuatir, anakku. Gembala kita ini adalah manusia yang kuat. Sebelum aku melahirkanmu, ia pernah bergulat melawan singa tanpa rasa takut demi menyelamatkanku yang hampir saja diterkam oleh singa itu ketika aku terpencar dari rombongan. Aku menyaksikannya dengan mataku sendiri bagaimana ia berusaha menakut-nakuti sang singa dengan tongkatnya. Dan aku masih ingat bagaimana ia mencoba mempertahankan dirinya saat sang singa berbalik melawannya: menusukkan tongkat kayunya yang runcing itu ke kerongkongan singa itu dan membuat singa itu takluk di hadapannya.”

“Oh.. Berarti singa itu sama seperti serigala dan beruang, ya bu? Sama-sama makhluk yang jahat dan suka memakan kita?”

“Ya. Seperti itulah.”

Kami hampir sampai tepi hutan itu, yang tampak mengerikan bagi kami, tempat tinggal makhluk-makhluk jahat yang sewaktu-waktu dapat menyerang kami. Tepat di pertigaan jalan Dawid menghentikan langkahnya.

“Domba-dombaku! Berhenti!” seru Dawid, gembala kami. Kami mengerti perintahnya dan menghentikan langkah kami. Dawid segera bergerak ke belakang. Matanya melihat jauh ke arah jalan yang sebelah sana seperti sedang menunggu sesuatu.

“Apa? Jadi di tempat ini kita akan merumput?” terdengar gerutu beberapa ekor domba.

“Apakah makhluk-makhluk jahat itu sedang mengintai kita sekarang?” kata yang lain ketakutan.

“Sebaiknya kita terus saja daripada mati konyol di sini,” sahut domba jantan perkasa yang merupakan ayahku, satu-satunya pejantan dominan di kelompok ini.

“Jangan! Lihat! Rupanya ia sedang menanti Otsem,” seru ibuku. Dan benar, datang dari arah sana dari balik kabut tipis berduyun-duyun sekelompok kambing bersama seorang gembalanya, yaitu Otsem, saudara laki-laki Dawid yang bertugas meggembalakan kambing.

Baru kali ini aku melihat wujud kambing. Memang mirip sih. Bedanya kami dianugerahi bulu tebal dari Sang Pencipta sedangkan kambing tidak. Kami berwarna putih sedangkan mereka berwarna gelap. Kata ibuku, kambing dan domba itu bersaudara. Jadi bahasanya pun sama dengan bahasa kami. Tetapi kata ibuku lagi, kambing seringkali tampak angkuh dan tidak bersahabat di hadapan kami oleh karena itu ditempatkan di kandang yang terpisah dari kami. Mereka lebih suka mencari rumput sendiri-sendiri ketika sampai di padang.

“Hai, makhluk bodoh!” sapa seekor kambing dengan nada mengejek kepada kami diikuti dengan sapaan yang sama oleh kawan-kawannya sesama kambing di belakangnya. “Sampai kapan kalian selalu menurut kehendak gembalamu? Lihatlah ia akan membawamu ke dalam hutan itu!”

“Ah, tidak mungkin,” sahut si Tanduk Emas, ayahku, membalas ejekan kambing-kambing itu yang sudah menghina domba-domba. “Kalian saja yang pergi ke sana sendirian kalau berani sebelum cambuk gembala kalian mengenai tubuh kalian, hahaha.”

Kambing-kambing itu membalasnya dengan olok-olok, “Bagi kami lebih baik kena cambuk daripada bulu-bulu kami dicukur oleh manusia, hahaha.”

“Jadi kalian kira kami kesakitan ketika bulu kami dicukur?” seekor domba lain menimpali dengan olokan. ”Kalian salah.”

Begitulah di sepanjang perjalanan terjadi saling olok antara domba dan kambing. Entah kenapa rombongan kambing itu berjalan di depan rombongan kami. Mungkin karena Dawid, gembala kami ingin bercakap-cakap dengan saudaranya, gembala para kambing itu. Tetapi kata ibuku, itu karena kambing lebih liar, tidak suka dipimpin oleh gembalanya sehingga gembalanya selalu menggiring mereka dari belakang, bukan seperti kami yang lebih suka berjalan di belakang gembala kami, menurut ke mana gembala kami pergi. Gembala mereka membawa sebuah tongkat cambuk yang selalu siap menerjang tubuh mereka jika jalan mereka menyimpang ke kiri atau ke kanan, karena mereka lebih sering menuruti kata hati mereka masing-masing daripada kehendak gembalanya.

Akhirnya kami melewati hutan yang mengerikan itu dan sampai ke sebuah padang rumput luas menghijau, tempat kami harus berbagi makanan dengan para kambing yang sombong itu.

Ibuku memperingatkanku untuk tidak jauh darinya dan juga rombongan kami dengan alasan banyak makhluk jahat di sekitar sini. Kami merumput bersama-sama, pada satu tempat dengan si Tanduk Lengkung, ayahku itu yang memimpin. Jika rumput di sebelah sini mulai habis, dipimpinnya kami untuk pidah ke sebelah sana secara bersama-sama, begitu seterusnya. Sementara itu Dawid sang gembala kami mengawasi kami dari jauh. Ia duduk sendirian di bawah sebuah pohon sambil jemarinya memetik-metik dawai sebuah benda yang kata ibuku itu namanya kecapi, menimbulkan irama yang merdu yang membuat kami betah berlama-lama merumput di sini. Sementara itu sang gembala kambing mengawasang kambing-kambingnya dari dekat menjaga kawanan kambingnya supaya tidak terpencar terlalu jauh.

Matahari sudah bersinar semakin terang dan kehangatannya meresap ke pori-pori kulit kami. Dawid menghampiri tempat kami merumput dan berkata, “Mari, domba-dombaku, ikutlah aku menuju sungai di sebelah sana! Ada air yang segar yang bisa menyejukkan kerongkongan kalian.” Kemudian kami pun mengikuti dia kemana pun ia berjalan.

Tibalah kami di sungai yang dijanjikan itu. Sebuah sungai yang bening dan alirannya tenang. Dawid juga tampak melegakan dahaganya dengan meminum air sungai itu. Kemudian datanglah para kambing bersama gembalanya memenuhi tepi sungai itu dengan tubuh-tubuh besar mereka.

Seekor kambing datang kepadaku dan berkata, “Kau anak baru ya? Ini pertama kali kau merumput kan? Bagaimana rasa rumput?”

Aku tidak menjawab sebab ibuku sudah berpesan kepadaku bahwa aku tidak boleh berbicara dengan para kambing karena mereka suka mengolok-olok. Mataku pun segera mencari ibuku yang ternyata berada di sebelah sana sedang bercakap-cakap dengan ayahku.

“Lihat bukit itu!” kata sang kambing. “Di balik bukit itu ada sebuah padang rumput yang sangat lezat, lebih lezat daripada rumput-rumput di sini. Aku dan saudara-saudaraku pernah diajak Otsem ke sana. Di sana juga ada mata air yang selalu memancarkan air menyegarkan, tanpa harus berjalan cukup jauh seperti sekarang ini.”

“Benarkah?”tanyaku heran. “Tetapi mengapa Dawid tidak membawa kami ke sana?”

“Kalau itu aku tak tahu. Mungkin ia cuma tak ingin kalian menikmati makanan yang lebih lezat sementara ia tidak bisa menikmatinya..,” jawab sang kambing.

“Mungkinkah itu?” kataku tertegun.

“Lebih baik kau tidak mempertanyakan hal itu kepada ibumu. Tetapi, jika aku menjadi kau, aku akan menuruti kata hatiku, menuruti kehendakku. Kalau aku ingin pergi ke sana, ya aku akan kesana tanpa harus berkata kepada yang lain.”

Aku memandang jauh ke arah gundukan bukit di depan sana. Harum semerbak hijau rerumputan tertiup angin sampai ke mari. Aku penasaran dengan apa yang ada di balik gundukan besar itu. Apakah benar seperti yang dikatakan kambing itu? Maka timbullah keinginanku untuk pergi ke balik bukit itu.

Kulihat ibuku masih bersama saudara-saudaranya mencari rumput di bibir sungai. Sementara Dawid sang gembala kami sedang bercakap-cakap dengan Otsem. Kemudian aku pikir ini adalah kesempatanku untuk pergi ke sana, membuktikan perkataan sang kambing. Perlahan aku menjauh dari kelompokku, semakin jauh dan semakin jauh aku mendaki bukit besar yang landai itu sampai pada puncaknya di mana pada domba sudah tidak jelas terlihat.

Dan benar. Sejauh mataku memandang adalah hamparan rumput hijau yang luas, dari ujung ke ujung, hanya sebuah hutan lebat yang membatasinya di sisi sebelah sana. Tidak ada seekorpun binatang ternak yang merumput di sana. Sebuah sungai mengalir dari mata air yang jernih di antara hijaunya rerumputan. Mungkin mata air itu adalah sumber dari sungai tempat kami minum di belakang sana, yang aliran sungainya mengitari bukit ini. Ini benar-benar hebat. Di sini aku bisa makan sampai puas dan kekenyangan hari ini, pikirku.

Aku turun menapaki sisi bukit itu yang ternyata lebih terjal daripada sisi yang lain. Dengan hati-hati aku menuruninya dan sudah cukup jauh aku berjalan, tapi tiba-tiba kaki kanan belakangku terperosok ke dalam sebuah celah tanah, hingga masuk semua. Dengan sekuat tenaga aku menariknya tetapi tidak berhasil sampai habis seluruh tenagaku. Aku pun meronta-ronta, menangis memanggil-manggil ibuku. Tetapi tiada yang mendengarnya. Aku terus menerus berseru, “Ibu! Ibu! Tolong aku! Dawid! Dawid! Tolong aku!”

Cukup lama aku berada di tempat yang asing itu. Sendiri, hanya ditemani rasa takut dan kuatir akan makhluk-makhluk jahat yang akan memakan diriku. Aku terus-menerus berseru-seru memanggil-manggil ibuku dan gembalaku berharap mereka menemukanku di sini. Aku sangat menyesal telah menuruti kata hatiku. Aku sangat menyesal sudah terpengaruh kata-kata kambing itu.

Langit semakin gelap dan matahari pun bergerak terbenam di antara awan-awan. Suaraku sudah habis, dan kerongkonganku sudah kering. Belum sempat aku mengecap sejuknya air mata air itu dan lezatnay rerumputan di tempat ini. Suara-suara aneh mulai terdengar dari jauh. Suara lolongan yang sepertinya makhluk-makhluk jahat muncul dari belantara itu, membuatku tercekam rasa takut.

“Tolong! Tolong aku! Siapapun juga tolong aku!”

Kulihat samar-samar sesosok besar datang menghampiriku. Sosok apakah itu? Apakah ia akan menolongku?

Ia bukan manusia dan tetapi kurang lebih setinggi tubuh Dawid. Berlari dengan keempat kakinya dari arah sebelah kiriku. “Siapakah kau? Kau akan menolongku atau tidak?” Remang-remang moncongnya terlihat panjang olehku. Ia menggeliat dan bersuara keras. Gigi-giginya yang besar diselimuti air liur diperlihatkannya di depanku. Ia pasti makhluk jahat. Ia pasti salah satu dari serigala, singa atau beruang yang akan memakanku.

“Kumohon, jangan memakanku!”

PLETAKKK

Tiba-tiba saja makhluk besar itu rebah. Rupanya ada sesuatu yang mengenai dahinya. Seorang manusia datang dari arah sebelah kananku, tampak dari jauh membawa obor di tangan kirinya.

“Dawid! Itukah kau?” seruku dengan suara yang sudah tidak jelas terdengar. Benar. Dawid telah datang menyelamatkanku dari serangan makhluk jahat itu. Segera ia menusuk-nusuk tubuh makhluk jahat yang sudah terkapar tidak berdaya itu dengan ujung tongkat gembalanya, meyakinkan apakah makhluk itu sudah benar-benar tidak sadarkan diri. Kemudian ia mengambil sebuah pisau belati dari balik pakaiannya, dicabik-cabiknya tubuh makhluk itu. Dirobeknya dada makhluk itu untuk dibuang jantungnya.

Setelah itu ia baru memalingkan wajahnya kepadaku. “Kau di sini rupanya, Dawid. Aku dan ibumu sangat menguatirkan keadaanmu,” katanya kepadaku sambil melepaskan kakiku dari jeratan celah tanah yang sudah membuatku gila hampir seharian ini. “Kau terlalu jauh berjalan. Lihat! Seekor beruang hampir saja memangsamu. Kau hampir saja mencelakakan dirimu sendiri. Untung saja aku cepat datang dan mengumban batu kepadanya.”

“Terimakasih, Dawid,” kataku. Kaki kanan belakangku ternyata berdarah. Perih sekali rasanya. Dengan pisau belatinya, Dawid menyobek ujung kain pada pakaiannya dan membalutkannya pada kakiku yang terluka itu. Beberapa saat kemudian datanglah beberapa orang manusia lain ke tempat kami dengan cahaya-cahaya obor di tangan mereka.

“Sudah ketemu?” tanya seorang dari mereka.

“Ya, hanya saja, kakinya terluka. Ia hampir saja dimangsa beruang tadi.”

“Baiklah. Mari kita segera pulang sebelum matahari benar-benar terbenam. Ayah kita pasti senang mendengar kabar ini,” kata seorang lagi. Ternyata mereka adalah saudara-saudara lelaki Dawid, anak-anak Tuan Yishay, yang juga datang untuk membantu mencariku. Kemudian aku digendong oleh Dawid pada lehernya. Dipegangnya erat-erat keempat kakiku dengan kedua tangannya, dua di tangan kanannya dan dua lagi di tangan kirinya.

Di sepanjang perjalanan keempat saudara Dawid bercakap-cakap mengomentari peristiwa hilangnya diriku. Dan aku mendengar bahwa mereka terkesan menyalahkan Dawid, saudara termuda mereka karena kecerobohannya lalai dalam mengawasi domba-domba. Dawid hanya diam saja mendengar penghakiman atas dirinya dari saudara-suadaranya itu. “Tidak. Itu bukan kesalahan Dawid. Itu kesalahanku.” Kataku kepada mereka. “Itu karena aku menuruti kehendakku, maka aku pergi ke sana sendirian.”

Dan kami pun sampai rumah tepat saat bulan dan bintang-bintang menampakka dirinya di langit malam. Tuan Yishay membantu Dawid merawat kakiku, mengobati lukaku dengan mencurahkan anggur ke atas lukanya supaya tidak semakin parah. “Maafkan, anakmu ini, ayah, telah lalai menjaganya,” kata Dawid menyesal. Tuan Yishay tidak berkata sesuatu untuk menanggapi permintaan maaf dari anaknya itu. Beliau sibuk mengganti kain pembalut luka di kakiku.

“Kumohon, Tuan Yishay, janganlah kau memarahi anakmu itu. Akulah yang salah. Akulah yang nakal,” ujarku berkai-kali membela Dawid. Kuharap beliau mengerti kata-kataku. Lama sekali mereka terdiam tanpa suara, hanya suarakulah yang memenuhi ruangan rumah itu yang penuh kehangatan.

“Kuharap ia benar-benar pulih sebelum bulan Nisan,” Akhirnya Tuan Yishay pun membuka mulutnya. “Bukankah ia genap berusia setahun pada bulan Adar besok? Kuharap lukanya tidak membekas dan jalannya pun tidak menjadi pincang sehingga ia layak dipersembahkan kepada Tuhan pada Hari Raya nanti.”

Maka Tuan Yishay mengadakan pesta bagi seisi rumahnya dan bersuka cita bagaikan menemukan kembali sesuatu yang hilang. Dan aku pun bersuka cita karena berjumpa lagi dengan ibuku di dalam kandang.

“Ibu, aku rindu padamu,” kataku mendekap ibuku.

____________________________________________________________
Cerpen ini diikutkan dalam Lomba Cerita Bulanan Kastil Fantasi  (Maret'12) (http://www.goodreads.com/topic/show/834583-lomba-cerbul-kasfan-mar-12#comment_48363146)

No comments:

Post a Comment