MALAM SAMHAIN

Malam semakin larut. Tak seperti malam-malam sebelumnya, malam ini api unggun banyak dinyalakan ruang-ruang terbuka dan banyak orang tua-muda ramai berkumpul di sekitarnya sambil memakai pakaian-pakaian aneh. Suara sorak-sorai membahana di seluruh penjuru Republik Irlandia. Mereka merayakan Malam Samhain, malam akhir musim gugur, hari terakhir mereka menikmati kehangatan, karena mulai esok hari, bulan Samhain, mereka memasuki musim dingin yang harus mereka jalani dengan sedikit sentuhan cahaya matahari.

Tak terkecuali Castleboy, sebuah kampung tradisional yang berada di sebelah tenggara Bukit Teamhair, County Meath, Provinsi Leinster, yang meskipun hanya berdiri lima buah rumah dengan hanya belasan orang penduduk saja, Malam Samhain juga dirayakan secara sederhana namun meriah di sebuah tanah lapang. Mereka mengikuti beberapa permainan tradisional seperti memungut apel dari ember berisi air dengan menggunakan mulut, menebak nasib melalui roti barmbrack, atau hanya berdiang di sekitar api unggun saja.

“Ayo, James, kamu bisa!!!” teriak seorang wanita tua bertubuh besar berpakaian ala nenek sihir. Sambil memegangi topi kerucutnya yang hampir lepas karena tertiup angin malam, ia menyemangati seorang pria berambut putih yang sedang mengikuti lomba memungut apel di tengah sorak-sorai penonton lainnya.

“Marya, jangan kalah! Pamanmu mendukungmu!” balas seorang pria tua di seberangnya tak kalah menyemangati keponakannya. Sang paman tampak berbalut jas hijau, berdandan ala leprechaun. Dengan mengempit topi hijaunya, ia terus menerus mengulangi kalimat yang sama.

Gadis yang bernama Marya itu semakin terpacu mendengar kata-kata pamannya. Semakin cepat ia memunguti apel-apel yang mengapung di atas permukaan air yang terdapat pada bak kayu berukuran cukup besar. Akan tetapi ia masih tertinggal jauh dari James dan seorang remaja laki-laki yang menjadi pesaing beratnya.

“Ayo, Nico, tinggal satu lagi.... Yeahhh!!!!” terdengar sorak sorai dari sebuah keluarga. Lomba berakhir dengan kemenangan seorang remaja bernama Nico. Ayah, ibu dan abangnya yang kompak memakai kostum zombie segera memeluknya dengan gembira. Meskipun kalah, kedua peserta lain tampak ikut bersuka cita. Demikian pula dengan seluruh warga kampung Castleboy yang menonton lomba itu juga bergembira. Juara tahun lalu, yaitu pria tua yang bernama James, menggendong remaja itu di atas bahunya dan bersama dengan beberapa orang warga pria mengelu-elukan sang pemenang dengan berlari mengitari api unggun.

“Perhatian!” kata seorang pria yang merupakan kepala kampung itu di depan api unggun memecah keramaian. Ditemani anaknya yang masih berusia setahun di gendongan tangannya, ia berseru, “Untuk lomba memungut apel ini, pemenangnya adalah... Nicholas Devine.”

“Yeaaahh,” sambut yang lain dengan gegap gempita.

***

Sementara itu, tanpa disadari ada dua sosok wanita bergaun kelabu berdiri tidak terlalu jauh dari api unggun berada. Kontras dengan para penduduk yang merayakan Malam Samhain, tak ada nuansa kegembiraan pada kedua sosok ini. Dalam kegelapan keduanya berjalan menyusuri sebuah padang rumput di timur Bukit Teamhair, hanya cahaya bulan benjol serta bintang-bintang di langit saja yang memandu jalan mereka.

“Aku sudah tak tahan lagi, kakak. Aku menginginkan mereka,” bisik salah satunya tiba-tiba menghentikan langkah. Pandangan wanita itu mengarah ke timur di mana ada api unggun menyala yang di sekitarnya terlihat ada beberapa orang sedang bergembira merayakan Malam Samhain.

“Vlaluua, sudah gila kau rupanya,” sergah sang kakak.”Bukankah kita sudah berjanji tidak akan mengganggu manusia lagi dan kembali ke dunia kita? Lagi pula kita harus segera ke bukit itu sebelum fajar tiba.”

“Tapi, aku sudah tidak kuat lagi, kakak. Aku sangat membutuhkan sisa usia bayi-bayi manusia dan anak-anak muda itu untuk menambah tenagaku,” potongnya. “Jangan halangi aku. Biarkan aku mengisi kembali tenagaku.”

Vlaluua segera mengambil langkah seribu. Kakaknya gagal menangkapnya ketika ia bertolak.

“Vlaluua! Tunggu! Kau tidak boleh melakukannya. Ada banyak Fian di sini! Kau bisa celaka!”

“Fian?” Ia berhenti sejenak, dan kakaknya berhasil menangkap lengan kanannya. “Aku tidak percaya adanya Fian. Aku hanya butuh usia mereka! Lepaskan aku, kakak! Biarkanlah aku menanggung sendiri risiko atas perbuatanku ini. Jika memang ada seorang Fian menangkapku atau membunuhku, biarlah itu terjadi, dan kau tidak usah terlibat di dalamnya.”

“Vlaluua!”

“Aku sudah bosan bersamamu, Rheeakan. Aku bosan menjadi adikmu. Aku ingin menuruti kata hatiku sendiri. Biarkanlah aku memilih untuk tidak kembali ke dunia kita. Jika kau ingin ke sana, pergilah sendiri ke sana sekarang sebelum gerbangnya tertutup.”

“Vlaluua! Enam tahun kita bersama, kau sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Dan kini kau mengecewakanku. Bertahun-tahun bersama kita telah melakukan perjalanan untuk menuju Bukit Teamhair, tetapi ketika bukit itu sudah di depan mata, kau...”

“Tutup mulutmu, Rheeakan dan pergilah dari hadapanku! Demi aku, pergilah!”

“Baiklah, jika itu memang keputusanmu. Semoga kau baik-baik saja dan kita akan berjumpa lagi. Selamat tinggal.” Rheeakan perlahan melangkah mundur, dengan rasa terpaksa dan penuh kekecewaan ia menjauh dari tempat Vlaluua berdiri, ke arah Bukit Teamhair sementara Vlaluua bergeming menatap ke arah kampung itu.

***

“Nyanyian yang sangat merdu, dari mana asalnya?” Hampir bersamaan dua orang remaja kakak beradik berdiri dari duduknya menghentikan kunyahan roti barmbrack mereka.

“Kau juga mendengarnya, Eugene?” tanya sang adik. “Bahasa apa itu?”

“Suara apa? Ada-ada saja kalian ini... Paling hanya suara angin malam. Biasa terjadi dini hari seperti ini. Hahaha.” Seorang pria berkumis yang juga tengah memakan sebuah barmbrack mengomentari percakapan kedua kakak beradik itu.

“Iya, benar kata Chris. Ayo, habiskan roti kalian dan lihat apa kalian mendapat kacang, potongan kain, koin atau cincin di dalamnya!” kata wanita berkostum nenek sihir. Kau mendapatkan apa, Chris?”

“Cincin??? Hahaha... apakah artinya aku akan menikah lagi?” katanya sambil tersenyum nakal kepada istrinya di samping kanannya yang sedang memangku kedua anak kecilnya.

“Tapi suaranya semakin jelas, sangat merdu...” Sang adik meletakkan barmbrack-nya yang baru termakan setengah itu, dengan sebuah potongan kain terlihat terselip di dalamnya.

“Ya, benar, Nick, suara seorang wanita.”

“Tutup telinga kalian! Jangan dengarkan suara itu! Itu suara Bean Sidhe!” Tiba-tiba James berteriak dari seberang sana membuat suasana yang ramai itu menjadi hening. Ia lalu mendapati keduanya tengah terpesona dengan pandangan kosong.

“Bean Sidhe? Kau masih percaya takhayul seperti itu, James?” sahut Chris sambil mengamati cincin yang diperolehnya dari rotinya. “Apa kau bisa mendengarnya juga?”

“Tidak, tapi tolong siapapun yang mendengar suara seperti nyanyian merdu, tutup telinga kalian, sebab itu adalah lagu kematian bagi yang mendengarnya.”

“Kau gila, James! Jadi kau mengharapkan anak-anakku mati muda?” Ayah kedua remaja itu naik pitam mendengar kata-kata James. Di sampingnya, istrinya mendekap erat tangannya.

“Oh, jangan salah paham. Michael. Justru aku tidak ingin anak-anakmu mati muda, oleh karena itu aku menyuruh mereka menutup telinganya masing-masing. Sebab di kampung halamanku di Dublin, aku pernah kehilangan seorang sahabatku yang meninggal tanpa sebab setelah ia mendengar sebuah nyanyian di mana hanya ia yang bisa mendengarnya. Eugene, Nicholas, tutup telinga kalian rapat-rapat!”

“Kau terlalu banyak bicara, James!” sebuah tinju hampir dilepaskan ke arah James tetapi ditahan oleh beberapa orang laki-laki. Suasana yang damai dan penuh kekeluargaan itu pun berubah menjadi kerusuhan. Kedua pria itu pun segera dilerai dan dipisahkan.

“Tunggu! Marya keponakanku juga mendengarnya, ”seru pria tua berkostum leprechaun yang sejak tadi bersama keponakannya berdiang di dekat api unggun.

“Tutup telinganya, Richard!” seru James dari kejauhan.

“Tidak, Richard. Kita tidak boleh percaya hal-hal takhayul seperti itu. Bean Sidhe tidak ada,” balas Michael Devine. “Tidak ada buktinya.”

“Paman, aku melihatnya,” sahut Marya. “Ia yang menyanyikan nyanyian merdu ini... seorang wanita yang sangat cantik, seperti almarhumah ibu di ujung sana. Rambutnya panjang keemasan berkibar-kibar diterpa angin.” Marya menunjuk kejauhan sebuah titik yang gelap, di bawah bukit Teamhair.

“Celaka! Ada empat orang bayi di sini,” gumam James. “Chris, Phil, tutup telinga bayi-bayi kalian, jangan sampai bayi-bayi kalian juga mendengarnya!”

Christopher dan Phillip beserta istrinya masing-masing merasa bingung apakah harus melakukan perintah James. Sebagai kepala kampung Castleboy sebenarnya Phillip tidak mau warganya saling bertengkar karena hal yang tidak penting seperti ini.

“Apa-apaan lagi ini?” ujar Michael Devine sambil memeluk anak bungsunya yang berusia 17 tahun. “James sungguh kacau malam ini.”

“Chris, Phil, apa yang kalian tunggu? Cepat tutup telinga mereka!”

“Oke, Tuan Cosgrave! Kami akan menutup telinga bayi-bayi kami tetapi setelah kau pulang ke rumah Mary Graham,” Phillip merasa hal itu perlu dilakukan demi menjaga ketentraman kampungnya. “William, John, tolong antar kawan kalian ini pulang!”

Terpaksa James mengalah. Ia merasa tak sanggup lagi mencegah hal-hal buruk yang mungkin terjadi nanti. Tetapi belum selangkah mereka tapakkan, terdengar keluhan dari mulut Pak Tua Richard Wilkinson.

“Marya? Apa yang terjadi padamu?” Marya jatuh tergeletak tak sadarkan diri di pangkuan pamannya. Dan satu per satu, dua bersaudara Devine juga menjadi lemah tak berdaya.

“Gene! Nico! Apa yang terjadi padamu? Tidaaak!!” jerit sang ibu.

“Panggilkan ambulans! Tolong! Demi mereka...”

James dan kawan-kawannya menghambur menolong anak-anak itu. William dan John menolong keluarga Devine, sedangkan James berlari ke arah Pak Tua Richard.

“Untuk sementara bawa masuk ke rumah masing-masing!”

“Apakah dia sudah..?”

“Berdoa saja, Pak Tua, semoga tidak ada yang buruk terjadi pada keponakanmu.”

***

Kegembiraan Malam Samhain di kampung Castleboy berubah menjadi teror dan kesedihan yang sangat mendalam pada setiap keluarga. Tiga anak muda meninggal secara misterius dalam waktu yang hampir bersamaan.

Aliran-aliran energi ‘sisa usia’mengalir memenuhi tubuh sesosok kelabu di atas padang rumput di sebelah barat Castleboy. Perlahan tubuhnya yang semula lemah berubah menjadi kuat dan wajahnya yang sayu itu menjadi berseri-seri.

“Kurang sedikit... sedikit lagi..., tinggal bayi-bayi itu saja..”

“AWAAAS!!” Sebuah tubuh menerjang sosok kelabu itu dari belakang, hingga mengakibatkan ia terdorong ke samping kanan dan terguling di atas rerumputan.

“Rheeakan? Berani-beraninya kau mengacaukan ritualku...”

“Ssst!!! AWAAAS!!” Rheaakan mendorongnya lagi hingga berguling satu meter lagi ke samping kanan.

ZZZZBB

ZZZZBB

“Apa itu?”

“Ayo! Cepat lari dari tempat ini! Seorang Fian hampir menombakmu dengan tombak-tombak sihir”

“AWAAS!! MERUNDUUUK!”

ZZZZBB

“Rheeakan! Kakimu...” Sebuah tombak Fian berhasil tertancap pada betis kanan Rheeakan menembus ke tanah menghalangi langkahnya.

“Pergilah, Vlaluua! Cepat pergi ke Bukit Teamhair! Jangan hiraukan aku! Sebentar lagi fajar menyingsing.”

“Tidak! Aku tidak mungkin meninggalkanmu seperti...,”

ZZZZBB

ZZZZBB

“Aargh” Dua buah tombak hampir mengenai tubuh Vlaluua, beruntung dengan refleks ia segera berjangkit menghindarinya. Tetapi salah satunya menancap di punggung Rheeakan menembus juga sampai ke tanah membuatnya terpaku di atas tanah. “Demi aku, pergilah! Percayalah kita akan bertemu lagi!”

“Maafkan... aku.” Vlaluua merasa sedih. Ia merasa sangat menyesal karena kesalahan yang telah dilakukannya beberapa waktu yang lalu terhadap Rheeakan. Sebuah perbuatan sangat bodoh yang ia lakukan. Dan ia berharap waktu akan beputar kembali ke tempat di mana ia belm melakukan perbuatan bodoh itu. Kemudian ia pun segera pergi dari tempat itu

“Ya, aku memaafkanmu. Sebab kau tetaplah adikku, meskipun kau tidak menganggapku lagi sebagai kakakmu,” katanya sambil tersenyum.

***

Rheeakan tertinggal sendiri. Ia hanya menunggu saat kematiannya saja dengan cepat di tangan Fian atau dengan lambat ketika cahaya matahari terbit melenyapkan tubuhnya tak bersisa beberapa jam lagi.

Seorang Fian mendekatinya dari belakang tanpa suara. Diterangi sebuah obor pada tangan kirinya, ia meyakinkan dirinya akan makhluk yang ditombaknya. “Cuma satu?” gumamnya.

“Tuan, hanya aku.. yang ada di sini.. sejak tadi. Maafkan aku... Akulah... yang membuat... kekacauan... di kampung... di bawah sana...” kata Rheeakan terbata-bata menahan sakit di tubuhnya demi menutupi keberadaan adiknya.

“Kau pikir aku bisa kaubodohi?” tanggap sang Fian. Tubuhnya tinggi dan tegap, cukup tampan dengan cambang panjang menyatu dengan jenggotnya yang pendek. “Bean Sidhe tidak mampu berbahasa Gael, mereka hanya mampu menyanyikan nyanyian merdu dengan bahasanya sendiri.” Sang Fian mendekati Rheeakan. “Berarti kau adalah Leanan Sidhe, pelahap cinta? Sayang sekali aku bukan seniman yang membutuhkan inspirasi untuk ditukarkan dengan cinta sehingga kau tidak bisa menjadikanku sebagai korban.”

“Benar...katamu..., tapi... sekarang... nasibku.... berada... di... tanganmu. Aku--lah... korban--mu.” Rheeakan menangis, “Aku.. hanya.. memohon... kepadamu.. supaya.. setelah... aku mati... nanti... kau.. tidak memburu... kaumku.. lagi...”

“Huhh.. berani-beraninya kau menyuruh-nyuruhku ini itu!!” Sang Fian mendengus-dengus membaui daerah sekitarnya. “Sepertinya kau berusaha membodohiku lagi.” Matanya tiba-tiba memancar seperti kilat, menerawang daerah di barat sana, bukit Teamhair. “Ada Aes Sidhe lain selain dirimu di sekitar sini. Aku harus me..”

“Jangan,”teriak Rheeakan panik. “Kumohon.., Tuan.., Bean Sidhe... itu... adalah... adikku. Janganlah... kau... menghalanginya... untuk menuju... Gerbang..., sebab.. ia akan pulang... ke negerinya..., dan tidak akan... berkeliaran... lagi... di dunia ini.... Aku berani... menjaminnya.”

“Kau pikir aku percaya kepadamu lagi? Kau hanya menahanku dan membuatku berlama-lama di sini untuk menyelamatkannya? Tidak akan. Aku akan pergi memburu semua Aes Sidhe di mana pun mereka berada, dan membunuh semua kaummu yang berkeliaran di dunia ini.”

“Lalu... sebenarnya.. apa.. yang kau.. harapkan.. dengan memburu.. kami.. Tidakkah bisa.. kaummu dan kaumku hidup.... berdampingan... dengan damai,... penuh cinta.... dan kasih sayang,... saling membutuhkan...? Dahulu... memang... nenek moyang kami... sangat sombong... dan merasa diri... seperti dewa... tetapi nenek moyangmu... telah menaklukkan... mereka... sehingga mereka... harus menyingkir... ke dunia lain.... Akankah kau... mengakhiri... hidupku... dan kaumku... seperti Fionn... yang telah membunuh... Aillen... yang dahulu pernah... membakar... bukit itu?” kata Rheeakan memandang jauh ke bukit Teamhair.

“Itu bukan urusanku,” sahut sang Fian dingin. “Yang pasti, bersama dengan para Druid, para Fian harus ada tidak hanya melindungi Teamhair tetapi juga untuk melindungi seluruh Irlandia dari para Aes Sidhe yang terkutuk. Kaummu itu harus dibinasakan karena sering membuat sengsara para manusia.” Setalah itu pergilah ia meninggalkan Rheeaka seorang diri ke arah bukit Teamhair.

***

Adapun Vlaluua menyusuri bukit Teamhair yang landai dan luas itu. Kabut mulai turun membuat pandangannya semakin kabur. Mamang, sebagai makhluk malam, sesosok Aes Sidhe seperti dirinya mampu berjalan dalam keadaan miskin penerangan, tetapi terkadang kabut bisa mengganggu penglihatannya. Dengan langkah sempoyongan akhirnya sosok kelabu itu tiba di sebuah monumen batu setinggi satu meter dan duduk bersandar padanya, setelah berputar-putar tanpa hasil di area bukit itu mencari di mana gerbang menuju dunianya berada.

Tubuhnya mulai lelah dan ia butuh 'sisa usia' manusia lagi untuk mengisi tenaganya, tetapi tidak ada seorang manusia pun di bukit itu. Bukit itu kosong, setiap hari hanya digunakan sebagai tempat menggembalakan domba masyarakat sekitarnya. Sementara beberapa jam lagi fajar menyingsing. Ia menangis. “Tidak. Aku tak boleh mengecewakan Rheeakan. Aku tak boleh..” Hanya suara sesenggukannyalah yang memenuhi ruang terbuka itu. Rheeakan, “maafkan aku..”

Kemudian tiba-tiba ia tersentak. Seolah-olah tumbuh sebuah tunas harapan baru, ia bersorak dalam hati. Batu ini. Batu dari Falias, Batu Takdir. Pasti batu ini bisa memberiku pesan tentang di mana letak Gerbang itu . Dan benar setelah Vlaluua merapal sebuah mantra, dari permukaan batu itu berpendar sebuah tulisan dalam bahasa Aes Sidhe, yang terukir dengan aksara Ogham berbunyi :

Gerbang sudah lama ditutup. Tidak ada ruang lagi untuk Aes Sidhe. Nasib mereka di tangan Fianna. 

Mengetahui hal itu, pupuslah sudah asa Vlaluua untuk kembali ke dunianya. Bersamaan dengan pudarnya pendaran cahaya Batu Takdir itu, ia pun tidak tahu lagi harus berbuat apa. Tiada lagi kawan untuk berbagi pikiran. Ia sangat kesepian.

ZZZZBB

ZZZZBB

ZZZZBB

ZZZZBB

Ternyata nasib baik masih jauh darinya. Dua buah tombak sihir tertancap di sebelah kanannya dan dua lagi di sebelah kirinya cukup membuatnya tersentak kaget. Ada Fian yang mengetahui keberadaanya dan menyerangnya dengan tombak sihir. Panik, ia bersembunyi pada sisi lain Batu Takdir. Suara ringkikan dan derapan kaki seekor kuda yang semakin lama semakin jelas dari balik batu itu. Apakah ia orang yang sama dengan orang yang menangkap Rheeakan? Dengan sangat ketakutan, Vlaluua semakin melekatkan dirinya pada Batu itu.

ZZZZBB

ZZZZBB

Dua buah tombak menancap lagi di permukaan tanah di depannya membuatnya semakin terperanjat. Kali ini ada tiga buah sosok membawa obor api muncul dari kegelapan dari hadapannya, mengendarai kuda masing-masing dari arah depan, samping kanan dan samping kirinya. Astaga, mereka mengepungku.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Cerpen ini diikutkan dalam Lomba Cerita Bulanan Kastil Fantasi (Oktober'12)
http://www.goodreads.com/topic/show/1064761-lomba-cerbul-kasfan-oktober-12#comment_61352395

No comments:

Post a Comment