(KISAH LAIN) BAWANG MERAH DAN BAWANG PUTIH


“Apakah tidak terlalu berbahaya, Ahmar?”

“Sepertinya tidak. Lihat, di tempat ini hanya kita yang tersisa. Monster raksasa itu sudah membantai keluargamu dan keluargaku.”

“Tapi bagaimana cara kita keluar dari tempat ini? Monster itu sepertinya masih berada di luar sana. Dia bisa saja menguliti kita dan mencincang kita dengan alat penyiksa itu jika kita ketahuan melarikan diri seperti yang dilakukannya kepada saudara-saudara kita.”

“Kita sudah berhasil keluar dari kurungan itu, Abyad, sekarang tinggal lari sekencang-kencangnya keluar dari sarang monster ini, dan menemukan tanah yang baik untuk kita bersembunyi di dalamnya. Mari! Aku akan melindungimu.”

Maka Abyad yang bertubuh lebih gemuk daripada Ahmar itu pun bertambah rasa percaya dirinya. Ahmar berlari di belakangnya mencari jalan keluar dari sarang monster raksasa itu.

“Lihat! Itu ada cahaya! Pasti cahaya matahari! Lama aku tidak melihatnya..,”

“AWAS, ABYAD!” seru Ahmar. “MONSTER!”

Tiba-tiba bumi tempat mereka berpijak bergoncang hebat. Monster raksasa itu datang dengan langkah berdebam keras dan bergumam dengan bahasa lain yang tidak mereka kenal. Suara gumamannya pun terdengar bergemuruh memekakkan telinga. Sang monster pun akhirnya menangkap Abyad dalam genggaman tangan besarnya.

Ahmar segera bersembunyi di balik sebuah benda yang terbuat dari kayu. Hatinya semakin pilu mendengar jeritan minta tolong sahabatnya itu. “AHMAR! TOLONG AKU!”

Tanpa pikir panjang ia menghambur keluar dengan maksud menantang monster raksasa itu. “Hai, monster jahat! Ini aku! Tangkaplah aku dan siksalah aku, jangan dia!” Sayang, moster itu tidak mendengar suaranya bahkan sama sekali tidak memerhatikannya.

***

Abyad kembali terkurung, tetapi di tempat yang berbeda, lebih dingin dan lebih gelap daripada tempat ia dikurung sebelumnya bersama Ahmar dan keluarganya.

“Kenapa kamu menangis? Kamu tidak sendiri, ada kami di sini,” kata sosok lain di tempat itu.

“Ya, sadarilah bahwa kita memang ditakdirkan untuk dipotong-potong oleh makhluk monster itu,” sahut yang lain. “Kamu hanyalah sebuah bawang putih dan kami hanyalah sekelompok cabai merah dan cabai rawit yang tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu waktunya dipotong-potong oleh monster itu.”

“Sekali kita terkurung di dalam plastik ini dan di lemari pendingin ini, masing-masing dari kita hanya bisa berharap monster itu tidak segera mengambil salah satu dari kita.”

“Perkenalkan kami keluarga cabai merah tinggal empat saja. Aku Adom Alef yang tertua, dan ini kerabat jauh kami, keluarga cabai rawit hanya tinggal berdua saja.. Yarok Alef dan Yarok Bet.”

“Selamat datang, walaupun kamu berbeda tetapi kamu kami anggap sebagai bagian dari keluarga ini,” kata Yarok Alef.

“Semoga kamu betah tinggal bersama kami dan tidak diambil oleh monster jahat itu,” sambug Yarok Bet.

Abyad masih gamang. Sudah lama ia kehilangan saudara-saudaranya sesama bawang putih yang satu per satu diambil oleh monster itu. Ia juga baru saja terpisah dari Ahmar, sang bawang merah yang sudah lama dikenalnya. Dan kini ia disambut oleh sebuah keluarga yang tampak menyerah menghadapi keadaan. Sungguh berbeda daripada sewaktu ia dan keluarganya berada bersama-sama keluarga bawang merah yang selalu berapi-api, selalu berusaha untuk membebaskan diri sekalipun pada akhirnya satu per satu berakhir di tangan monster itu. Dalam hati ia hanya bisa berharap, “Semoga kamu baik-baik saja, Ahmar.”

***

Sementara itu Ahmar kelelahan. Ia gagal menarik perhatian monster raksasa itu. Tetapi ia tidak putus asa. Dikerahkannya otak kecilnya untuk berpikir bagaimana caranya menyelamatkan Abyad. Suasana di tempat itu menjadi gelap. Mungkin  matahari sudah terbenam, aku harus segera menngeluarkannya dari tempat itu, pikirnya menghadap sebuah benda raksasa, tempat sang raksasa mengurung sahabatnya.

Kemudian datanglah sosok monster raksasa lain  dengan langkah berdebam membawa setumpuk tomat di sebuah tempat pipih. Tomat-tomat berwarna merah ranum bernyanyi meratapi nasibnya dengan nada sendu menyayat hati.

“Kami tidak akan takut
Meskipun kami dibelah dan direbus dalam air panas
Dan kami tidak akan takut
Meskipun hidup kami berakhir sebagai lumatan

Tetapi...
Apakah kesalahan kami sehingga kami harus mengalaminya?
Apakah kesalahan kami sehingga kami takluk di depan mereka?”

Monster raksasa itu tiba-tiba menghentikan langkahnya, melihat ke bawah ke arah Ahmar yang setengah mati menahan rasa takutnya. Dengan sekuat tenaga ia menyemburkan nafas apinya, yang merupakan senjata alami keluarga bangsa bawang merah, kepada sang monster, hingga raksasa itu mengerang kesakitan karena matanya perih terkena nafas api itu.

Sang monster meletakkan tomat-tomat di atas kotak putih raksasa tempat Abyad berada – yaitu lemari pendingin – sebelum  akhirnya pergi berlalu dari situ. Ahmar berseru-seru dari bawah, memanggil para tomat yang kurang lebih berjumlah sepuluh buah itu. “Hai! Jikalau kalian tidak takut mati, untuk apa kalian meratapi nasib seperti itu?”

Tomat-tomat itu pun menjawab dengan nyanyian, “Siapakah gerangan yang berkata-kata itu?”

“Ini aku, sebuah bawang merah, di bawah sini!”

Para tomat pun terlihat bergerak ke tepi dan mendongak ke bawah. “Hai, kamu bawang merah, apa yang kamu lakukan di bawah sana? Apa kamu terlepas dari kelompokmu? Atau para raksasa itu telah membuangmu?”

“Bukan. Aku melarikan diri dari mereka. Aku ingin hidup bebas. Maukah kalian hidup bebas sepertiku? Kita bisa mencari tanah yang baik untuk tempat kita berlindung, mengistirahatkan tubuh kita dan tumbuh sebagai tanaman yang hidup abadi.”

“Wow! Kalau itu sih kami mau, tapi bagaimana caranya?” tanya mereka kembali.

“Bagaimana kalau kalian membantuku dulu untuk....”

Percakapan mereka terputus, dua sosok monster raksasa datang ke ruangan itu dengan langkah yang menggoncang-goncangkankan bumi. Salah satu monster membuka lemari pendingin dan mengeluarkan sebuah bungkusan  transparan berisi beberapa cabai dan...

“ABYAAD! ABYAAD! INI AKU!” teriak Ahmar begitu ia menyadari sahabatnya berada si sana.

Dari kantong plastik transparan itu pun Abyad membuka matanya melihat wujud kecil sang bawang merah sahabatnya itu jauh di bawah sana semakin lama wujudnya semakin mengecil.

“AHMAR!” seru Abyad gembira.

“Oh, itukah sahabatmu, si bawang merah itu?” tanya Adom Alef. Abyad mengangguk. Tetapi kegembiraannya itu hanya sementara karena pasti monster-monster ini pasti akan mengakhiri hidupnya bersama para cabai.

Gawat! Mereka pasti akan membunuh Abyad

Ahmar segera berlari mencoba sekali lagi mengalihkan perhatian kepada sang monster. Tetapi sayang sekali, sang monster malah menangkapnya dan memasukkannya ke dalam sebuah wadah kemudian menggelontorkan air ke dalam wadah itu hingga Ahmar tak sadarkan diri.

AHMAR!” Terdengar suara Abyad tak jauh dari tempat Ahmar terapung tak berdaya di atas air. Di depan mata Abyad, sang monster dengan tanpa ampun menguliti Ahmar dan mencincang tubuhnya di dalam wadah berisi air itu. Perasaannya sangat terpukul dan tak ada hal yang dapat ia lakukan selain menangisi kepergian sahabatnya itu.

“Mari kita balaskan kematiannya kepada monster-monster itu!” sahut Adom Alef kepada para cabai.

Sementara itu para tomat pun telah menyaksikan semuanya, kebiadaban para monster menghabisi nyawa sebuah bawang merah yang baru saja mereka kenal.

“Mari saudara-saudaraku, kita habisi para monster biadab itu demi kebebasan kita!” kata sebuah tomat kepada kelompoknya.

Kemudian para tomat meluncur ke bawah melalui rak piring di sebelah lemari pendingin itu, memecahkan sebagian besar benda pecah belah yang dilewatinya. Kedua monster itu menjadi bingung melihat tomat-tomat bergelindingan jatuh ke bawah menghancurkan piring-piringnya. Para cabai pun tak tinggal diam. Mereka berhasil merobek plastik. Menyerang para monster yang sedang bingung itu dengan menumpahkan botol kecil berisi bubuk merica ke atas lantai sehingga para monster itu menjadi semakin kewalahan karena matanya terkena serbuk merica, berusaha mencari air untuk menghilangkan perihnya.

Setelah itu dengan membabi buta, para monster berlomba-lomba menangkap para tomat dan cabai. Dan akhirnya terkumpullah mereka semua tanpa terkecuali dalam sebuah wadah yang diisi air, bersama potongan-potongan tubuh sang bawang merah. Salah satu monster mengambil alat pelumat yang sangat ditakuti oleh para tomat.

“Tamatlah riwayat kita di alat itu,” jerit para tomat.

Tanpa basa-basi para monster itu memasukkan semuanya ke dalam alat pelumat itu. Dan di depan mata Abyad, sang bawang putih yang sedari tadi meratapi kematian sahabatnya, tubuh para tomat dan para cabai hancur tanpa bentuk di dalam alat itu.

“Selamat tinggal semuanya! Mungkin sebaiknya aku menunggu kematianku saja di tangan mereka.”

Tetapi para monster itu sama sekali tidak menyakiti Abyad. Mereka menyimpan kembali Abyad di sebuah tempat tertutup, di mana Abyad sendirian meratapi nasibnya.

===================================================

Cerpen ini diikutsertakan dalam Lomba Cerita Fantasi Bulanan Kastil Fantasi Agustus 2012
(http://www.goodreads.com/topic/show/994759-lomba-cerbul-kasfan-agustus-12?type=topic#comment_57714393)


Read more...