Ferdanoranica – “Rumah Para Dewa” – begitulah bangsa Gomerr menyebutnya. Adalah sebuah kastil tua dengan menara-menara yang tinggi, yang konon berjumlah tiga belas, sesuai jumlah dewa yang disembah oleh bangsa Gomerr, yang terletak di kaki gunung Andecabora, disebelah utara Gomeria. Menurut cerita bangsa Tarbann, sebelum Tarbania ditaklukkan oleh bangsa Savakk, kastil itu berada di pincak bukit Hastimirr, dan sempat “berpindah” secara misterius ke beberapa tempat sampai akhirnya menampakkan diri di kaki gunung Andecabora yang terletak di wilayah kerajaan Gomeria.
Jika bangsa Gomerr menganggap kastil itu sebagai rumah para dewa karena kehadirannya yang misterius itu, bangsa Tarbann memercayai bahwa kastil itu adalah ciptaan Kierten, dewa tertinggi bangsa Tarbann, yang dengan sengaja mengundang “orang-orang terpilih” ke dalam kastilnya. Kepercayaan ini bermula sejak menghilangnya banyak orang di Tarbania setelah masuk ke dalamnya.
Hantegon, kakek raja Tarbania Hantierenn, bersama lima belas orang prajuritnya menghilang setelah masuk ke dalam kastil misterius itu saat menghadapi serangan bangsa Savakk di atas bukit Hastimirr. Diceritakan waktu itu tanpa diduga sebelumnya, bangsa Savakk telah bersekutu dengan bangsa Gomerr dan menyerang pasukan Tarbania dari dua arah. Hal itu menyebabkan ia bersama para prajuritnya terdesak dan merasa perlu mendapat perlindungan di dalam sebuah kastil tak bertuan di dekat situ. Dan ajaib, begitu mereka masuk ke dalam kastil itu, seketika itu juga lenyaplah kastil itu dari pandangan semua orang di sekitarnya.
Menghilangnya para pahlawan Tarbann itu menjadi salah satu penyebab jatuhnya Tarbania ke tangan bangsa Savakk. Semua keluarga Hantegon dibunuh kecuali putri Hantegon yang sedang mengandung, dibuang ke pulau Lemin. Di sanalah Hantierenn dilahirkan. Dan tiga puluh tahun kemudian ketika bangsa Savakk mengalami kemunduran, Hantierenn kembali ke Tarbania, mengusir bangsa Savakk dari tanah itu.
***
Setelah melakukan perjalanan panjang, tibalah Argen di Medalla, ibu kota Gomeria yang terletak di bawah gunung Andecabora, tak jauh dari lokasi Ferdanoranica. Dari Tarbania ke Gomeria, ia menumpang sebuah kereta seorang pedagang Tarban. Tujuannya hanya satu : menyampaikan sebuah pesan dari gurunya kepada seorang seorang wanita yang bernama Andeverano.
Argen merasa asing dan diasingkan oleh penduduk Medalla, sebab ia tidak fasih berbahasa Gomerr. Apalagi waktu itu timbul sentimen negatif bangsa Gomerr terhadap bangsa Tarbann karena raja Tarbania ingin merebut wilayah kaki gunung Andecabora tanpa alasan yang jelas. Tetapi untunglah pedagang itu baik hati dan menjadi penerjemah bagi Argen di kota itu untuk sementara waktu.
Setelah berhasil mempertemukan Argen dengan Andeverano, pedagang itu pun pergi untuk menjalankan urusannya. Dan benar, Andeverano adalah seorang wanita setengah baya dengan rambut panjang yang berwarna putih sesuai dengan arti namanya dalam bahasa Gomerr, yang menurut cerita berambut putih sejak ia dilahirkan. Mungkin ia bisa disamakan dengan Hantierenn, raja Tarbania yang juga terlahir berambut putih. Tak disangka wanita Gomer itu sangat fasih berbahasa Tarbann, meskipun dengan logat yang terdengar aneh di telinga Argen.
Maka Andeverano membawanya ke sebuah kedai dan mereka bercakap-cakap di situ sambil menikmati Ferdanohevara, bubur sayur berwarna putih khas Gomeria. Baru kali ini Argen menikmati bubur selezat itu, yang kata Andeverano, Ferdanohevara adalah makanan para dewa, sehingga rasanya lebih lezat dari masakan apapun di dunia ini karena resepnya berasal dari Ivendara, dewa masakan bangsa Gomerr.
Selanjutnya wanita itu berkata, “Ketahuilah Argen, bangsaku dan bangsamu, adalah saudara. Jadi tak sepantasnya bangsa kita saling bersengketa. Memang bangsaku pernah bergabung dengan bangsa Savakk untuk menjajah Tarbania, tetapi itu dulu sebelum akhirnya kami tahu bahwa bangsa Savakk-lah yang telah menjajah Gomeria.”
“Aku tahu kepentingan rajamu, aku juga menghargai keinginannya untuk merebut Ferdanoranica atas dasar keyakinannya. Tetapi kami, bangsa Gomerr, percaya bahwa kastil itu adalah tempat tinggal dewa-dewa kami di dunia ini, dan kami telah mensakralkannya. Ferdanoranica dijaga ketat oleh prajurit-prajurit Gomeria. Kami hanya diperbolehkan berziarah, berdoa di depan pintunya. Tidak ada yang boleh masuk ke dalamnya, bahkan raja kami sekalipun,” kata Andeverano. “Aku harap rajamu juga menghargai kebudayaan kami.”
Argen menjawab, “Aku datang kemari bukan atas perintah raja Hantierenn, melainkan Hibernen, guruku. Bagaimana aku harus mengatakannya kepada beliau nanti? Lagipula jika misi ini selesai, raja Hantierenn berjanji tak akan merebut kastil itu lagi dan tidak akan ada lagi persengketaan antara Tarbania dan Gomeria.”
“Baiklah, akan kuusahakan sebaik-baiknya,” kata Andeverano setelah cukup lama berpikir. “Tetapi aku tidak tahu risiko yang akan kauhadapi apabila kau berhasil masuk ke dalamnya. Bukankah bangunan itu pernah beberapa kali menghilang dan berpindah tempat setelah ada orang yang masuk ke dalamnya?”
Ya. Menurut cerita yang berkembang di Tarbania, setelah menghilangnya raja Hantegon dan kelima belas prajuritnya, kastil itu muncul di tepi danau Erennoat. Beberapa orang yang tinggal di tepi danau itu takjub melihatnya dan dengan penuh penasaran masuk ke dalamnya. Kemudian mereka lenyap bersama kastil itu.
Beberapa tahun kemudian kastil itu muncul di tengah Tornen, menyebabkan kegemparan di kota kecil itu. Hantierenn yang saat itu sedang memimpin pemberontakan terhadap bangsa Savakk, mencium berita keberadaan kastil misterius itu, percaya bahwa kakeknya masih berada di dalamnya. Ia berusaha mencapainya tetapi terlambat, bangunan itu sudah berpindah tempat lagi bersama dengan orang-orang Tornen yang masuk ke dalamnya. Keberadaan kastil itu di wilayah Gomeria pascakemerdekaan Tarbania membuat ia berusaha dengan segala cara mengklaim kastil itu sebagai wilayahnya.
Argen menutup hari itu dengan bermalam di rumah Andeverano. Di situ ia berkenalan dengan seorang pria berewok gemuk bernama Sendasarra yang merupakan suami dari Andeverano. Sendasarra adalah seorang buruh tambang perak di kaki gunung Andecabora.
Andeverano dan suaminya berdua tampak bercakap dalam bahasa Gomerr. Argen hanya terdiam mendengarkan kata-kata asing yang keluar dari mulut mereka karena ia sama sekali tidak mengerti apa yang mereka berdua bicarakan. Setelah itu Andeverano berkata kepadanya bahwa suaminya mengetahui jalan pintas tercepat mencapai Ferdanoranica sebelum tengah hari, yaitu melewati pertambangan perak. Sendasarra bahkan sanggup mengantarkan Argen pergi ke sana esok hari. Dan ia mempunyai sebuah recana cemerlang yang bisa dilakukan untuk mendukung misi tersebut.
“Oh, Ves-ta-ranu,” kata Argen mencoba mengucapkan terimakasih dalam bahasa Gomerr.
“Vesta-ranu?? Yang benar 'vahistarano', Argen,” sahut Andeverano tersenyum.
“Oh, maafkan aku. Va-hista-rano, benar?” Argen membalas senyum untuk menutupi rasa malunya. Kemudian tawa kebahagiaan pun memecah di rumah kecil itu.
Keesokan harinya setelah sarapan mereka bertiga berangkat meninggalkan Medalla. Berjalan beriringan melalui jalan raya, di tengah perjalanan mereka berjumpa dengan banyak peziarah yang juga menuju Ferdanoranica untuk berdoa. Perjalanan itu normalnya ditempuh selama satu hari penuh menyusuri kaki gunung itu, yang oleh bangsa Gomerr disebut sebagai “raksasa putih”, tetapi Sendasarra mengambil jalan berbelok yang lebih berliku dan cukup terjal yang menurutnya bisa memotong setengah dari perjalanan normal.
***
Di depan mata Argen berdiri sebuah kastil megah dengan menara-menaranya yang tinggi menjulang sampai ke langit. Cukup lama Argen memanjakan matanya dengan pemandangan indah itu. Sendasarra berkata bahwa pada tengah hari, para penjaga akan beristirahat sejenak. Dan sesuai rencana yang disusun semula, Andeverano, Argen dan Sendasarra akan menyamar sebagai para peziarah yang berdoa di depan ‘rumah para dewa’ itu. Dililitkannyalah tali yang cukup panjang pada masing-masing perut mereka dan disembunyikan di balik pakaian mereka.
Dengan jantung yang berdetak kencang Argen sudah berada di depan sebuah lengkungan raksasa yang berukir indah, dengan gambar-gambar relief yang kurang jelas terlihat, cemerlang keemasan diterpa cahaya matahari. Itulah pintu masuknya. Dua orang penjaga berseragam dan berpedang berdiri tak jauh dari situ masing-masing di sudut kanan dan kiri untuk mencegah orang melewati sebuah ‘garis pembatas’ yang disebut ‘garis kesucian’.
Sudah tengah hari. Dan benar, penjaga-penjaga itu meninggalkan tempatnya berdiri untuk beristirahat, berjalan semakin menjauhi para peziarah. Sambil berpura-pura memanjatkan doa, Argen berbisik kepada Andeverano di samping kirinya dan Sendasarra di samping kanannya “Sekaranglah saatnya.”
“Kau yakin?”
Argen mengangguk. “Aku akan membawa keluar Hantegon. Aku akan keluar bersamanya.” Kemudian dengan cepat ia bertolak melintasi garis itu dan selangkah kemudian ia tiba di sebuah dunia lain.
Argen tercengang. Didepannya terhampar sebuah taman yang indah, dan entah mengapa ia merasa berpadu dengan tempat itu. Ada kebahagiaan yang tak terkira merasuk ke dalam jiwanya. Bunga-bunga indah berwarna-warni, dengan kesejukan angin semilir menebarkan aroma semerbak tercium oleh hidungnya. Kupu-kupu menari-nari di atasnya dan terdengar pula kicauan burung yang merdu oleh telinganya. Beberapa air mancur berdiri di sana sini di antara rimbunan bunga semakin menghiasi taman itu. Dan tampak sungai kecil mengalir jernih di ujung sana, dengan sebuah air terjun di sisi lain. Ini Surga. Ini benar-benar 'rumah para dewa'.
Argen berlari lebih jauh ke arah padang rumput hijau di depan sana, di mana ada sebuah istana kristal berdiri dengan kilau-kemilau. Di padang rumput itu terlihat ada sekelompok orang yang menari-nari dengan riangnya dengan iringan nyanyian akapela yang menentramkan hati. Bahkan kuda-kuda yang merumput di situ ikut riang menikmati syair dan iramanya.
Sungguh menyenangkan tinggal di sini,Negeri kebahagiaan, di mana rumput menari-nari.Cemerlang bagai permata, menghilangkan kesah di hatiDuka dan lara pergi, mari nikmati damai abadi.
Tampak seorang tua berbaju zirah Tarbania di antara yang hadir di situ, berdiri melambaikan tangannya kepada Argen, seolah mengajaknya turut serta dalam kebahagiaan mereka. Tak mampu menolak ajakannya, Argen terus melangkah dan melangkah.
***
“Kembalilah! Kau terlalu jauh,” seru Andeverano dari luar, kuatir melihat tali yang semakin lama semakin tertarik ke dalam. Tali pun semakin menegang, “Argen! Kembalilah!” Semakin lama tali itu menjerat perutnya hingga wanita itu tak kuasa menahan sakitnya. Sendasarra berusaha dengan sekuat tenaganya menarik kembali talinya, mempertahankan supaya istrinya tidak ikut tertarik masuk ke dalamnya.
Melihat ada masalah, seorang penjaga datang berlari kecil mendekati mereka dikuti oleh penjaga lainnya. Tanpa pikir panjang salah seorang penjaga itu mencabut pedangnya memutuskan tali itu.
“ARGEN!!!!”
Mendengar suara Andeverano, Argen menoleh ke belakang, tetapi ia menjawab, “Maafkan aku. Aku tidak mau kembali.” Bersama itu pula putuslah tali yang menghubungkannya dengan Andeverano.
Sekonyong-konyong bangunan megah itu lenyap dari tempatnya berdiri. Para penjaga, serta para peziarah berdiri termangu-mangu, kebingungan melihat peristiwa itu. Tiada lagi kastil megah untuk dijaga. Tiada lagi “rumah para dewa” untuk diziarahi.
Wanita berambut putih itu berlutut menangis, meratapi Argen yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri, yang datang dan pergi begitu saja. Kakinya lemas dan perutnya sakit. Rambutnya yang putih panjang itu terurai hingga menyentuh tanah, menampung air mata yang tertumpah dari kedua matanya. Ia menyesal telah membawa Argen ke Ferdanoranica. Sendasarra berusaha menenangkannya dengan memberikan pelukan kepadanya. Hiburnya kepada istrinya, “Ia sudah memilih jalannya sendiri.”
___________________________________________________________
Cerpen ini diikutkan dalam Lomba Cerita Bulanan Kastil Fantasi (Februari ’12)
(http://www.goodreads.com/topic/show/803736-lomba-cerbul-kasfan-feb-12?format=html&type=topic#comment_46003005)
FERDANORANICA
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment